Jurnalis Dilarang Liput Rapat Tambang Ilegal di Parimo, PFI Palu: Ini Penghalangan Kerja Jurnalistik
Sikap pemerintah daerah itu dinilai sebagai bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik dan pembatasan hak publik untuk memperoleh informasi.
Sikap pemerintah daerah itu dinilai sebagai bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik dan pembatasan hak publik untuk memperoleh informasi.
Kota Palu kini menghadapi dua ancaman lingkungan yang saling terkait. Dalam setahun terakhir, kualitas tutupan lahan turun drastis, sementara tren kenaikan suhu terus terjadi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang hijau bukan lagi pelengkap kota, melainkan penentu masa depan ekologisnya.
Hingga tahun 2023 tercatat terdapat empat daerah di Sulawesi Tengah yang pernah mengalami rekor kenaikan suhu. Perubahan iklim yang menuju krisis, nyata.
“Mosangulara Mombangu Ngapa.” Kalimat dalam Bahasa Kaili itu bergema di malam pembukaan Festival 1000 Baki Salama Talise Valangguni, Kamis (16/10/2025) malam. Artinya sederhana namun dalam: menyatu dalam hamparan baki. Inilah filosofi yang mendasari tradisi unik ini—sebuah pesta rakyat yang telah menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Talise Valangguni.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak 2021 produksi kopi di kabupaten ini relatif stabil, rata-rata mencapai 500 ribu ton per tahun, dengan luas lahan mencapai 3.106 hektare. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di lima kecamatan.
Enam tahun setelah gelombang besar melanda, Teluk Palu tidak lagi sama. Air laut makin keruh, garis pantai bergeser, dan bau limbah kerap tercium di pagi hari. Di beberapa titik, tumpukan sampah plastik mengambang di antara ombak kecil. Revitalisasi pesisir memang berjalan, tapi di sisi lain, kerusakan lingkungan seperti tumbuh diam-diam di balik tembok proyek.
Pengukuran kualitas udara yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri pada Sabtu (11/10/2025) mencatat, kadar PM10 sebesar 65 µg/m³ atau dalam kategori “Sedang”, sedangkan nilai PM2.5 tercatat mencapai 67 µg/m³ atau masuk kategori “Tidak Sehat”.
Hujan deras yang mengguyur Kota Palu selama lima jam pada 25 April 2025 silam memicu banjir bandang di enam titik sekaligus. Air Sungai Palu meluap, menyeret dua rumah dan merusak empat kos-kosan di wilayah Mantikulore, Palu Barat, dan Ulujadi. Ratusan warga terdampak. Bahkan, Rumah Sakit Undata sempat terendam.
Kesadaran kolektif ini muncul di tengah situasi yang mendesak. Timbulan sampah plastik sekali pakai di Kota Palu berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu terbilang besar bahkan mencapai 10 persen dari total timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 150 ton.
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan masyarakat Kota Palu saat ini. Peningkatan suhu udara, fluktuasi curah hujan ekstrem, dan tekanan terhadap kualitas lingkungan menciptakan risiko kesehatan yang semakin nyata, terutama bagi masyarakat di pemukiman padat dan kawasan industri.