Suasana siang hari di pesisir Palu, di tengah suhu tinggi. (Foto: Heri/rindang.ID)

Dua Kematian dalam Dua Pekan Jadi Alarm, Ahli Desak Heatstroke Masuk Prioritas Kesehatan Publik

JAKARTA, rindang.ID | Dua kasus kematian yang diduga akibat heatstroke dalam kurun waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026 menjadi alarm bahwa paparan panas tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan cuaca semata.

Hal itu mengemuka dalam webinar SehatKita yang digelar oleh Yayasan Suara Sains Terbuka Indonesia pada 9 Juli 2026.

Tren peningkatan suhu akibat perubahan iklim dan fenomena El Niño membuat para ahli mendesak pemerintah memperkuat sistem peringatan dini, edukasi kesehatan, serta kebijakan adaptasi untuk melindungi masyarakat dari risiko heat stress dan heatstroke.

Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sedangkan korban kedua adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes). Kedua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa paparan panas telah menjadi ancaman kesehatan yang nyata, namun masih minim disadari masyarakat maupun belum menjadi perhatian serius dalam kebijakan kesehatan publik.

Heat stress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, dan aktivitas fisik.

Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heatstroke, yakni keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital. Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ bahkan kematian.

Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat Celsius atau sekitar 0,5 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991–2020. Meski tampak kecil, kenaikan tersebut dinilai cukup meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan tinggi dan aktivitas di luar ruangan.

Fenomena El Niño yang diperkirakan menguat juga berpotensi membuat hari-hari panas semakin sering terjadi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa Indonesia memang kecil kemungkinannya mengalami gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika karena karakteristik atmosfer dan pengaruh laut di wilayah kepulauan.

“Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,” kata Ardhasena.

Meski demikian, BMKG mencatat tren pemanasan di Indonesia terus meningkat sekitar 0,13–0,14 derajat Celsius setiap dekade. Juni 2026 bahkan tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991–2020.

Kondisi tersebut diperkirakan semakin diperparah oleh El Niño yang berpotensi berkembang hingga kategori kuat, sehingga meningkatkan risiko kekeringan, suhu tinggi, heatstroke, penurunan kualitas udara, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Ardhasena, ancaman utama bagi Indonesia bukanlah gelombang panas seperti di negara-negara subtropis, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus disertai kelembapan udara yang tinggi.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG kini tengah mengembangkan sistem peringatan dini panas ekstrem yang menggabungkan indikator suhu udara, kelembapan, kecepatan angin, serta radiasi matahari untuk memberikan informasi risiko kesehatan kepada masyarakat, khususnya mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

Sementara itu, Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. dr. Herawati Sudoyo, menegaskan bahwa peningkatan suhu harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat, bukan sekadar persoalan cuaca.

“Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini,” ujar Herawati.

Dia menjelaskan, ketika suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat. Namun apabila mekanisme tersebut gagal, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.

Gejala awal heat stress meliputi keringat berlebih, kelelahan, kram otot, pusing, dan dehidrasi. Jika paparan panas terus berlangsung hingga suhu inti tubuh melampaui 40 derajat Celsius, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heatstroke yang menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, dan ginjal akibat respons peradangan sistemik.

Paparan panas juga dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan, hingga menyebabkan kerusakan otak permanen pada kasus yang berat.

Menurut Herawati, literasi kesehatan menjadi benteng pertama dalam mencegah dampak buruk suhu panas.

“Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” katanya.

Selain faktor kesehatan individu, para ahli juga menyoroti pentingnya lingkungan perkotaan dalam menentukan tingkat paparan panas. Executive Director Rujak Center for Urban Studies, Elisa Sutanudjaja, mengatakan fenomena urban heat island atau pulau panas perkotaan menyebabkan suhu di kota menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya akibat dominasi beton, aspal, dan minimnya ruang terbuka hijau.

“Salah satu fenomena yang mendorong peningkatan suhu adalah urban heat island yang memang spesifik terjadi di kawasan perkotaan. Fenomena ini muncul akibat ekspansi kota yang ditandai dengan penggunaan material bangunan yang menyerap dan memantulkan panas, sehingga suhu meningkat. Di saat yang bersamaan, kondisi tersebut juga memperlambat aliran angin,” jelas Elisa.

Menurut Elisa, adaptasi terhadap suhu panas tidak cukup dibebankan kepada individu. Pemerintah perlu mendorong desain bangunan yang lebih responsif terhadap iklim melalui penerapan passive cooling, penggunaan material yang tidak menyerap panas berlebihan, serta memperbanyak vegetasi dan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan.

Langkah-langkah tersebut diyakini mampu menurunkan suhu lingkungan sekaligus mengurangi risiko kesehatan akibat paparan panas.

Para narasumber sepakat bahwa meningkatnya suhu akibat perubahan iklim memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor. Selain memperkuat literasi kesehatan masyarakat, Indonesia juga membutuhkan sistem peringatan dini yang efektif dan perencanaan kota yang lebih adaptif agar dampak kesehatan akibat suhu yang terus meningkat dapat diminimalkan.

Dua kematian yang terjadi dalam waktu singkat itu menjadi pengingat bahwa ancaman panas ekstrem sudah berada di depan mata dan memerlukan respons yang lebih serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top