Sulawesi Tengah Siapkan REDD+ yang Inklusif untuk Dukung Target NDC Nasional
GEDSI menjadi instrumen penting dalam menganalisis berbagai tantangan maupun peluang pengelolaan hutan dan lahan di Sulawesi Tengah.
GEDSI menjadi instrumen penting dalam menganalisis berbagai tantangan maupun peluang pengelolaan hutan dan lahan di Sulawesi Tengah.
Kenaikan emisi tersebut beriringan dengan tren peningkatan suhu udara. Berdasarkan catatan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, data historis 1976–2020 di Kota Palu, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,0252 derajat Celsius setiap tahun.
Jumlah itu merupakan serapan sejak Januari hingga 24 Juni 2026 dan ditargetkan terus bertambah bahkan dapat melebihi target.
Dalam beberapa tahun terakhir, wajah kejahatan kehutanan semakin rumit dengan melibatkan pertambangan emas tanpa izin (PETI), perambahan kawasan, perdagangan satwa liar, hingga praktik pemalsuan dokumen dan dugaan pencucian uang.
Selama ini perhatian publik banyak tertuju pada Sesar Palu-Koro, padahal gempa terbaru menunjukkan sesar lain seperti Sausu juga mampu menghasilkan guncangan kuat yang dirasakan hingga Palu dan Sigi.
Ketika Alam Menjadi Benteng Pertama dan Kesadaran Jadi Pertahanan Terakhir
BMKG memprediksi puncak musim kemarau Indonesia terjadi pada Juli-September 2026 dengan distribusi geografis yang berbeda di setiap bulan.
Dalam setahun, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Palu mencapai sekitar 71.167,52 ton. Angka tersebut menunjukkan tingginya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan hingga pemrosesan akhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Capaian Sulawesi Tengah juga menjadi bagian dari keberhasilan nasional. Secara nasional, hingga 3 Juni 2026, Bulog telah menyerap 3.008.626 ton gabah dan beras petani setara beras atau sekitar 75 persen dari target pengadaan tahun 2026 sebesar 4 juta ton.
Untuk memperkuat serapan, Bulog Sulteng terus memperluas jaringan kemitraan di sejumlah sentra produksi.