Petani menggarap sawah di Kelurahan Poboya, Kota Palu. (Foto: Heri/rindang.ID)

Sudah 5.342 Hektare Sawah Terdampak Kekeringan di Sulteng

PALU, rindang.ID | Kekeringan mulai menunjukkan dampak serius terhadap sektor pertanian di Sulawesi Tengah. Hingga 28 Agustus 2026, sedikitnya 5.342,5 hektare (ha) lahan sawah tercatat terdampak kekeringan.

Berdasarkan laporan BPBD Sulteng dalam pendataan desa terdampak Karhutla dan kekeringan, menunjukkan dampak kekeringan paling besar terkonsentrasi di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Banggai, sementara Banggai Kepulauan dan Toli-Toli melaporkan sejumlah desa terdampak tanpa mencantumkan luasan lahan.

Parigi Moutong menjadi wilayah dengan dampak terbesar, mencapai 4.100 ha sawah. Kekeringan terjadi dalam dua periode, yakni Januari dan Agustus.

Pada 28 Januari 2026, kekeringan melanda Kotaraya Timur, Kotaraya Tenggara, Kotaraya Selatan, dan Lambunu. Masing-masing wilayah mencatat 750 ha sawah terdampak atau total sekitar 3.000 ha.

Gelombang kedua terjadi pada Agustus. Pada 21 Agustus, kekeringan melanda sembilan wilayah dengan total 900 ha sawah. Empat hari kemudian, tiga desa kembali terdampak dengan total sekitar 200 ha.

Selain sawah, kekeringan di Parigi Moutong pada Agustus juga dilaporkan berdampak terhadap sekitar 535 ha lahan perkebunan.

Sementara itu, Kabupaten Banggai mencatat 1.242,5 ha sawah terdampak. Kejadian berlangsung serentak pada 25 Januari di 17 desa. Masing-masing desa dalam laporan tersebut tercatat mengalami dampak seluas 77,65 ha.

Jika dilihat berdasarkan waktu, data memperlihatkan pola dua puncak kekeringan atau dual-peak. Puncak pertama terjadi pada Januari dengan total 4.242,5 ha sawah terdampak. Setelah itu, tidak terdapat laporan kekeringan yang terukur secara kuantitatif sepanjang Februari hingga Juli.

Gelombang kedua muncul pada Agustus. Selain kembali menghantam lahan sawah di Parigi Moutong, kekeringan mulai menunjukkan dampak yang lebih beragam, termasuk pada lahan perkebunan dan krisis air di sejumlah desa.

Di Banggai Kepulauan, kekeringan pada 10 Agustus dilaporkan melanda 10 desa, antara lain Alul, Sosom, Toolon, Montomisan, Momotan, Pipilogot Paipaisu, Palabatu 1, Mangais, Unu, dan Buluni. Namun, laporan tersebut belum mencantumkan luas lahan yang terdampak.

Kondisi serupa terjadi di Toli-Toli, dengan laporan kekeringan pada 8–16 Agustus yang menyebar di delapan desa, yakni Buntuna, Tambun, Teluk Jaya, Lampasio, Sibaluton, Nalu, Tende, dan Dadakitan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa kekeringan di Sulteng tidak hanya perlu dilihat dari akumulasi luasan lahan terdampak, tetapi juga dari sebaran desa, waktu kejadian, serta perluasan dampaknya dari sawah ke perkebunan dan kebutuhan air masyarakat.

Dengan adanya laporan dampak di sejumlah wilayah yang belum disertai luasan, angka 5.342,5 ha juga perlu dibaca sebagai luasan yang telah terkuantifikasi, bukan keseluruhan dampak kekeringan di Sulawesi Tengah.

Data ini sekaligus menjadi peringatan bahwa kekeringan dapat kembali meningkat setelah periode tanpa laporan, sehingga pemantauan ketersediaan air, kondisi irigasi, dan kerentanan lahan pertanian perlu diperkuat menjelang puncak musim kering.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top