PALU, rindang.ID | Kualitas udara di Kota Palu menunjukkan tren memburuk dalam beberapa hari terakhir. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 yang sebelumnya berada pada level 70–79 mikrogram per meter kubik (µg/m³), pada Rabu (2/9/2026) melonjak hingga 110 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.
Data pemantauan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, menunjukkan peningkatan konsentrasi partikulat yang tajam.
Pada Sabtu (29/8), PM2.5 tercatat 70 µg/m³, PM10 71 µg/m³, sementara PM1 mencapai 65 µg/m³. Dua hari kemudian, Senin (31/8), PM2.5 masih berada pada angka 66 µg/m³ dengan PM10 68 µg/m³.
Kondisi kemudian meningkat pada Selasa (1/9). PM2.5 mencapai 79 µg/m³, PM10 80 µg/m³ dan PM1 76 µg/m³.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada Rabu (2/9). PM1 mencapai 104 µg/m³, PM2.5 110 µg/m³, dan PM10 106 µg/m³. PM2.5 dan PM10 sama-sama masuk kategori tidak sehat.
Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, menyebut hasil pemantauan pada Rabu merupakan kondisi terburuk yang mereka temukan dalam periode pemantauan tersebut, bahkan disebut sebagai rekor terburuk.
Menurut Asep, memburuknya kualitas udara tidak dapat dilepaskan dari kondisi musim kering yang membuat debu dan partikulat lebih mudah terakumulasi di atmosfer.
Selain faktor kemarau, keberadaan titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah juga berkontribusi. Kondisi tersebut berpotensi menambah partikulat di udara, terutama ketika asap dan debu terbawa angin menuju kawasan perkotaan.
Arah angin dominan di Palu yang berasal dari tenggara juga membuka kemungkinan adanya kontribusi partikulat dari wilayah tenggara Palu, termasuk Sigi dan Poso.
“Selain berasal dari sumber yang ada di Palu sendiri seperti tambang emas dan galian C, partikulat dapat terakumulasi karena kondisi kemarau,” kata Asep.
Dari 70 Menjadi 110 µg/m³
Perubahan konsentrasi PM2.5 dalam beberapa hari terakhir memperlihatkan kecenderungan yang perlu diperhatikan.
Jika pada 29 Agustus konsentrasi PM2.5 berada di angka 70 µg/m³, pada 1 September nilainya naik menjadi 79 µg/m³. Sehari kemudian angkanya kembali meningkat hingga 110 µg/m³.
Artinya, dalam rentang empat hari, konsentrasi PM2.5 meningkat sekitar 57 persen.
Kenaikan juga terlihat pada PM10. Dari 71 µg/m³ pada 29 Agustus, konsentrasinya menjadi 80 µg/m³ pada 1 September dan mencapai 106 µg/m³ pada 2 September.
Data tujuh harian sebelumnya juga menunjukkan bahwa konsentrasi partikulat memang telah berada pada level tinggi. Pada 23 Agustus, PM2.5 sempat mencapai 77 µg/m³ dan PM10 87 µg/m³. Bahkan pada 30 Agustus, PM2.5 tercatat mencapai 82 µg/m³.
Namun, angka pada 2 September melampaui seluruh nilai tertinggi tujuh harian tersebut.
Warga Diminta Waspada
SPAG Lore Lindu Bariri mengimbau masyarakat menggunakan masker untuk mengurangi paparan debu dan tidak melakukan pembakaran sampah di lingkungan rumah.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila nilai Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) telah melebihi 100.



