Sungai Ore di Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Sigi. (Foto: Heri/rindang.ID).

Seperti Banjir Nepal, Dolo Selatan Menyimpan Ancaman yang Sama di Hulu

SIGI, rindang.ID | Pola banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada 26 Agustus 2026, ternyata juga pernah terjadi di Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Ancaman itu bahkan masih mengancam.

Di Nepal, bencana terjadi setelah longsoran besar membawa material es dan batuan dari kawasan Himalaya ke aliran sungai. Material tersebut kemudian berubah menjadi aliran debris dan banjir dahsyat yang menerjang wilayah di bawahnya.

Dolo Selatan memang tidak memiliki gletser seperti Nepal. Namun, gempa bumi 28 September 2018 telah mengubah kondisi pegunungan di kawasan ini. Longsoran, retakan dan material lepas terbentuk di sejumlah lokasi, sementara sejumlah kubangan atau cekungan besar muncul di kawasan hulu.

Bahkan dengan menggunakan citra satelit google map, kubangan atau cekungan besar itu masih bisa diamati hingga tahun 2026 ini. Yang menonjol ada di desa Poi, Bangga, dan Beka.

Pemerintah Kabupaten Sigi pernah menyebut kubangan besar terbentuk di wilayah hulu Desa Bangga, Poi, dan Rogo setelah longsor akibat gempa. Kubangan tersebut kemudian menampung air ketika hujan deras. Ketika daya tampungnya tidak lagi mencukupi, air dapat melimpas atau jebol dan mengancam permukiman di bawahnya.

Poi, Ancaman 4,8 juta Meter Kubik

Desa Poi menjadi salah satu contoh paling nyata.

Kajian Balai Teknik Sabo memperkirakan longsoran di perbukitan Poi menyimpan sekitar 4,8 juta meter kubik material lepas. Longsoran tersebut memiliki panjang sekitar 1,59 kilometer, lebar 377 meter dan kedalaman rata-rata delapan meter.

Di bagian hilir longsoran juga ditemukan bendung alam. Material yang belum terkonsolidasi dan mudah jenuh pada musim hujan berpotensi terbawa air menjadi aliran debris. Pemodelan menunjukkan aliran tersebut dapat mengancam permukiman Desa Poi dan anak Sungai Palu.

Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Banjir lumpur dan material batu berulang kali menerjang Poi setelah hujan deras. Pada 2020, sejumlah rumah bahkan tertimbun lumpur, pasir dan batu.

Bangga dan Jejak Bencana Pascagempa

Bangga juga memperlihatkan bagaimana perubahan di hulu dapat berubah menjadi ancaman di hilir.

Longsoran pascagempa menghasilkan material sedimen dalam jumlah besar di kawasan hulu Sungai Bangga. Ketika hujan turun, material tersebut terbawa ke sungai dan memperbesar ancaman banjir bandang.

Banjir bahkan telah terjadi tidak lama setelah gempa. Pada November 2018, puluhan rumah warga Bangga dilaporkan hanyut diterjang banjir dan banyak warga terpaksa mengungsi. Banjir bandang lalu menjadi kejadian berulang di desa ini. Yang paling parah terjadi 2019.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gempa tidak hanya meninggalkan kerusakan pada saat kejadian, tetapi juga menciptakan sumber risiko baru di kawasan hulu.

Beka: Longsoran dan Pembendungan Sungai

Di Desa Beka, Kecamatan Marawola, ancaman juga berkaitan dengan kondisi kawasan hulu.

Kajian Universitas Tadulako mengidentifikasi tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap banjir bandang Beka, yakni curah hujan ekstrem, longsor di kawasan hulu Desa Kayumpia, dan pembendungan aliran Sungai Kalipondo.

Banjir terjadi berulang. Penelitian mencatat lima kejadian sepanjang 2018–2020 dan dua kejadian pada 2021.

Pada 26 Maret 2021, banjir lumpur menerjang permukiman dan menyebabkan 292 kepala keluarga mengungsi.

Kajian mencatat dua rumah rusak berat, 75 rumah rusak sedang dan 215 rumah rusak ringan. Sejumlah fasilitas umum serta sekitar 800 meter jalan juga terdampak material.

Persoalan Beka tidak hanya berkaitan dengan tingginya debit air. Material dari kawasan hulu, kondisi sungai, dan hujan deras bertemu dalam satu rangkaian bencana.

Nepal Menjadi Cermin

Peristiwa Nepal dan pengalaman Dolo Selatan memiliki mekanisme yang berbeda, tetapi menyimpan pesan yang sama.

Di Nepal, material es dan batuan dari kawasan pegunungan masuk ke sistem sungai. Di Dolo Selatan, sumber materialnya berasal dari longsoran dan perubahan bentang alam akibat gempa 2018.

Keduanya menunjukkan bahwa ancaman banjir bandang dapat bermula jauh dari permukiman.

Karena itu, risiko Dolo Selatan tidak cukup dipantau hanya dari curah hujan dan ketinggian air sungai. Kondisi kawasan hulu juga perlu menjadi perhatian, terutama keberadaan longsoran lama, material sedimen, bendung alam serta kubangan atau cekungan pascagempa.

Pengalaman Poi, Bangga, dan Beka menunjukkan bahwa masyarakat hilir bisa menghadapi ancaman yang berasal dari kawasan hulu.

Karena itu, pemetaan kawasan rawan dan sistem peringatan dini perlu mencakup seluruh bentang dari pegunungan hingga permukiman.

Ketika hujan ekstrem diperkirakan terjadi, masyarakat perlu mengetahui kondisi di kawasan hulu. Perubahan warna air sungai, kenaikan debit secara tiba-tiba, material batu dan kayu yang mulai terbawa arus hingga suara gemuruh dari arah pegunungan harus menjadi tanda kewaspadaan.

Banjir bandang Nepal menjadi refleksi penting bagi Sigi: bencana tidak selalu dimulai ketika air memasuki desa. Kadang, ancamannya telah terbentuk bertahun-tahun sebelumnya di kawasan hulu.

Gempa 2018 mungkin telah lama berlalu. Namun, longsoran, cekungan, dan material yang ditinggalkannya masih menjadi bagian dari lanskap risiko yang perlu dipantau sebelum hujan ekstrem berikutnya datang.

Saatnya Membangun Kesadaran Tentang Lanskap

Banjir bandang di Nepal juga menunjukkan bahwa pendekatan lanskap mesti menjadi kunci mitigasi dan pengurangan risiko bencana di Dolo Selatan.

Masturido, Manajer Area Sulawesi Tengah Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan, selain mengandalkan bangunan infrastruktur, warga juga harus mendapat pemahaman utuh tentang risiko, peringatan dini, mitigasi, hingga jalur evakuasi darurat.

“Kalau warga di lanskap Dolo Selatan sudah mengenali kerentanan wilayahnya, kesiapsiagaan bersama bisa terbangun,” kata Masturido.

Selain itu kolaborasi luas yang melibatkan banyak pihak, termasuk kebijakan daerah menjadi kunci penting dalam pengurangan risiko bencana di Dolo Selatan.

“Dolo Selatan ada contoh nyata pentingnya pendekatan lanskap, sebab kerentanan banyak terdapat di hulu,” Masturido memungkasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top