DONGGALA, rindang.ID | Tiga titik api muncul di kawasan hutan Desa Lumbudolo, Kabupaten Donggala, pada awal Agustus 2026. Api membakar sekitar tiga hektare kawasan hutan desa yang selama ini menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat.
Bagi Irsyadul Anam (Idul), kemunculan titik api itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Setiap musim kemarau, ia dan warga Lumbudolo sudah terbiasa menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Hampir setiap tahun, terutama saat musim kemarau, selalu ada titik api di hutan kami,” kata Idul.
Sebagai anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lumbudolo, Idul memahami betul kondisi kawasan hutan seluas 156 hektare tersebut. Menurut dia, sekitar 70 persen wilayah hutan desa memiliki potensi terancam karhutla karena terdapat ilalang, rumput, dan bambu yang mudah terbakar.
Ketika tiga titik api muncul pada awal Agustus, warga melaporkan kepihak terkait, warga lainnya tidak bisa hanya menunggu bantuan dari luar. Mereka bertindak.

Setelah melahap 3 hektare lahan, api memang padam setelah pemadaman juga dibantu pihak luar. Tapi usai kejadian itu warga belajar, bahwa tindakan harus segera dilakukan saat titik api muncul, dan merekalah garda terdepannya.
Pemantauan kawasan pun diperketat. Jika sebelumnya patroli pengawasan hutan dilakukan setiap tiga bulan, kini kegiatan tersebut mulai dirutinkan untuk mengantisipasi munculnya api.
Bagi warga yang tinggal dekat kawasan hutan, jarak menjadi alasan penting untuk bergerak lebih cepat.
“Kalau api bisa dideteksi sejak awal, kami bisa segera melakukan penanganan sebelum kebakaran meluas,” ujar Idul.
Pengalaman menghadapi karhutla dari tahun ke tahun itulah yang kemudian mendorong warga memperkuat peran mereka di tingkat tapak melalui pembentukan Masyarakat Peduli Api (MPA).
Idul merupakan salah satu inisiator pembentukan MPA di Desa Lumbudolo. Sebanyak 10 warga bergabung dalam kelompok tersebut.
Ia menyambut baik pembentukan MPA, terutama karena kelompok itu direncanakan mendapat dukungan berupa peralatan pemadam api sederhana, alat pelindung diri (APD), serta pelatihan penanganan karhutla.
“Karena maraknya karhutla, kami bersyukur MPA dibentuk. Ada 10 warga yang masuk sebagai MPA di desa kami,” katanya.
Bagi Idul, keberadaan MPA bukan sekadar pembentukan kelompok baru. MPA diharapkan menjadi wadah bagi warga untuk memperkuat patroli, mendeteksi titik api, melakukan pencegahan, hingga menangani kebakaran pada tahap awal.

Saat ini, warga masih menunggu Surat Keputusan (SK) pembentukan MPA di Desa Lumbudolo. Legalitas tersebut dinilai penting agar keberadaan kelompok semakin kuat sekaligus mendukung distribusi peralatan dan pelaksanaan kegiatan pencegahan hingga penanganan karhutla.
Pembentukan MPA di Lumbudolo merupakan bagian dari program Participatory Fire Management, atau pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat, dalam proyek Results-Based Payment (RBP) REDD+ pada 2026.
Program tersebut mendorong masyarakat di sekitar kawasan hutan menjadi aktor utama dalam pencegahan, deteksi, dan penanganan dini karhutla.
Pendekatan ini sekaligus mengubah cara pandang dalam pengendalian kebakaran. Penanganan tidak lagi semata-mata menunggu api membesar untuk kemudian dipadamkan, tetapi dimulai dari pencegahan dan kesiapsiagaan di tingkat tapak.
Masyarakat lokal berada pada posisi strategis karena paling dekat dengan sumber risiko kebakaran. Dengan pemantauan rutin, warga dapat mengetahui lebih cepat ketika muncul asap atau titik api dan mengambil tindakan sebelum api meluas.
Memperkuat Kapasitas Warga
Di Sulawesi Tengah, penguatan MPA diprioritaskan di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla, antara lain Morowali, Morowali Utara, Poso, dan Tojo Una-Una.
Pembinaan dilakukan melalui 13 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang menjadi unit pelaksana teknis Dinas Kehutanan di tingkat tapak.
Sebanyak 65 perwakilan MPA mengikuti pelatihan teknik pencegahan dan pemadaman awal karhutla sebagai bagian dari peningkatan kapasitas masyarakat.
Dukungan juga diberikan dalam bentuk sarana dan prasarana penanganan karhutla bagi MPA dan kelompok tani.
Peralatan dirancang praktis dan portabel agar dapat dibawa dengan cepat menuju lokasi kebakaran, termasuk kawasan hutan yang sulit dijangkau. Perlengkapan keselamatan kerja juga disiapkan untuk melindungi anggota MPA saat melakukan penanganan api.
Kepala Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah, Susanto Wibowo, mengatakan penguatan sarana dan kapasitas masyarakat semakin penting di tengah meningkatnya suhu udara dan kondisi iklim yang dapat memperbesar risiko kebakaran.
Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat perlu diperkuat agar api yang muncul di lahan masyarakat maupun kawasan hutan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.
Di Lumbudolo, upaya itu kini dimulai dari warga sendiri. Patroli diperbanyak, titik-titik rawan dikenali, dan kewaspadaan ditingkatkan. Bagi warga, menjaga hutan berarti memastikan api tidak pernah mendapat kesempatan untuk menjadi bencana.



