Hingga Juni 2026, 10.349 ton Gabah – Beras Petani Lokal Terserap Bulog Sulteng
Jumlah itu merupakan serapan sejak Januari hingga 24 Juni 2026 dan ditargetkan terus bertambah bahkan dapat melebihi target.
Jumlah itu merupakan serapan sejak Januari hingga 24 Juni 2026 dan ditargetkan terus bertambah bahkan dapat melebihi target.
Selain menyalurkan bantuan pangan, Bulog Sulawesi Tengah juga memastikan stok beras pemerintah dalam kondisi aman untuk mendukung kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil signifikan setelah capaian pengadaan beras hingga Mei 2026 telah menyamai total serapan sepanjang tahun lalu.
Untuk menjaga stabilitas pasokan, Bulog Sulteng juga menyiapkan cadangan stok di gudang dalam jumlah besar. Dalam kondisi normal, tersedia sekitar 20 hingga 30 truk MinyaKita yang siap didistribusikan sesuai kebutuhan masyarakat.
Bantuan sembako diserahkan langsung kepada pengelola panti asuhan dan disambut hangat oleh anak-anak asuh maupun pengurus panti.
Pihak Bulog menilai El Nino bukanlah hal baru. Fenomena ini bahkan disebut sebagai siklus tahunan yang sudah menjadi bagian dari tantangan operasional.
Untuk mempercepat capaian itu, Bulog menerapkan sejumlah strategi lapangan yang lebih agresif dan adaptif.
Dia berharap akselerasi penyerapan gabah maupun beras dapat terdongkrak dengan kehadiran tim dari pusat, memicu semangat dengan mengoptimalkan pengadaan pada mitra penggilingan di Sulteng – menyisir semua potensi yang ada.
Meski Sulteng punya tradisi penjualan skema beras, Jusri menuturkan, secara umum, hampir seluruh wilayah di Sulawesi Tengah tetap memiliki potensi penyerapan gabah. Donggala dan Parigi Moutong diperkirakan menjadi daerah yang lebih dulu memasukkan stok.
Di usia ke-62, sudahlah. Berhenti sejenak. Menengok ke dalam. Bukan hanya merayakan yang tampak, tapi mengakui apa yang selama ini terabaikan.