FGD Isu Hak Anak yang diinisiasi Yayasan Cappa di Kota Palu, Sabtu (27/6/2026). (Foto: Heri/rindang.ID)

Nasib Pangan Lokal, Lingkungan, dan Hak Anak Sulawesi Tengah Yang Terancam

PALU, rindang.ID | Bagi anak-anak, lingkungan bukan sekadar tempat bermain. Di sana mereka belajar mengenali kehidupan, menemukan makanan pertama dari alam, menghirup udara, meminum air, hingga membangun masa depan.

Namun ketika laut tercemar, hutan menghilang, dan pangan lokal semakin tergeser oleh makanan instan, yang ikut terancam bukan hanya ekosistem, melainkan juga hak-hak dasar anak.

Kesadaran itulah yang mempertemukan berbagai organisasi masyarakat sipil dalam Focus Group Discussion (FGD) Civil Society Organization (CSO) Isu Hak Anak bertajuk “Mengubah Tantangan menjadi Praktik Baik Penguatan Hak Anak atas Lingkungan dan Pangan Lokal” di Palu, Sabtu (27/6/2026).

Forum ini menjadi tempat berbagai pengalaman lapangan, dari kawasan pesisir Teluk Palu hingga kebun-kebun sekolah di Parigi Moutong. Semua membawa kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan anak-anak tetap memiliki hak untuk tumbuh di lingkungan yang sehat dan memperoleh pangan yang aman.

Dalam dialog yang mengawali kegiatan ini, Filosofi yang diusung Program SASA (Sehat Alam Sehat Anak) menjadi benang merah dalam seluruh pembahasan. Alam yang sehat diyakini akan melahirkan anak-anak yang sehat. Sebaliknya, kerusakan lingkungan perlahan menggerus hak anak untuk hidup, tumbuh, belajar, dan berkembang.

Di pesisir Teluk Palu, misalnya, ancaman itu hadir dalam bentuk yang nyaris tak kasatmata. Mikroplastik dan logam berat seperti merkuri, timbal, serta arsenik memasuki rantai makanan laut.

Rukmana Suharta dari Yayasan Rumah Bahari Gemilang (Rubalang) yang menjadi pembicara dalam dialog mengungkap hasil riset Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Palu, yang menemukan dari sampel 220 ekor ikan, ditemukan bahwa berbagai jenis ikan seperti ikan kembung (katombo), ikan lamotu, hingga kuwe onion trevally telah terpapar mikroplastik.

Pada ikan katombo, yang merupakan sumber protein utama bagi keluarga pesisir karena harganya yang terjangkau dan selalu tersedia segar, ditemukan kandungan mikroplastik sebesar 1,84±0,35 partikel per gram berat pencernaan.

“Ikan yang selama ini menjadi sumber protein utama keluarga pesisir berpotensi membawa kontaminan yang dapat mengganggu kesehatan anak dalam jangka panjang,” kata Rukmana.

Di tempat lain, krisis iklim menghadirkan tantangan berbeda. Suhu yang semakin panas mengganggu produktivitas kebun, sementara perubahan cuaca meningkatkan risiko gagal panen. Aktivitas pertambangan dan sedimentasi merusak kawasan pesisir, menimbun terumbu karang, serta mengancam mangrove yang selama ini menjadi benteng alami masyarakat dari banjir rob.

Lalu bagaimana anak-anak dapat tumbuh sehat jika alam yang menopang kehidupan mereka terus mengalami degradasi?

Menghidupkan Kembali Pangan dari Halaman Sekolah

Di tengah berbagai tantangan tersebut, ada harapan tumbuh dari halaman sekolah.

Melalui Program SASA, lima sekolah di Kabupaten Parigi Moutong membangun kebun belajar yang dikelola bersama guru, orang tua, dan anak-anak. Di lahan seluas lebih dari seribu meter persegi itu, sekitar 263 anak menanam sedikitnya 18 jenis tanaman pangan lokal.

Kelor, ubi jalar, ubi kayu, jagung, pisang, kangkung, bayam, hingga berbagai tanaman obat tumbuh berdampingan. Anak-anak belajar bahwa makanan tidak selalu datang dari rak minimarket. Mereka mengenali kembali tanaman yang selama ini menjadi bagian dari pengetahuan leluhur.

“Kebun itu juga menumbuhkan rasa ingin tahu, mengajarkan botani, memperkenalkan pupuk organik dan eco-enzyme, sekaligus membangun kesadaran bahwa menjaga tanah berarti menjaga masa depan mereka sendiri,” Utari, Direktur Cappa menceritakan saat menjadi pembicara dialog.

Di ruang belajar yang terbuka itu, literasi lingkungan tumbuh bersama tunas-tunas tanaman.

Pangan Lokal Bukan Sekadar Warisan

Diskusi juga mengingatkan bahwa pangan lokal bukan hanya soal tradisi kuliner.

Ikan katombo yang melimpah di Teluk Palu, daun kelor yang kaya vitamin dan mineral, sagu sebagai sumber karbohidrat, hingga aneka umbi dan sayuran lokal sesungguhnya merupakan fondasi penting dalam pemenuhan gizi anak.

Ironisnya, berbagai bahan pangan bergizi tersebut perlahan tersisih oleh makanan instan yang mudah diperoleh, tetapi miskin nutrisi. Pergeseran pola konsumsi ini menjadi tantangan baru dalam upaya menurunkan angka stunting dan memperbaiki kualitas kesehatan anak.

“Padahal, pangan lokal memiliki banyak keunggulan. Lebih segar, lebih terjangkau, lebih ramah lingkungan karena jejak karbonnya rendah, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat setempat,” Rahman Nurdin, Dosen Prodi Gizi FKM Untad mengatakan.

Nurdin menyoroti literasi tentang pangan lokal dan manfaatnya yang minim, yang membuatnya tidak menjadi pilihan utama masyarakat.

Merawat Alam, Menjaga Masa Depan

Berbagai organisasi masyarakat sipil yang hadir dalam forum tersebut sepakat bahwa pemenuhan hak anak tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga lingkungan.

Karena itu, selain mendokumentasikan praktik-praktik baik yang telah berjalan, FGD juga menghasilkan komitmen untuk memperkuat kolaborasi antar-CSO dan media di Sulawesi Tengah. Tujuannya bukan hanya memperluas advokasi, tetapi juga memastikan isu lingkungan dan pangan lokal tetap hadir dalam ruang-ruang kebijakan publik.

Pada akhirnya, menjaga hak anak bukan semata menyediakan ruang kelas yang nyaman atau layanan kesehatan yang memadai. Hak anak juga berarti memastikan laut tetap menghasilkan ikan yang aman dikonsumsi, tanah tetap subur untuk ditanami, udara tetap bersih untuk dihirup, dan anak-anak masih memiliki ruang untuk mengenal alamnya sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top