SIGI, rindang.ID | Lumpur setebal lebih dari dua meter, batu, dan kayu gelondongan pernah menimbun permukiman Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada banjir bandang 28 April 2019.
Belum sempat pulih dari bencana itu, warga kembali menghadapi luapan Sungai Ore pada Mei, disusul banjir besar lainnya sepanjang tahun tersebut.
Delapan tahun setelah rangkaian banjir bandang tersebut, warga Desa Bangga bersama perwakilan desa di Kecamatan Dolo Selatan dan Sigi Biromaru kembali memperkuat kesiapsiagaan. Mereka belajar membaca perubahan cuaca, mengenali kondisi sungai dan memahami tanda-tanda di wilayah hulu sebagai bagian dari sistem peringatan dini berbasis lanskap.
Penguatan kapasitas kelompok kerja peringatan dini berbasis lanskap itu diinisiasi Yayasan SHEEP Indonesia di Desa Bangga, Sabtu (8/8/2026). Desa Bangga dipilih karena memiliki pengalaman panjang menghadapi banjir bandang dengan dampak besar.
Karena itu, kemampuan mengenali tanda-tanda alam kini dipandang sebagai bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana.
Pengalaman itu menjadi alasan penting bagi masyarakat untuk tidak hanya bersikap reaktif setelah bencana terjadi. Kesiapsiagaan harus dilakukan sepanjang tahun, termasuk dengan memahami tanda-tanda alam yang dapat menjadi peringatan awal.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al Jufri Palu, Mohamad Fathan, yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, menjelaskan pentingnya mengenali pola pembentukan awan hujan, terutama awan Cumulonimbus (Cb).
Awan Cumulonimbus berbentuk menjulang tinggi dan padat seperti menara. Awan ini dapat menghasilkan hujan berintensitas tinggi dalam waktu singkat, disertai petir dan angin kencang.
Bagi masyarakat Bangga, kemunculan awan tersebut perlu diperhatikan, terutama jika terbentuk di wilayah hulu. Hujan lebat di pegunungan dapat meningkatkan debit sungai dan memicu banjir bandang yang membawa lumpur, batu maupun kayu.
Tanda alam lainnya juga dapat diamati masyarakat. Awan hitam pekat di wilayah hulu, suara guntur hingga suara gemuruh dari arah sungai menjadi indikator yang perlu meningkatkan kewaspadaan.
Kerawanan banjir di Dolo Selatan juga dipengaruhi karakteristik geografis wilayah. Pegunungan dan lembah di sekitar Desa Bangga memengaruhi sirkulasi udara, kelembapan serta pembentukan awan hujan.
Interaksi massa udara dengan topografi lokal dapat mendorong pertumbuhan awan Cumulonimbus secara vertikal dan menghasilkan hujan dengan intensitas tinggi.
Wilayah Sulawesi Tengah sendiri memiliki karakteristik zona musim yang kompleks. Pola hujan tidak selalu sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya sehingga pemantauan kondisi cuaca lokal menjadi penting.
Dalam kondisi tertentu, hujan ekstrem di wilayah hulu dapat meningkatkan aliran sungai seperti Sungai Ore di Desa Bangga dan Sungai Tinombu di Desa Poi. Aliran tersebut berpotensi membawa material dari wilayah pegunungan menuju permukiman.
Perubahan debit air secara drastis, perubahan warna air menjadi sangat keruh, serta munculnya material seperti kayu dan lumpur dapat menjadi tanda penting yang harus segera diteruskan kepada masyarakat di wilayah hilir.
Hujan lebat di wilayah hulu juga perlu menjadi perhatian meskipun Desa Bangga sendiri belum diguyur hujan. Dalam pendekatan berbasis lanskap, kondisi di hulu dapat menentukan apa yang akan terjadi di hilir beberapa waktu kemudian.
Tanda Alam Memberi Waktu Evakuasi
Mengenali tanda-tanda alam memiliki manfaat penting karena dapat memberikan waktu tambahan bagi warga untuk melakukan evakuasi.
Ketika awan hitam pekat mulai terbentuk di hulu, suara guntur terdengar intens, atau muncul suara gemuruh dari arah sungai, masyarakat dapat segera meningkatkan kewaspadaan dan bersiap menuju titik kumpul yang aman.
Tambahan waktu beberapa menit sekalipun sangat berarti ketika banjir membawa material dengan daya rusak tinggi.
“Pengamatan langsung masyarakat juga dapat menjadi pelengkap informasi yang disampaikan BMKG. Radar dan satelit mampu memberikan gambaran kondisi cuaca dalam cakupan luas, sementara pemantau di tingkat lokal dapat melihat kondisi nyata di lapangan,” Fathan menjelaskan.
Masyarakat dapat membandingkan peringatan cuaca dengan kondisi sungai, hujan dan tanda-tanda alam yang mereka lihat sendiri. Kepekaan pada perubahan lingkungan itu diakui perlahan tumbuh di tengah warga, terutama Desa Bangga yang menjadi hulu Kecamatan Dolo Selatan.
Pendekatan tersebut sekaligus mengubah posisi warga dari sekadar penerima informasi menjadi bagian aktif dari sistem peringatan dini.
Hulu dan Hilir dalam Satu Lanskap
Peringatan dini berbasis lanskap mengajarkan bahwa ancaman bencana tidak mengenal batas administratif desa.
Informasi mengenai perubahan kondisi Sungai Ore kemudian dapat diteruskan melalui jaringan komunikasi antardesa, termasuk radio komunikasi, sehingga desa-desa lain dalam satu bentang alam, seperti Desa Balongga, dapat meningkatkan kewaspadaan.
Fathan menekankan, pengetahuan lokal tidak berarti masyarakat mengabaikan teknologi. Sebaliknya, informasi dari masyarakat dan teknologi perlu saling melengkapi.
Pada kegiatan yang digelar di Gedung Pusat Evakuasi Masyarakat (PEM) Desa Bangga itu, warga didorong aktif memantau peringatan dini cuaca melalui kanal resmi BMKG, termasuk aplikasi dan media sosial informasi cuaca Sulawesi Tengah, serta jaringan komunikasi seperti grup WhatsApp PUSDALOPS PB Sigi.
Informasi nowcasting dapat membantu memberikan gambaran mengenai potensi cuaca ekstrem dalam rentang waktu beberapa jam.
Kecepatan menerima informasi sangat penting karena sejumlah kejadian banjir di Dolo Selatan sebelumnya berlangsung pada waktu yang relatif singkat, termasuk malam hari maupun menjelang pagi.
Karena itu, warga juga perlu memastikan jalur evakuasi dan titik kumpul telah dipetakan serta dipahami bersama.
Masyarakat sebagai Subjek
Kepala Desa Bangga, Abrar Ganasatu, mengatakan kemampuan mengenali tanda-tanda alam dan perubahan cuaca penting bagi warga maupun pemerintah desa dalam menentukan langkah mitigasi.
Menurut dia, pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat mengambil keputusan lebih cepat ketika kondisi mulai menunjukkan potensi bencana.
“Dengan mengenali tanda-tanda ini, masyarakat bisa segera melakukan tindakan kesiapsiagaan, seperti menjauhi area aliran air dan menuju titik kumpul yang aman sebelum banjir mencapai permukiman,” kata Abrar.
Sementara itu Area Manajer Sulawesi Tengah Yayasan SHEEP Indonesia, Masturido, menilai, dengan kemampuan itu, masyarakat tidak lagi hanya menjadi objek yang menunggu pertolongan ketika bencana datang.
“Warga menjadi subjek yang mampu mengenali risiko dan mengambil tindakan berdasarkan pemahaman terhadap lanskap tempat mereka hidup,” kata Masturido.
Pengalaman pahit 2019 pun tidak berhenti sebagai ingatan tentang lumpur setebal dua meter dan kayu gelondongan yang menerjang permukiman, melainkan menjadi pengetahuan yang terus diwariskan untuk menghadapi ancaman banjir bandang berikutnya.



