Salah satu bendung air fasilitasi PLTA Poso Energy. (Foto: rindang.ID)

Listrik Palu di Bawah Tekanan Iklim yang Memicu Pemadaman Bergilir

PALU, rindang.ID | Pemadaman listrik bergilir di Kota Palu yang telah berlangsung lebih dua pekan menunjukkan persoalan yang semakin sulit diabaikan: sistem kelistrikan daerah ini rentan terhadap perubahan kondisi iklim.

Di satu sisi, suhu udara yang tinggi diakui mendorong konsumsi listrik masyarakat. Di sisi lain, musim kemarau dan berkurangnya curah hujan menekan ketersediaan air yang menjadi sumber energi bagi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso.

Ketika dua kondisi itu terjadi bersamaan, sistem kelistrikan menghadapi tekanan dari dua arah: kebutuhan listrik meningkat, sementara kemampuan pasokan berpotensi menurun.

Manager PLN UP3 Palu, Ansar, mengatakan pemadaman bergilir dilakukan sebagai bagian dari manajemen beban untuk menjaga kestabilan sistem. Pemadaman umumnya berlangsung tiga hingga empat jam dalam satu sesi.

“Kondisi ini (pemadaman) tidak disebabkan satu faktor saja. Pemeliharaan transmisi di wilayah Sulawesi bagian Selatan turut memengaruhi penyaluran daya ke Sulawesi Tengah. Pada saat yang sama, konsumsi listrik meningkat akibat cuaca panas,” Ansar menjelaskan, Senin (7/8/2026).

Sistem kelistrikan Palu sendiri merupakan bagian dari jaringan interkoneksi besar yang menghubungkan Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara.

Artinya, tekanan pada satu bagian sistem dapat berdampak pada wilayah lain.

Namun terdapat persoalan yang lebih mendasar: ketergantungan sistem kelistrikan terhadap kondisi alam.

PLTA Poso menjadi salah satu sumber penting dalam sistem kelistrikan yang melayani empat provinsi di Sulawesi.

Pembangkit yang dikelola PT Poso Energy itu memiliki kapasitas terpasang 515 megawatt (MW). Energinya disalurkan melalui sistem PLN untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Bagi pembangkit hidro, air merupakan bahan bakar. Semakin terbatas ketersediaannya, semakin terbatas pula ruang untuk mengoperasikan pembangkit.

Manager PT Poso Energy, Asmaruddin, mengatakan kondisi El Niño pada semester II 2026 menyebabkan curah hujan di wilayah tangkapan air Danau Poso berkurang. Akibatnya, elevasi danau berada lebih rendah dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

“Kami memasok energi listrik dari PLTA Poso untuk empat provinsi di Sulawesi, sehingga perlu dilakukan pengaturan porsi sebagai strategi menjaga keandalan pasokan listrik,” kata Asmaruddin kepada wartawan, Sabtu (29/8/2026).

Poso Energy kemudian mengatur porsi produksi energi untuk menghadapi periode kemarau. Porsi produksi pada musim penghujan ditetapkan sebesar 55 persen, sementara pada musim kemarau sebesar 45 persen.

Strategi tersebut dilakukan agar cadangan air tidak terkuras terlalu cepat.

Menurut Asmaruddin, produksi energi masih dapat memenuhi rencana apabila musim penghujan pada akhir Oktober hingga Desember 2026 datang dengan intensitas hujan di atas normal. Sebaliknya, apabila curah hujan berada di bawah normal, pasokan listrik berpotensi berkurang.

Pernyataan itu menunjukkan betapa eratnya hubungan antara cuaca, air, dan listrik. Keandalan pasokan listrik tidak lagi hanya bergantung pada mesin pembangkit dan jaringan transmisi, tetapi juga pada apakah hujan turun dalam jumlah dan waktu yang dibutuhkan.

Palu di Ujung Rantai Risiko

Kerentanan itu menjadi lebih jelas jika melihat posisi Palu dalam sistem kelistrikan regional.

Data PLN menunjukkan sekitar 51 persen bauran pasokan sistem Sulawesi Tengah berasal dari transfer sistem Sulbagsel. Sekitar separuh kapasitas transfer tersebut dipasok dari PLTA Poso.

Pada beban puncak, transfer daya menuju Palu disebut mencapai sekitar 126,81 MW.

Ketergantungan tersebut membuat kondisi Danau Poso memiliki konsekuensi jauh melampaui wilayah sekitar danau. Ketika ketersediaan air menurun dan produksi pembangkit harus diatur, dampaknya dapat dirasakan hingga ke konsumen di Kota Palu.

Persoalan semakin berat ketika permintaan listrik meningkat.

Suhu panas mendorong masyarakat menggunakan lebih banyak kipas angin, pendingin udara dan perangkat listrik lainnya. Beban listrik pun meningkat.

Dengan kata lain, perubahan iklim bekerja melalui dua jalur sekaligus: mengurangi pasokan dan meningkatkan permintaan.

Pemadaman bergilir kemudian menjadi salah satu instrumen PLN untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan beban.

Dalam konteks ini, pemadaman merupakan salah satu gejala dari kerentanan sistem energi terhadap tekanan iklim.

El Niño sendiri bukan penyebab tunggal pemadaman. Namun, fenomena tersebut dapat memperkuat sejumlah kondisi yang sudah membuat sistem kelistrikan rentan.

Pelajaran dari Pemadaman 2023

Palu pernah menghadapi situasi serupa pada 2023.

Kemarau panjang ketika itu menyebabkan debit dan elevasi Danau Poso menurun. Berkurangnya ketersediaan air berdampak pada pasokan listrik dari PLTA Poso ke sistem kelistrikan Sulawesi Tengah.

PLN Palu saat itu menyebut pasokan yang dapat diterima hanya sekitar 190 MW per hari, dibandingkan kondisi normal sekitar 500 MW.

Peristiwa 2023 menjadi penting karena menunjukkan bagaimana perubahan kondisi hidrologis di sebuah danau dapat merambat menjadi persoalan energi di sebuah kota.

Kini, ketika El Niño kembali membawa kondisi panas dan kering, pola kerentanan tersebut kembali terlihat.

Bedanya, persoalannya kini semakin jelas: Palu tidak hanya menghadapi risiko kekurangan listrik, tetapi menghadapi tantangan membangun sistem energi yang mampu bertahan menghadapi perubahan iklim.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top