POSO, rindang.ID | Musim kemarau yang datang lebih awal pada 2026 menjadi tanda perubahan pola iklim yang dirasakan petani di Sulawesi Tengah. Di Poso, sejak Juni air Danau Poso menyusut, mengganggu siklus tanam, dan menekan hasil panen. Kondisi serupa terjadi di sejumlah daerah lain di Sulteng.
Hari mulai memasuki siang ketika Imanuel Pasambaka menengok sawahnya di Kelurahan Pamona, Kecamatan Pamona Puselemba, Kabupaten Poso, Rabu (2/9/2026).
Ia berdiri lama di tepi petak sawah, menatap tanah yang terbelah-belah. Kering.
Imanuel kemudian berkeliling sambil memegang bulir-bulir padi. Tak ada senyum.
“Kalau begini terus bisa gagal panen,” katanya.
Yang membuatnya cemas bukan hanya tanah yang mengering, tetapi musim yang datang lebih cepat dari biasanya.
Menurut pengalaman dan perhitungan tradisional petani di sekitar Danau Poso, kemarau biasanya mulai berlangsung sekitar Agustus, ketika tanaman padi memasuki masa panen. Namun tahun ini, kemarau sudah terasa sejak Juni.
Perubahan itu mengacaukan siklus pertanian di sekitar Danau Poso. Tanaman yang belum siap panen terpaksa menghadapi kekurangan air. Sebagian padi mengering dan tak bisa diharapkan menghasilkan bulir.
Sawah Imanuel merupakan sawah tadah hujan. Ketika hujan berkurang, petani mengandalkan air Danau Poso dengan pompa. Namun sumber air itu kini semakin jauh.
Garis air Danau Poso kini berjarak sekitar 200 meter dari sawahnya. Dalam kondisi normal, air danau berada jauh lebih dekat, bahkan pada kondisi tertentu dapat sedikit menggenangi sawah di sekitarnya.
Catatan dinas terkait di Kabupaten Poso menunjukkan hingga pertengahan Agustus 2026 terdapat 80 hektare sawah di Kecamatan Pamona Puselemba terdampak kekeringan. Sekitar 50 hektare berada di Kelurahan Pamona dan 30 hektare di Desa Buyumpondoli.
Perubahan itu juga berarti semakin mahalnya usaha mempertahankan sawah.
Petani harus menggunakan Alkon dan membeli BBM untuk menyedot air dari danau. Karena biaya cukup berat, mereka patungan dengan petani lain untuk membeli bahan bakar dan memperbaiki mesin.
Imanuel bilang sebagian petani bahkan tidak mampu mengoperasikan pompa. Akibatnya, hasil panen yang biasanya mencapai 2–3 ton bisa merosot menjadi hanya sekitar 13 karung.
Bukan Sekadar Kemarau
Apa yang dirasakan petani Pamona berlangsung di tengah perubahan pola iklim yang lebih luas di Sulawesi Tengah.
Proyeksi BMKG memperkirakan sekitar 52 persen wilayah Zona Musim di Sulawesi Tengah mengalami curah hujan di bawah normal pada 2026. Sekitar 69 persen wilayah diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat, sementara puncak kemarau diperkirakan terjadi pada September.
Artinya, pengalaman Imanuel yang merasakan kemarau sejak Juni bukan sekadar persoalan musim yang datang terlambat atau lebih cepat dalam setahun, melainkan bagian dari meningkatnya ketidakpastian pola cuaca.
Perubahan tersebut berlangsung bersamaan dengan tren kenaikan suhu.
Data Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menunjukkan tren kenaikan suhu di Poso sekitar 0,43 derajat Celsius sepanjang 1982–2023. Suhu tertinggi yang pernah tercatat di Poso mencapai 39,9 derajat Celsius.
Di Palu, tren kenaikan suhu mencapai sekitar 0,45 derajat Celsius pada periode 1976–2023, dengan suhu tertinggi 39,6 derajat Celsius.
Kenaikan suhu dapat memperbesar penguapan dan kebutuhan air tanaman. Ketika pada saat yang sama hujan berkurang atau musim kering berlangsung lebih panjang, tekanan terhadap pertanian jadi semakin besar.
Kekeringan Meluas ke Lahan Pertanian
Tekanan tersebut terlihat dari data kekeringan Sulawesi Tengah.
Hingga 28 Agustus 2026, BPBD Sulawesi Tengah mencatat sedikitnya 5.342,5 hektare sawah terdampak kekeringan.
Laporan BPBD juga menyebut kekeringan muncul dalam dua gelombang. Puncak pertama terjadi pada Januari dengan sekitar 4.242,5 hektare sawah terdampak. Gelombang berikutnya muncul pada Agustus ketika kekeringan kembali melanda sejumlah wilayah.
Persoalannya bukan hanya luas lahan yang mengering, tetapi kemampuan petani untuk beradaptasi.
Biaya Adaptasi Semakin Mahal
Petani di sekitar Danau Poso mencoba bertahan dengan berbagai cara.
Mereka menggunakan pompa air, patungan membeli BBM, berbagi bibit dan memanfaatkan lahan yang masih memiliki kelembapan. Hasil panen yang sedikit pun sebagian disimpan untuk konsumsi keluarga, bukan dijual.
Strategi tersebut menunjukkan kemampuan masyarakat beradaptasi. Tetapi sekaligus memperlihatkan bahwa perubahan iklim memiliki biaya yang harus ditanggung petani.
Ketika air semakin sulit diperoleh, petani harus membayar lebih mahal untuk mengairi sawah. Ketika produksi turun, pendapatan berkurang. Dan ketika hasil panen tidak cukup, cadangan pangan terancam.
Kembali di sawahnya, Imanuel hanya melihat air Danau Poso yang semakin menjauh. Dan musim yang dulu bisa dibaca, kini makin sulit ditebak.
“Biayanya besar kalau kekeringan begini. Dan kalau seperti ini sulit untuk dijual, kecuali untuk makan keluarga,” Imanuel memungkasi.



