SIGI, rindang.ID | Musim kering membuat air menjadi persoalan bagi sebagian warga Desa Kaleke, Kabupaten Sigi. Di tengah kondisi itu, Mata Air Bionga menjadi salah satu tempat yang ramai didatangi warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Abdullah adalah salah seorang warga yang rutin mengambil air dari mata air tersebut. Warga asal Desa Kotarindau, desa tetangga Kaleke itu biasanya datang pada akhir pekan untuk mengisi persediaan air keluarganya.
“Memang sangat disukai anak-anak dan orang tua. Kami sudah lama mengambil air di sini untuk konsumsi,” kata Abdullah.
Ia biasanya datang pada Sabtu atau Minggu. Air yang diambil digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari memasak, membuat air panas, hingga diminum.
“Untuk dikonsumsi, masak, untuk air panas, atau langsung diminum,” ujarnya.
Abdullah tidak sendiri. Puluhan warga lainnya terlihat datang ke mata air itu dengan membawa ember, jeriken, dan berbagai wadah untuk menampung air.
Selama ini, Bionga dikenal sebagai salah satu lokasi permandian dengan air yang jernih dan melimpah. Air mengalir mengisi kolam yang menjadi tempat warga beraktivitas dan menikmati kesejukan mata air.
Namun, ketika musim kering berlangsung lebih panjang, keberadaan Bionga terasa semakin penting bagi warga.
Kepala Desa Kaleke, Muhammad Taufan, mengatakan meningkatnya pemanfaatan Mata Air Bionga tidak terlepas dari kondisi sumber air di rumah-rumah warga, terutama ketika debitnya mulai menurun.
Menurut Taufan, sejumlah rumah warga menggunakan sumber air tanah dengan bantuan pompa. Pada musim kering, debit sumber air tersebut dapat berkurang sehingga tidak lagi mencukupi kebutuhan harian.
“Kami melihat memang ada beberapa warga, bahkan dari luar desa, yang memanfaatkan air Bionga. Sebelumnya mata air ini juga sering dimanfaatkan masyarakat,” kata Taufan.
Kondisi itu membuat Bionga menjadi sumber alternatif. Warga datang mengambil air untuk berbagai kebutuhan rumah tangga ketika sumber air di rumah mereka tidak lagi mencukupi.
Pemanfaatan Bionga semakin terlihat setelah gempa 2018. Menurut Taufan, sejak saat itu semakin banyak masyarakat, termasuk warga dari luar Desa Kaleke, yang datang mengambil air dari mata air tersebut.
Menariknya, kata Taufan, debit Bionga sejauh ini tetap tersedia meski dimanfaatkan oleh banyak warga.
“Walaupun diambil secara besar-besaran, debit airnya tidak berkurang,” ujarnya.
Bagi warga, Bionga juga memiliki keistimewaan lain. Air dari mata air tersebut selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi tanpa harus dimasak terlebih dahulu.
Bionga bukan satu-satunya mata air di Desa Kaleke. Taufan menyebut terdapat puluhan titik mata air yang tersebar di tiga dusun. Namun, Bionga menjadi salah satu yang paling dikenal dan hingga kini masih ramai dimanfaatkan masyarakat.
“Setiap dusun ada mata air. Ada tiga dusun di sini. Cuma memang yang dikenal Bionga,” katanya.
Pemanfaatan Bionga pun bukan kebiasaan baru. Menurut Taufan, masyarakat Kaleke telah memanfaatkan mata air tersebut sejak setidaknya dekade 1990-an.
Kini, ketika musim kering datang dan sebagian sumber air warga mulai menyusut, Bionga kembali menjadi tempat bergantung. Mata air itu bukan hanya menjadi ruang permandian, tetapi juga sumber air bagi warga yang membutuhkan ketika persediaan di rumah mulai berkurang.



