Suasana Kawula17 Goes to School yang digelar di Kota Palu, Rabu (15/6/2026). (Foto: Heri/rindang.ID)

Kawula17 Ajak Pelajar Palu Asah Nalar Kritis Lewat Isu Lingkungan

PALU, rindang.ID | Isu lingkungan dijadikan pintu masuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis generasi muda melalui program Kawula17 Goes to School yang digelar di Kota Palu, Rabu (15/6/2026).

Banjir, tambang, polusi, sampah, hingga populasi buaya mengemuka sebagai masalah lingkungan di Kota Palu. Masalah-masalah itu disebut sejumlah pelajar saat mengikuti program Kawula17 Goes to School di Kota Palu.

Kegiatan ini melibatkan ratusan pelajar SMA/SMK sederajat yang diajak mengenali persoalan lingkungan di sekitar mereka, menganalisis akar masalah, hingga merumuskan solusi yang dapat diterapkan.

“Karena di sekitar rumah saya sering banjir, makanya saya ingin belajar mengenali masalah lingkungan dan solusi yang bisa saya lakukan,” kata Nisa, salah satu peserta saat mengungkapkan harapannya terhadap kegiatan yang digelar di aula Asrama Haji Palu tersebut.

Program yang diinisiasi Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas (PP17) atau Kawula17 ini bertujuan membentuk generasi muda menjadi warga negara yang aktif, kritis, dan berdaya.

Melalui pendekatan berbasis isu lingkungan, peserta tidak hanya memahami persoalan di sekitarnya, tetapi juga belajar mengambil keputusan secara sadar serta bertanggung jawab.

Di Sulawesi Tengah, program ini dilaksanakan di dua wilayah, yakni Kota Palu dan Kabupaten Donggala.

Kegiatan di Palu menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan kewargaan yang kontekstual dengan mengangkat persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar.

Dalam kegiatan ini, peserta dibimbing untuk memahami berbagai persoalan melalui tahapan pembelajaran yang sistematis. Mereka memetakan pemangku kepentingan, mengumpulkan data melalui observasi maupun wawancara, kemudian menganalisis akar persoalan menggunakan metode 5 Whys yang dipadukan dengan kerangka 5W+1H.

Pendekatan ini mendorong pelajar untuk tidak berhenti pada gejala suatu masalah, melainkan menelusuri hubungan sebab-akibat secara lebih mendalam. Dengan demikian, solusi yang dihasilkan tidak bersifat dangkal, tetapi lebih tepat sasaran.

Setelah memahami akar persoalan, peserta menggunakan metode How Might We untuk menyusun berbagai alternatif solusi yang kreatif, kolaboratif, dan realistis untuk diterapkan. Seluruh proses berlangsung secara partisipatif dengan pendampingan fasilitator yang memastikan setiap peserta memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat.

Program ini menargetkan empat capaian utama, yakni meningkatkan pemahaman pelajar terhadap isu di sekitarnya, mendorong keberanian menyampaikan pendapat di ruang yang aman, menguatkan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis persoalan, serta melatih kreativitas dalam merancang solusi yang dapat dijalankan.

Nilai-nilai tersebut sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila, khususnya pada aspek bernalar kritis, mandiri, gotong royong, dan kreatif.

Sepanjang pelaksanaan tahun 2025, Kawula17 Goes to School telah menjangkau lebih dari 2.000 pelajar dari lebih dari 20 sekolah di 17 kota di Indonesia. Tahun 2026, program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi lokal di daerah yang membantu memetakan tantangan lokal di setiap daerah.

“Melalui pendekatan yang menghubungkan pendidikan kewargaan dengan persoalan lingkungan, kami berharap semakin banyak pelajar memiliki kemampuan berpikir kritis, berani menyampaikan gagasan, serta mampu mengambil peran aktif dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan dan masyarakatnya,” kata Juris Bramantyo, Dewan Pengurus Yayasan Pelopor Pilihan Tujuhbelas, dalam sambutannya mengawali kegiatan tersebut.

Selain peningkatan kapasitas berpikir, program ini juga melahirkan berbagai gagasan inovatif. Di Lampung, misalnya, peserta mengembangkan konsep Website MBG Anak Bangsa sebagai media sosialisasi menu gizi sekolah sekaligus wadah aspirasi siswa. Sementara di Sorong lahir gagasan Spider Trash berbasis Internet of Things (IoT) berupa jaring sampah otomatis di sungai yang dilengkapi sistem pemantauan berat sampah.

Keberhasilan tersebut mendorong Kawula17 memperluas jangkauan program pada 2026 dengan dengan kombinasi wilayah baru dan daerah yang sebelumnya telah mengikuti program.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top