Program Adaptasi Perubahan Iklim Diluncurkan di Sigi, Sasar 1.500 Warga di Enam Desa
Program ini menjadi langkah kolaboratif untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim, terutama bagi kelompok rentan dan komunitas petani.
Program ini menjadi langkah kolaboratif untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi dampak perubahan iklim, terutama bagi kelompok rentan dan komunitas petani.
Pendanaan ini akan mempercepat krisis iklim, kerusakan lingkungan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta memperburuk penderitaan hewan dan masyarakat adat. Aksi dilakukan dengan menampilkan instalasi hewan ternak yang terdampak.
Meski bukan istilah ilmiah resmi, sebutan El Nino “Godzilla” digunakan untuk menggambarkan fenomena El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas terhadap berbagai wilayah di dunia, termasuk Indonesia.
Ini juga menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana global yang jauh, melainkan realitas yang hadir di halaman rumah kita.
Inilah benang merah yang menghubungkan Sumatra dan Sulawesi Tengah. Bukan semata soal siklon, tetapi tentang pola bencana di era perubahan iklim: anomali cuaca yang semakin sering bertemu lanskap yang rapuh akibat eksploitasi.
Dan di tengah sajian pisang rebus dan kopi, percakapan tentang bencana, hutan, dan masa depan lanskap Sulawesi Tengah mengalir dengan hangat namun penuh kegelisahan.
Bagi masyarakat Palu, Donggala, dan Sigi, ancaman bencana bukan sekadar catatan sejarah tahun 2018. Ia masih menempel dalam ingatan dan pola gerak masyarakat hingga hari ini. Dari situ, Pokja Pesisir-DAS terbentuk pada 6 November 2025.
Hingga tahun 2023 tercatat terdapat empat daerah di Sulawesi Tengah yang pernah mengalami rekor kenaikan suhu. Perubahan iklim yang menuju krisis, nyata.
Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan masyarakat Kota Palu saat ini. Peningkatan suhu udara, fluktuasi curah hujan ekstrem, dan tekanan terhadap kualitas lingkungan menciptakan risiko kesehatan yang semakin nyata, terutama bagi masyarakat di pemukiman padat dan kawasan industri.
Hanya butuh hujan lima jam untuk Kota Palu didatangi banjir sporadis yang membawa lumpur juga batu yang merusak. Di balik itu, ada pesan keras dari alam; bukit dan gunung tempat air hujan seharusnya tertahan, kini telanjang dan rusak.