PALU, rindang.ID | Langit khatulistiwa yang selama ini diyakini “aman” dari badai ternyata bisa berubah menjadi panggung bencana. Tragedi di Sumatra yang dipicu anomali Siklon Tropis Senyar menjadi alarm keras bahwa perubahan iklim dan hutan yang hilang mampu meruntuhkan teori, sekaligus membuka ancaman serupa bagi wilayah lain, termasuk Sulawesi Tengah.
Langit di atas Sumatra telah menjadi saksi bagaimana sebuah anomali alam berubah menjadi bencana. Siklon Tropis Senyar; fenomena yang oleh para ilmuwan disebut “melawan aturan alam”.
Dia memicu rangkaian bencana hidrometeorologi mematikan di wilayah yang selama ini diyakini relatif aman dari badai tropis. Peristiwa itu meninggalkan jejak luka yang panjang. Hingga Minggu (14/12/2025) korban meninggal dunia sudah lebih dari 1.000 jiwa. Senyar bukan sekadar badai. Ia adalah peringatan.
Siklon Tropis Senyar terbentuk di Selat Malaka, sangat dekat dengan garis khatulistiwa, wilayah yang secara teori merupakan “zona aman” dari siklon tropis. Dalam ilmu meteorologi klasik, badai semacam ini nyaris mustahil lahir di wilayah kurang dari lima derajat lintang dari ekuator. Penyebabnya sederhana namun fundamental: lemahnya efek Coriolis, gaya akibat rotasi bumi yang diperlukan untuk membentuk pusaran badai.
“Di khatulistiwa, gaya ini nyaris nol. Tapi yang terjadi di Sumatra mematahkan teori itu,” kata Asep Firman Ilahi, Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri (SPAG) dalam diskusi di Nemu Buku, beberapa waktu lalu.
Senyar hadir sebagai pengecualian. Dengan suhu permukaan laut hangat di atas 26,5 derajat Celsius dan tarikan massa udara basah yang masif, sistem atmosfer menemukan celah untuk membentuk badai.
Yang membuat Senyar begitu mematikan bukan hanya keberadaannya, tetapi konteks ekologis tempat ia berlabuh. Curah hujan ekstrem lebih dari 300 milimeter per hari jatuh di atas Pegunungan Bukit Barisan yang bertopografi curam, dengan kondisi tanah yang telah jenuh air.
Pada saat yang sama, hutan-hutan yang semestinya menjadi penyangga telah banyak hilang. Air hujan yang seharusnya ditahan dan diserap, justru meluncur deras sebagai aliran permukaan, menyapu apa pun di hadapannya.
Pola ini sesunguhnya bukan cerita lama. Ia adalah rumus berulang: cuaca ekstrem bertemu lanskap yang kehilangan daya dukung ekologis.
Pertanyaannya kemudian bergeser ke timur: apakah Sulawesi Tengah aman?
Secara geografis dan teoritis, Asep mengulangi bahwa Sulawesi, seperti sebagian besar wilayah Indonesia, berada di garis khatulistiwa dan jarang menjadi lokasi pembentukan atau lintasan langsung siklon tropis.
Asep bilang hingga kini, Sulawesi Tengah belum pernah mengalami hantaman siklon secara langsung. Tapi kewaspadaan ditegaskannya mesti dikuatkan setelah peristiwa Sumatra.
“Secara teori kita aman karena berada di bawah lima derajat lintang. Tapi perubahan iklim membuat teori itu tidak lagi absolut,” kata Asep.
Yang mengkhawatirkan bukan semata kemungkinan siklon melintas, melainkan dampak tidak langsung dari sistem cuaca ekstrem yang dipicu oleh bibit siklon di samudra sekitar. Indonesia memang jarang menjadi target langsung badai tropis, tetapi tidak sepenuhnya kebal dari hujan ekstrem, angin kencang, dan gangguan atmosfer berskala besar yang ditimbulkannya.
Di titik inilah Sulawesi Tengah menyimpan kerentanan serius. Merujuk data deforestasi Yayasan Komiu, dalam kurun 2015 hingga 2024, Sulawesi Tengah kehilangan hutan seluas lebih dari 425 ribu hektar. Perluasan perkebunan kelapa sawit dan aktivitas pertambangan menjadi pendorong utama deforestasi tersebut.
Dari Kota Palu, ibu kota provinsi ini, tampak nyata. Tambang menggerus hutan di bukit-bukit dan pegunungan di timur dan barat Palu. Ini seperti luka di ujung hidung Sulawesi Tengah.
Hutan yang hilang berarti hilangnya “spons raksasa” alami yang selama ini menahan, menyerap, dan melepaskan air hujan secara perlahan. Dalam kondisi utuh, hutan memungkinkan infiltrasi air hingga 55 persen. Tanpa hutan, kapasitas itu runtuh.
Akibatnya, Daerah Aliran Sungai menjadi kritis. Tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Setiap hujan deras berubah menjadi aliran permukaan yang destruktif, tidak ada lagi yang memperlambat air. Ia mengalir deras, tak terkendali, memicu banjir bandang dan longsor.
Inilah benang merah yang menghubungkan Sumatra dan Sulawesi Tengah. Bukan semata soal siklon, tetapi tentang pola bencana di era perubahan iklim: anomali cuaca yang semakin sering bertemu lanskap yang rapuh akibat eksploitasi. Senyar mungkin fenomena langka, tetapi hujan ekstrem bukan lagi kejadian luar biasa. Ketika keduanya bertemu dengan deforestasi masif, bencana skala besar menjadi hampir tak terelakkan.
Sulawesi Tengah aman secara teori, tetapi rentan secara nyata. Itu fakta.



