Suasana diskusi Refleksi Bencana Sumatra untuk Sulteng di Nemu Buku, Kamis (11/12/2025). (Foto: Heri/rindang.ID)

Malam di Nemu Buku: Belajar dari Sumatra, Sebelum Bencana Menyapa Sulawesi Tengah

PALU, rindang.ID | Halaman Perpustakaan Nemu Buku di jalan Tanjung Tururuka malam itu menjelma ruang permenungan bersama, ketika Koalisi Komunitas Baku Bantu untuk Sumatra menggelar diskusi bertajuk Refleksi Bencana Sumatra untuk Sulawesi Tengah, Kamis (11/12/2025).

“Ini menjadi ruang bersama bagi kita semua untuk bicara tentang bencana ekologis di Sumatra dan mencari jawaban apakah bencana serupa bisa terjadi di daerah kita, Sulawesi Tengah?” Neni Muhidin, inisiator Numu Buku memulai memoderasi diskusi malam itu.

Dan di tengah sajian pisang rebus dan kopi, percakapan tentang bencana, hutan, dan masa depan lanskap Sulawesi Tengah mengalir dengan hangat namun penuh kegelisahan.

Diskusi diawali dengan pemutaran film dokumenter ‘Menjaga Kamalisi’ karya Cosmo Productions. Film ini merekam keseharian masyarakat Kamalisi dari Suku Kaili yang bermukim di pegunungan barat Kota Palu. Di balik bentang alam yang tampak tenang, ruang hidup mereka kian terjepit oleh aktivitas pertambangan galian C. Debu tambang yang mengganggu kesehatan, lahan pertanian yang menyempit, hingga klaim sepihak kawasan hutan oleh otoritas pengelola konservasi menjadi potret nyata tekanan yang dihadapi warga Kamalisi.

Film ini menjadi pengingat bahwa bencana ekologis tak selalu datang tiba-tiba, melainkan tumbuh perlahan, menggerogoti ruang hidup masyarakat.

Diskusi kemudian dipantik oleh Given dari Yayasan KOMIU. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data MapBiomas Indonesia periode 2000–2022, industri yang paling besar menyumbang deforestasi di Sulawesi Tengah adalah perkebunan kelapa sawit.

“Data tersebut mencatat perubahan tutupan hutan menjadi perkebunan sawit mencapai 36.367 hektare, jauh lebih luas dibandingkan konversi hutan menjadi lubang tambang yang tercatat seluas 6.630 hektare,” kata Given.

Angka-angka ini memperlihatkan bahwa ancaman terhadap hutan tak hanya datang dari tambang, tetapi juga dari ekspansi perkebunan skala besar.

Perspektif iklim disampaikan Asep Firman Ilahi dari Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri. Ia menjelaskan bahwa badai dan cuaca ekstrem yang terjadi di Sumatra merupakan fenomena yang jarang dan menandai fase baru perubahan iklim global. Fenomena tersebut bahkan mematahkan teori meteorologi klasik yang menyebut badai cenderung menjauhi wilayah khatulistiwa.

Secara teoritis, Sulawesi Tengah memang berada pada zona yang relatif aman karena berada di bawah lima derajat lintang. Namun, menurut Asep, perubahan iklim membuat anomali semacam ini tak lagi mustahil terjadi.

“Sulawesi Tengah memang belum pernah mengalami siklon, tetapi bukan berarti ancaman itu tak akan datang,” Asep menjelaskan.

Kekhawatiran tersebut dikuatkan oleh Sadiq, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Sulawesi Tengah. Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya soal penanggulangan bencana setelah kejadian, melainkan bagaimana semua pihak meningkatkan kapasitas menghadapi ancaman sejak dini. Mitigasi, menurutnya, harus menjadi bagian penting agar dampak bencana dapat diminimalisasi.

Pendekatan yang lebih luas disampaikan Masturido, Area Manajer Sulawesi Tengah Sheep Indonesia. Ia menekankan pentingnya melihat risiko bencana dengan pendekatan lanskap, bukan sekadar batas administrasi.

Rido mencontohkan Kota Palu tak akan mampu menghindari banjir jika tidak berkolaborasi dengan Kabupaten Sigi yang memiliki kewenangan di wilayah hulu sungai. Dari hasil pengamatan Sheep Indonesia, Sigi menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan banjir tinggi di Sulawesi Tengah. Sungai besar beserta ratusan anak sungai yang melintasi desa-desa mengalami pendangkalan akibat sedimentasi. Ancaman kian besar karena sebagian sungai berada di bawah perbukitan yang telah longsor dan membentuk kubangan air pascagempa 2018.

Di antara diskusi yang sarat data dan refleksi, satu hal menarik perhatian: mayoritas peserta malam itu adalah anak-anak muda Gen Z. Mereka datang dengan antusias, menyimak, dan bertanya tentang hutan, iklim, serta hubungan manusia dengan alam. Kehadiran mereka memberi harapan bahwa kesadaran ekologis tengah tumbuh di generasi yang akan mewarisi lanskap Sulawesi Tengah.

Diskusi ini juga menjadi ruang solidaritas. Selain bertukar gagasan, acara tersebut dimanfaatkan untuk menggalang donasi bagi korban bencana di Sumatra. Koordinator Baku Bantu untuk Sumatra, Abdi Saputra, menjelaskan bahwa koalisi juga tengah mengupayakan dukungan bagi mahasiswa asal Sumatra yang keluarganya terdampak bencana.

Mereka juga membangun jejaring dengan komunitas dan organisasi yang terlibat langsung dalam penanganan bencana guna memastikan bantuan tepat sasaran.

Ke depan, diskusi reflektif semacam ini direncanakan digelar di berbagai lokasi lain. Harapannya, kesadaran ekologis tak berhenti di satu ruang diskusi, tetapi meluas dan mendorong perubahan nyata dalam tata kelola lingkungan di Sulawesi Tengah dengan belajar dari bencana di tempat lain, sebelum bencana itu hadir di depan mata sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top