Warga memilih-miliha pakaian untuk ditukarkan dengan baju bekas dalam Swap & Save oleh Bumi Kota Lestari di SFD Palu, Minggu (24/5/2026). (©rindang.ID/AI)
Warga memilih-miliha pakaian untuk ditukarkan dengan baju bekas dalam Swap & Save oleh Bumi Kota Lestari di SFD Palu, Minggu (24/5/2026). (©rindang.ID/AI)

Swap & Save: Ketika Baju Bekas Jadi Senjata Melawan Sampah Fashion

PALU, rindang.ID | Minggu (24/5/2026) pagi di Car Free Day (CFD) Palu, ada sudut yang agak berbeda. Kali ini, bukan hanya orang-orang berlari atau bersepeda, tapi ada kelompok anak muda yang sibuk mengatur tumpukan baju. Mereka dari komunitas Bumi Kita Lestari yang sedang menjalankan aksi “Swap & Save”—kegiatan menukar baju yang sederhana tapi punya arti.

Dinda Munifah, co founder komunitas Bumi Kita Lestari, membantu seorang perempuan muda memilih baju dari tumpukan yang tersedia. Senyum puas terukir saat dia berhasil menemukan baju yang cocok untuk ditukar dengan miliknya.

“Baju ini sudah lama di rumah, jarang dipakai,” kata seorang pengunjung sambil melepas cardigan berwarna biru. Cerita seperti ini terulang berkali-kali. Puluhan orang datang dengan baju yang mereka anggap sudah tidak perlu, namun masih dalam kondisi bagus. Mereka menukarnya dengan baju lain pilihan mereka. Tidak ada uang yang ditukar, hanya kebutuhan dan keinginan untuk memberi baju bekas.

Dinda melihat fenomena fast fashion yang menjadi masalah besar tapi sering diabaikan. “Banyak sekali orang yang membeli baju terus menerus tanpa menyadari dampaknya,” ujarnya. Data yang dia sebutkan cukup mengejutkan: dunia menghasilkan 92 juta ton sampah fashion per tahun. Angka itu sulit dibayangkan sampai Dinda memberikan analogi. “Setiap detik, ada sampah baju sebanyak satu truk. Bayangkan, dalam sebulan berapa truk itu?” Beberapa orang yang mendengarnya langsung terperangah.

Fenomena fast fashion bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Harga baju yang semakin murah, tren yang terus berganti, dan kemudahan berbelanja online membuat orang menjadi konsumen baju yang sangat aktif. Baju-baju yang dipakai hanya beberapa kali kemudian terbengkalai di lemari. Entah karena tren sudah berubah, ukuran berubah, atau sekadar bosan. Hasilnya, lemari penuh tapi tetap terasa tidak ada yang mau dipakai.

Komunitas Bumi Kita Lestari memulai dengan cara yang sangat grassroots. Mereka tidak membuat petisi besar atau kampanye mahal. Mereka cukup mengajak anak muda datang dengan baju yang tidak dipakai dan menukarnya dengan baju yang mereka inginkan. Sederhana, tapi efektif. “Kami ingin menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal-hal kecil,” kata Dinda.

Di sisi lain dari acara, seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Reza sedang mencari baju yang sesuai. Dia datang tanpa ekspektasi tinggi, hanya ingin coba-coba. Tapi saat menemukan baju yang dia suka, matanya bersinar.

“Ini bagusan daripada yang saya bawa,” katanya sambil menunjukkan baju pilihan barunya. Momen seperti itu, entah disadari atau tidak, adalah bagian dari perubahan. Satu orang yang memilih mendaur ulang daripada membeli baru. Satu baju yang terselamatkan dari tumpukan sampah.

Apa yang dilakukan komunitas ini bukan hanya tentang baju. Ini tentang kesadaran. Ini tentang anak muda yang mulai bertanya: apakah saya perlu membeli baju baru? Apakah baju lama ini masih bisa dipakai? Apakah ada orang lain yang membutuhkannya? Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini sebenarnya adalah revolusi kecil dalam cara kita berhubungan dengan konsumsi.

Dinda berharap kegiatan ini tidak hanya berlangsung sekali. Dia ingin Swap & Save menjadi kebiasaan, sesuatu yang orang-orang tunggu-tunggu setiap bulannya. “Kalau 92 juta ton sampah fashion itu terasa jauh, bayangkan kalau setiap minggu kami menyelamatkan 100 baju dari tempat sampah. Dalam setahun itu ribuan baju. Dalam lima tahun itu puluhan ribu,” ujarnya antusias. Angka itu mungkin terasa kecil dibanding masalah global, tapi untuk seseorang yang peduli, setiap baju yang terselamatkan adalah kemenangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top