PALU, rindang.ID | Timbulan sampah di Kota Palu masih menjadi persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius.
Berdasarkan Dokumen Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (DIKPLHD) Kota Palu Tahun 2024, total timbulan sampah di ibu kota Sulawesi Tengah ini mencapai 526,97 meter kubik per hari atau setara 194,98 ton per hari.
Dalam setahun, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Palu mencapai sekitar 71.167,52 ton. Angka tersebut menunjukkan tingginya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan hingga pemrosesan akhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Data DIKPLHD mencatat Kecamatan Mantikulore menjadi wilayah dengan timbulan sampah tertinggi di Kota Palu, yakni mencapai 113,22 meter kubik per hari. Posisi berikutnya ditempati Kecamatan Palu Selatan dengan 97,97 meter kubik per hari, disusul Kecamatan Tatanga sebesar 74,48 meter kubik per hari.
Sementara itu, Kecamatan Palu Barat menghasilkan 63,79 meter kubik sampah per hari, Palu Timur 60,46 meter kubik per hari, Ulujadi 50,46 meter kubik per hari, Palu Utara 34,69 meter kubik per hari, dan Tawaeli menjadi wilayah dengan timbulan sampah terendah sebesar 31,89 meter kubik per hari.
Tingginya timbulan sampah di Mantikulore tidak terlepas dari luas wilayah dan pertumbuhan kawasan permukiman yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Selain kawasan hunian, aktivitas ekonomi dan pembangunan yang berkembang turut berkontribusi terhadap peningkatan volume sampah.
Secara umum, sampah di Kota Palu berasal dari berbagai aktivitas masyarakat yang tersebar di kawasan permukiman, pusat perdagangan, fasilitas sosial, dan fasilitas umum. Untuk kategori non-rumah tangga, sumber sampah berasal dari pertokoan, perkantoran, pasar, hotel, dan sekolah.
DIKPLHD juga mencatat adanya potensi tambahan timbulan sampah dari wilayah perbatasan Kota Palu dan Kabupaten Sigi. Tiga kelurahan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sigi, yakni Birobuli Selatan, Palupi, dan Tavanjuka, berpotensi menerima tambahan sampah dari aktivitas warga luar kota yang bekerja, berbelanja, atau beraktivitas di Palu.
Di wilayah pesisir, persoalan sampah juga muncul dalam bentuk sampah laut yang didominasi limbah rumah tangga. Sampah-sampah tersebut kerap terbawa aliran sungai dan bermuara di kawasan pantai Teluk Palu.
Dari sisi komposisi, sampah rumah tangga di Kota Palu masih didominasi sampah organik berupa sisa makanan dan daun yang mencapai 70,96 persen. Sementara pada kategori non-rumah tangga, sampah organik menyumbang sekitar 43 persen dari total timbulan.
Dominasi sampah organik sebenarnya membuka peluang besar untuk pengurangan sampah melalui pengomposan dan pengolahan berbasis masyarakat. Namun hingga kini sebagian besar sampah masih berakhir di TPA.
Pemerintah Kota Palu mencatat sekitar 97,08 persen timbulan sampah telah terkelola. Dari jumlah tersebut, 9,89 persen ditangani melalui upaya pengurangan, sedangkan 87,19 persen melalui penanganan seperti pengangkutan dan pemrosesan.
Meski capaian pengelolaan cukup tinggi, tantangan terbesar masih terletak pada tingginya volume residu yang harus ditimbun di TPA Kawatuna. Rata-rata sampah yang masuk ke TPA mencapai 143,03 ton per hari, dengan residu yang akhirnya ditimbun sekitar 141,26 ton per hari.
Kondisi ini menunjukkan sebagian besar sampah yang dihasilkan warga masih berakhir di tempat pembuangan akhir. Jika tidak diimbangi dengan peningkatan program pengurangan sampah dari sumbernya, kapasitas TPA berpotensi menghadapi tekanan yang semakin besar pada masa mendatang.
Selain pengurangan sampah rumah tangga, penguatan sistem pemilahan di tingkat warga, pengembangan bank sampah, pengolahan sampah organik, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting untuk menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
Dengan timbulan sampah yang mencapai lebih dari 71 ribu ton per tahun, Kota Palu dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya mengangkut sampah, tetapi juga mengurangi produksi sampah dari sumbernya. Upaya tersebut menjadi kunci untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.



