Warga Kota Palu menunjukan wadah Tonda atau Bingga yang jadi alternatif plastik sekali pakai. (Foto: rindang.ID)

Tonda; Wadah yang Menyambung Tradisi, Menjawab Tantangan Sampah Plastik di Kota Palu

PALU, rindang.ID | Di tengah upaya Kota Palu mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai, sebuah solusi lokal bernama Tonda mulai mendapat sorotan.

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palu, pada tahun 2023, total timbulan sampah mencapai 97.492 ton, dengan 10,4 persen di antaranya berupa sampah plastik. Ini berarti sekitar 10.139 ton sampah plastik dihasilkan dalam setahun.

Upaya pengurangan telah dilakukan melalui berbagai program, termasuk Pemerintah Kota Palu telah mengambil langkah konkret dengan menerbitkan Peraturan Wali Kota No. 40 Tahun 2021 tentang Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai dan Styrofoam.

Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi timbulan sampah plastik dan mendorong penggunaan alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Lalu apa wadah pengganti plastik sekali pakai yang bisa jadi alternatif di Kota Palu?

Salah satunya adalah Tonda. Wadah tradisional yang terbuat dari bahan alami ini bisa menjadi alternatif ramah lingkungan, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan dampak buruk sampah plastik terhadap lingkungan.

Wadah kurban dengan memanfaatkan daun besek untuk mengurangi sampah plastik. (Foto: Antara/Syaiful Arif)
Wadah kurban dengan memanfaatkan daun besek untuk mengurangi sampah plastik. (Foto: Antara/Syaiful Arif)

Sejak lama sejumlah komunitas di Kota Palu telah mendorong wadah tradisional ini menggantikan plastik. Salah satunya Komunitas Historia Sulawesi Tengah.

Wadah yang biasanya terbuat dari anyaman bambu maupun daun selar dan kelapa ini tidak hanya ramah lingkungan, namun sesuai dengan budaya lokal.

“Kami sejak tahun 2019 merekomendasikan Tonda sebagai pengganti plastik sekali pakai karena secara ekologis dan kultural, ini sangat sesuai dengan konteks lokal,” Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah, Mohamad Herianto mengatakan.

Namun kata Herianto, tantangan muncul karena Tonda sering dianggap “jadul” oleh generasi muda, sehingga kurang diminati.

Untuk mengatasi stigma tersebut, riset dan inovasi desain Tonda yang lebih menarik bagi masyarakat modern menurut Anto harus dilakukan berbagai pihak.

Dengan sentuhan kreatif, Tonda dapat menjadi simbol gaya hidup berkelanjutan yang menggabungkan tradisi dan inovasi.

Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat, serta inovasi dalam desain dan produksi Tonda, membuat Kota Palu memiliki peluang besar untuk menjadi contoh dalam pengelolaan sampah plastik yang berkelanjutan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top