Parigi Moutong, rindang.ID | Relawan Forum Komunikasi Pecinta Alam Pantai Timur (FKPAPT) akan menanam mangrove di Kawasan Teluk Tomini pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sekaligus ulang tahun ke-22 FKPAPT pada 13-14 Juni mendatang.
Aksi ini bukan sekadar simbolis. Ini adalah bentuk nyata perlawanan terhadap krisis lingkungan yang semakin merajalela di Parigi Moutong.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Sulawesi Tengah, wilayah ini telah kehilangan lebih dari 1.200 hektare hutan mangrove dalam satu dekade terakhir akibat alih fungsi lahan dan pembalakan liar. Air sungai yang dulunya jernih kini tercemar oleh limbah domestik dan aktivitas tambang ilegal.
“Dampaknya sudah jelas. Populasi ikan menurun drastis, abrasi pantai semakin parah, dan banjir tahunan mulai mengancam banyak desa,” ungkap Leo Chandra, Ketua FKPAPT, dengan sorot mata penuh kekhawatiran.
Di kawasan Desa Parigimpu’u, Kecamatan Parigi Barat, sungai yang dulu menjadi sumber kehidupan masyarakat kini berubah warna, lumpur pekat membuat warga enggan lagi memanfaatkan airnya.
Dalam upaya penyelamatan lingkungan, FKPAPT menggelar aksi di dua titik utama pegunungan Desa Parigimpu’u – Penanaman pohon di bantaran sungai, dan pesisir Teluk Tomini, Desa Mertasari – Penanaman mangrove sebagai pertahanan alami
“Kami percaya bahwa perbaikan ekosistem harus dilakukan dari hulu ke hilir. Sungai dan laut adalah satu kesatuan yang saling berkaitan, sehingga pemulihan harus bersifat menyeluruh,” jelas Leo.
Tak hanya aksi tanam pohon, FKPAPT juga menjalankan program konservasi ‘Satu Juta Mangrove untuk Teluk Tomini’, yang telah berhasil merehabilitasi beberapa titik pesisir di Parigi Moutong.
FKPAPT juga mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan untuk mendukung aksi konservasi, mulai dari daur ulang limbah dengan metode inovatif, pemantauan deforestasi lewat satelit, dan filtrasi air dan sistem irigasi pintar
“Jika teknologi dimanfaatkan dengan baik, kita bisa menciptakan perubahan besar tanpa harus merusak lingkungan lebih jauh,” tambah Leo.
Leo menegaskan bahwa pelestarian tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi semua orang memiliki peran.
“Gunakan ulang barang, kurangi plastik, dan tanam pohon di pekarangan. Tidak harus menunggu aksi besar, karena perubahan bisa dimulai dari hal kecil,” pungkasnya.
Krisis lingkungan di Parigi Moutong sudah di ambang batas. Namun, masih ada harapan jika aksi nyata terus dilakukan, kolaborasi ditingkatkan, dan kesadaran masyarakat semakin luas. (bmz)



