PALU, rindang.ID | Kepala Stasiun Pemantauan Atmosfer Global Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi, mengingatkan potensi kekeringan serius di Sulawesi Tengah pada 2026 akibat kombinasi fenomena ENSO positif dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Menurut Asep, berdasarkan pola historis anomali curah hujan periode 1990–2025, kondisi coupling ENSO+ dan IOD+ umumnya menyebabkan defisit hujan yang konsisten di sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah, terutama pada semester kedua setiap tahun.
“Defisit hujan lebih dari 200 milimeter per bulan berpotensi terjadi pada Juli hingga Oktober, khususnya di wilayah pesisir utara dan lembah Palu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, risiko kekeringan meteorologis diperkirakan mulai meningkat sejak Juni 2026 dan dapat berlangsung hingga akhir tahun.
Dampaknya bukan hanya pada penurunan curah hujan, tetapi juga terhadap debit sungai dan waduk yang diprediksi turun drastis sehingga memicu keterbatasan suplai air irigasi.
Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi sektor pertanian, terutama tanaman pangan seperti padi gogo, jagung, dan kedelai. Tanaman-tanaman itu disebut rentan mengalami gagal panen apabila masa tanam terlambat dilakukan.
Sebagai langkah antisipasi, SPAG Lore Lindu Bariri menyarankan petani di wilayah rawan kekeringan untuk mulai mempertimbangkan komoditas yang lebih tahan terhadap kondisi kering.
Selain itu, percepatan masa tanam padi sebelum Mei 2026 juga direkomendasikan guna mencegah risiko puso atau gagal panen pada fase generatif tanaman.
Peta ancaman kekeringan Sulawesi Tengah 2026 yang dipaparkan SPAG Lore Lindu Bariri menunjukkan distribusi risiko yang berbeda di setiap wilayah.
Daerah Buol dan Tolitoli berada pada kategori rendah hingga sedang, sementara wilayah Morowali dan Banggai masuk kategori sangat tinggi.
Wilayah dengan status zona merah tua meliputi Kabupaten Sigi, Donggala, Morowali, dan Banggai. Kawasan tersebut disebut menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi krisis air dan ketahanan pangan.
Sementara itu, wilayah berstatus zona oranye seperti Poso, Tojo Una-Una, dan Parigi Moutong dinilai memerlukan penguatan sistem irigasi yang lebih efisien serta diversifikasi tanaman pangan.
Adapun Buol dan Tolitoli yang berada di zona kuning tetap diminta waspada, terutama apabila fenomena El Niño berkembang lebih kuat dari prakiraan awal.
SPAG Lore Lindu Bariri juga mengingatkan bahwa ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga meningkatkan potensi kebakaran lahan dan krisis air bersih di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.



