PALU, rindang.ID | Membicarakan Kota Palu yang akan berulang tahun pada 27 September, pada dasarnya adalah membicarakan lanskap yang membentuknya; Sungai dan sesar, dua elemen besar yang menentukan eksistensi kota ini tak bisa dipisahkan dari sejarah, budaya, dan bahkan identitas masyarakatnya.
Di antara keduanya, Sungai Palu menjadi garis hidup yang merekam denyut panjang perjalanan kota di lembah ini.
Sungai bagi warga Palu bukan sekadar aliran air yang membelah kota menjadi timur dan barat, melainkan ruang hidup, jalur transportasi, arena ritual, sekaligus sumber penghidupan.
Di masa lalu, Sungai Palu menjadi jalur perahu yang hilir-mudik dari pesisir menuju jauh ke hulu hingga Bangga. Ketika akses penyeberangan masih terbatas, perahu bermesin tempel menjadi jembatan hidup, mengantarkan orang-orang dari timur menuju Pasar Tua di barat dan sebaliknya.
Tak hanya itu, nama “Palu” sendiri menurut koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah, Herianto, dipercaya memiliki kaitan erat dengan sungai. Salah satu versi menyebutkan nama kota ini berasal dari volo vatu napalu, sejenis bambu kerdil yang tumbuh merambat di tepian Sungai Palu.
Jejak bahasa, flora, dan aliran air berpadu menjadi tanda yang kemudian abadi dalam nama kota.
Sungai dalam Kehidupan dan Kepercayaan
Sungai Palu tak hanya menghubungkan ruang fisik, tetapi juga ruang batin masyarakatnya. Dalam tradisi budaya, kata Herianto sungai dipercaya mampu membersihkan “kotoran” yang ditinggalkan manusia.
Benda-benda tertentu dihanyutkan sebagai bagian dari ritual, seakan air yang mengalir mampu membawa pergi segala beban.
Lebih dari itu, Sungai Palu adalah sumber kehidupan. Airnya digunakan untuk bercocok tanam, sawah dan kebun di sepanjang lembah. Pasirnya diambil dengan gerobak untuk menopang mata pencaharian sekaligus mengurangi sedimentasi. Sungai adalah nadi, yang jika berhenti, kehidupan kota pun akan ikut melemah.
Namun, Sungai Palu juga menjadi saksi rentetan sejarah kebencanaan di lembah ini. Bersama Sesar Palu Koro, ia merekam ingatan kolektif tentang rapuhnya bentang alam yang menjadi tempat berpijak.
“Kerusakan di hulu adalah bencana di hilir,” ungkapan itu kerap menjadi peringatan, bahwa harmoni dengan sungai dan lanskapnya adalah syarat bertahan di kota ini.
Banjir akibat Sungai Palu yang meluap masih terjadi setiap tahun, cerita yang terus berulang yang menandai pentingnya melihat sungai saat membangun Kota Palu.
Sebagai bagian dari refleksi atas catatan panjang itu, Komunitas Historia Sulawesi Tengah menggagas rangkaian kegiatan bertajuk “Mengayuh Sejarah di Sungai Palu” pada 28 hingga 29 September.
Agenda ini meliputi pameran arsip, jelajah kota (walking tour), dan diskusi santai.
Kawasan Wisata Kuliner Kalikoa, Ujuna, Palu Barat dipilih sebagai lokasi kegiatan, tempat di mana warga bisa menyelami kembali jejak kota yang tumbuh bersama sungai dan sesar.
Momen ini bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-47 Kota Palu pada 27 September.
Berbagai rangkaian kegiatan itu menegaskan posisi penting Sungai Palu dalam narasi sejarah Kota Palu yang sudah berusia 47 tahun.
Sungai Palu tetap mengalir, membawa ingatan tentang perahu-perahu kayu, ritual penghanyutan, hingga pasir yang diangkut gerobak. Sungai inilah yang menegaskan bahwa Palu tak hanya berdiri di atas tanah, tetapi juga di atas air dan ingatan kolektif warganya.
“Sungai Palu bukan sekadar bentang air, tetapi cermin perjalanan budaya masyarakat lembah, masyarakat Kota Palu,” kata Herianto.



