PALU, rindang.ID | Sebuah upaya kecil namun bermakna bagi keberlangsungan ekosistem laut Teluk Palu dilakukan sekelompok mahasiswa Untad bersama sejumlah peneliti. Selama akhir Agustus hingga awal September 2025 mereka menenggelamkan tujuh buah mini-fishdom, struktur buatan menyerupai rumah bawah laut serta lebih dari seratus fragmen karang Acropora sp di perairan sekitar Kelurahan Taipa, Kota Palu.
Aksi itu dilakukan puluhan mahasiswa Himpunan Mahasiswa Perikanan (HIMARIN) Universitas Tadulako bersama tim Ekspedisi Riset Akuatika (ERA).
Bagi sebagian orang, mungkin itu sekadar kegiatan akademis. Tetapi bagi mereka yang terlibat, aksi transplantasi karang ini adalah bentuk nyata kepedulian pada laut dan kehidupan yang bergantung padanya.
“Harapannya, karang-karang ini tumbuh sehat, menjadi rumah bagi ikan-ikan, dan pada akhirnya bermanfaat juga bagi nelayan,” ujar Moh. Zidan, penanggung jawab kegiatan.
Kegiatan yang didukung Yayasan Hadji Kalla melalui coral donation ini tidak berhenti pada aksi di dasar laut. Sebelum para mahasiswa turun menyelam, mereka dibekali pengetahuan melalui workshop daring, sosialisasi konservasi ke sekolah, hingga pelatihan pembuatan artificial reef.
Ada banyak tangan yang ikut bekerja sama mulai dari dosen Universitas Alkhairaat, pegiat Coral Defender Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, hingga komunitas selam lokal seperti Salolo Diving Club. Bahkan, siswa MTs Negeri 4 Kota Palu pun diajak merasakan pengalaman belajar menjaga karang.
“Semoga kegiatan ini bisa terus berlanjut. Bukan hanya menambah jumlah karang yang ditanam, tapi juga memperluas kesadaran generasi muda tentang laut,” kata Febriansyah, Ketua HIMARIN.
Teluk Palu bukan sekadar pemandangan landskap yang membentang dari Kota Palu hingga Kabupaten Donggala. Ia adalah ruang hidup: benteng alami dari abrasi, dapur protein bagi masyarakat pesisir, sekaligus laboratorium kehidupan bagi spesies laut.
Sayangnya, bencana alam dan aktivitas manusia selama bertahun-tahun telah melukai terumbu karang di kawasan ini. Jika dibiarkan, kerusakan itu bukan hanya mengurangi keindahan bawah laut, tetapi juga mengancam keberlanjutan hidup nelayan yang menggantungkan nasib pada laut.
Di titik inilah transplantasi karang menjadi penting. Bukan hanya menumbuhkan kembali ekosistem yang rusak, melainkan juga menanam harapan bahwa Teluk Palu bisa kembali sehat, dan masyarakat pesisir bisa hidup berdampingan dengan laut secara berkelanjutan.
Di bawah air jernih Kelurahan Taipa, struktur mini-fishdom kini mulai beradaptasi dengan lingkungan laut. Mengundang ikan-ikan kecil mendekat, menjelajahi rongga-rongga buatan yang suatu hari nanti akan dipenuhi karang berwarna.
Bagi mahasiswa yang terlibat, pengalaman itu tak sekadar praktik lapangan. Ia adalah pelajaran hidup. Tentang bagaimana menjaga laut bukan tugas satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama.



