PALU, rindang.ID | Tahun 2025 menjadi penanda betapa cuaca di Sulawesi Tengah makin sulit ditebak. Dalam rentang bulan yang sama, sebagian wilayah mengalami kekeringan panjang seolah “puasa” hujan, sementara daerah lain justru diguyur hujan ekstrem tanpa jeda.
Catatan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri menunjukkan kontras iklim yang kian tajam yang juga menunjukkan potret nyata perubahan iklim yang kian terasa.
Di sejumlah wilayah, hujan turun dengan intensitas yang mencengangkan. Gimpu di Kabupaten Poso mencatat rekor curah hujan harian tertinggi sepanjang 2025, mencapai 201,0 milimeter dalam satu hari. Tak jauh berbeda, wilayah Liang, Banggai Kepulauan, mencatat 200,7 milimeter, disusul Kola-Kola, Donggala, dengan 196,5 milimeter.
Bahkan Stasiun Tolitoli melaporkan hujan ekstrem sebesar 193,2 milimeter yang terjadi pada 28 Mei 2025. Guyuran hujan dalam volume besar ini tak jarang memicu genangan, longsor, hingga gangguan aktivitas warga.
Namun di sisi lain, kemarau terasa begitu panjang. Mamosalato di Morowali Utara menjadi simbol kekeringan ekstrem dengan catatan 105 hari berturut-turut tanpa hujan sama sekali. Sebaliknya, Mori Utara mengalami kondisi yang nyaris berkebalikan: hujan turun tanpa henti selama 24 hari berturut-turut, menciptakan kesan “hujan abadi” di wilayah tersebut.
Panas juga menjadi cerita besar tahun ini, terutama bagi warga Kota Palu. Pada 2 Desember 2025, suhu udara menembus 37,2 derajat Celsius, panas yang oleh sebagian warga diibaratkan seperti berada di dalam oven. Kontras terasa di Poso, yang justru mencatat suhu terendah tahun 2025, yakni 19,6 derajat Celsius pada pertengahan Juli.
Data jangka panjang memperlihatkan gambaran yang lebih mengkhawatirkan. Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri mencatat bahwa dalam periode 1976–2023, suhu rata-rata di Palu meningkat sekitar +0,45 derajat Celsius, dengan rekor suhu tertinggi mencapai 39,6 derajat. Palu bahkan menjadi wilayah dengan tren kenaikan suhu tertinggi di Sulawesi Tengah.
Peningkatan suhu ini tak lepas dari laju urbanisasi yang pesat. Dominasi permukaan beton, minimnya ruang hijau, serta berkurangnya vegetasi menciptakan efek urban heat island yakni panas terperangkap di kawasan perkotaan dan sulit dilepaskan kembali ke atmosfer. Kota pun menjadi semakin gerah, terutama saat musim kemarau.
“Kaleidoskop cuaca 2025 ini memperlihatkan Sulawesi Tengah bak dua sisi mata uang. Di satu sisi, Palu bergulat dengan panas menyengat; di sisi lain, Gimpu dan Mori Utara hidup di bawah bayang-bayang hujan yang nyaris tak henti,” Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi menjelaskan.
Ini juga menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana global yang jauh, melainkan realitas yang hadir di halaman rumah kita.



