48 Tahun Kota Palu: Kota yang Tumbuh di Tengah Panas dan Kebutuhan Teduh
Pembangunan tentu menjadi bagian dari kebutuhan warga. Jalan, ruang publik, fasilitas ekonomi, dan permukiman terus dibutuhkan. Namun, kota juga memiliki batas ekologis.
Pembangunan tentu menjadi bagian dari kebutuhan warga. Jalan, ruang publik, fasilitas ekonomi, dan permukiman terus dibutuhkan. Namun, kota juga memiliki batas ekologis.
Dalam setahun, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Palu mencapai sekitar 71.167,52 ton. Angka tersebut menunjukkan tingginya tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah, mulai dari pengumpulan, pengangkutan hingga pemrosesan akhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Tahun ini, capaian tertinggi Palu hanya menempatkannya di kelompok 35 daerah penerima sertifikat menuju kota bersih. Secara nasional, terdapat 253 kabupaten/kota dalam tahap pembinaan dan 132 kabupaten/kota dalam pengawasan.
Memasuki awal 2026, fatwa tersebut mulai disosialisasikan secara luas. Bagi kota pesisir seperti Palu, kebijakan moral-keagamaan ini dinilai datang pada momentum yang tepat.
Tumpukan sampah masih menjadi pemandangan yang akrab di bantaran Sungai Palu. Plastik, popok sekali pakai, hingga potongan kayu terus terseret arus, tersangkut di semak-semak, lalu perlahan mengalir menuju Teluk Palu.
Sejumlah kemasan makanan dan minuman bertuliskan huruf asing yang diduga berasal dari China ikut terkumpul. Di antaranya botol minuman susu kalsium, plastik kemasan air mineral, hingga bungkus makanan instan.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari diskusi sebelumnya antara Pemerintah Kota Palu dan Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) KLH RI. Salah satu topik yang kembali mengemuka ialah rencana kerja sama pengolahan sampah dengan investor asal Jepang, yang digadang-gadang membawa pendekatan teknologi dan sistem yang lebih berkelanjutan.
Memahami dinamika cuaca dan iklim yang memengaruhi Teluk Palu menjadi modal penting untuk merumuskan kebijakan penanganan sampah pesisir. Pembersihan mungkin akan terus menjadi rutinitas, tetapi pengurangan volume, itulah pekerjaan yang seharusnya dimulai dari hulu, dari darat, dan dari kita sendiri.
Sore itu, beberapa pemancing duduk santai di atas tanggul batu gajah, melempar kailnya ke arah teluk. Di belakangnya, tumpukan sampah plastik berwarna-warni memenuhi celah-celah bebatuan besar. Botol minuman, styrofoam bekas wadah makanan, hingga potongan kayu berserakan tanpa tersisa ruang kosong. Pemandangan ini bukan lagi hal asing di muara Sungai Palu, dekat oprit bekas Jembatan Palu IV, yang kini menjadi saksi bisu persoalan lingkungan yang terus menggunung.
TPA Kawatuna yang sebelumnya dikenal sebagai TPA Poi Panda di Kelurahan Kawatuna, perlahan meninggalkan citra buruk tempat pembuangan sampah. Dulu identik dengan bau menyengat, tumpukan sampah semrawut, lalat, hingga kebakaran, kini kawasan tersebut sedang menuju pengelolaan yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan.