Warga memancing di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)
Warga memancing di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)

Muara Sungai Palu: Ketika Sampah Mengubur Mimpi Pariwisata

PALU, rindang.ID | Sore itu, beberapa pemancing duduk santai di atas tanggul batu gajah, melempar kailnya ke arah teluk. Di belakangnya, tumpukan sampah plastik berwarna-warni memenuhi celah-celah bebatuan besar. Botol minuman, styrofoam bekas wadah makanan, hingga potongan kayu berserakan tanpa tersisa ruang kosong. Pemandangan ini bukan lagi hal asing di muara Sungai Palu, dekat oprit bekas Jembatan Palu IV, yang kini menjadi saksi bisu persoalan lingkungan yang terus menggunung.

Setiap hari, arus Sungai Palu membawa puluhan bahkan ratusan kilogram sampah menuju muaranya. Material yang sulit terurai—terutama plastik sekali pakai—menumpuk di tepian, menciptakan lanskap kumuh di salah satu titik strategis Kota Palu yang berhadapan langsung dengan Teluk Palu. Yang lebih memprihatinkan, kondisi ini terjadi di kawasan yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu objek wisata unggulan kota.

Nelayan memperbaiki perahunya di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)
Nelayan memperbaiki perahunya di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)

Data dari pemerintah daerah menunjukkan, timbulan sampah di Kota Palu mencapai sekitar 71.633 ton per tahun. Setiap hari, volume sampah berkisar antara 150 hingga 200 ton, tergantung musim dan aktivitas warga. Sebagian besar dari volume tersebut akhirnya terbawa aliran sungai menuju laut, terakumulasi di muara, dan mencemari perairan pesisir.

Untuk mengangkut 150 ton sampah per hari saja, dibutuhkan sedikitnya 75 kendaraan pengangkut yang harus beroperasi dua kali sehari. Beban besar ini menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pengelolaan sampah kota yang masih jauh dari ideal. Dominasi sampah plastik yang terlihat jelas di kawasan muara menjadi cerminan nyata dari pola konsumsi masyarakat dan lemahnya infrastruktur pengelolaan limbah di sepanjang aliran sungai.

Di tengah kondisi yang memprihatinkan, kehidupan tetap berjalan. Beberapa warga terlihat duduk di atas tanggul batu, memancing atau sekadar menikmati pemandangan teluk, seolah telah terbiasa dengan lingkungan yang dipenuhi sampah. Kontras tajam ini menunjukkan betapa normalisasi terhadap degradasi lingkungan telah terjadi di tengah masyarakat. Yang seharusnya menjadi perhatian serius, kini dianggap sebagai bagian dari keseharian.

Warga menjaring ikan di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)
Warga menjaring ikan di dekat tumpukan sampah di pesisir Teluk Palu, Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (20/1/2026). (©rindang.ID/bmz)

Ironi semakin terasa ketika mengingat bahwa kawasan Teluk Palu memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata. Panorama teluk yang indah, garis pantai yang panjang, dan letaknya yang dekat dengan pusat kota seharusnya menjadi daya tarik wisatawan. Namun, serakan sampah plastik dan styrofoam justru merusak citra kawasan yang tengah dikembangkan. Mimpi menjadikan pesisir Palu sebagai magnet pariwisata terancam tenggelam di bawah tumpukan sampah yang terus bertambah.

Pemerintah daerah sebenarnya telah mencatat adanya penurunan volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir, dari sekitar 220 ton menjadi 123 ton per hari setelah diterapkannya pembatasan penggunaan plastik dan styrofoam. Meski demikian, data tersebut belum sepenuhnya tercermin di kawasan pesisir yang masih menjadi titik akumulasi sampah akibat rendahnya kesadaran warga dan terbatasnya fasilitas pengelolaan.

Tumpukan sampah di muara Sungai Palu menjadi peringatan keras bahwa pengembangan pariwisata pesisir tidak bisa dipisahkan dari penanganan lingkungan yang serius dan terstruktur. Tanpa edukasi publik yang masif, peningkatan kapasitas pengangkutan, serta kolaborasi erat antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas, kawasan yang diproyeksikan sebagai destinasi wisata ini akan terus berada dalam ketimpangan antara potensi ekonomi yang besar dan realitas ekologis yang semakin memprihatinkan. Teluk Palu menunggu pilihan: menjadi destinasi yang membanggakan atau tetap menjadi tempat pembuangan sampah terbesar kota.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top