PALU, rindang.ID | Mungkin karena cintanya yang besar pada Kota Palu, matahari dan panasnya sering datang lebih awal dan pulang lebih terlambat saban hari.
Pagi belum sepenuhnya meninggi ketika aktivitas warga mulai bergeliat. Siang pun belum benar-benar panjang, ruang-ruang terbuka telah menjadi tempat warga mencari teduh sekaligus ruang untuk berjumpa dengan alam.
Di bawah pepohonan, anak-anak berlari. Orang tua duduk berbincang. Pegawai menunggu bus. Kendaraan terus bergerak di jalan-jalan yang mengitari pusat kota.
Di antara beton, aspal, dan bangunan yang terus tumbuh, pepohonan menjadi ruang sederhana untuk beristirahat dari panas.
Namun, ruang teduh itu tidak selalu bertambah seiring pertumbuhan kota.
Di Taman Gelanggang Olahraga (GOR) Palu, misalnya, pepohonan menjadi bagian penting dari ruang publik di tengah kota. Kawasan seluas sekitar 180 x 110 meter itu pernah disurvei Komunitas Nemu Buku pada Mei 2025 dan ditemukan sedikitnya 206 pohon dari sekitar 17 jenis.
Ada ketapang kencana, trembesi, mahoni, cemara tiang, nunu atau beringin, pule, palem hingga pohon pelangi.
Pohon-pohon tersebut bukan sekadar penghias taman. Mereka menjadi peneduh, penyerap karbon, sekaligus bagian dari sistem alami yang membantu mengurangi panas di kawasan perkotaan.
Data Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri menunjukkan suhu rata-rata Kota Palu meningkat sekitar 0,45 derajat Celsius selama periode 1976–2023. Suhu tertinggi yang pernah tercatat mencapai 39,6 derajat Celsius. Palu juga tercatat sebagai wilayah dengan tren kenaikan suhu tertinggi di Sulawesi Tengah.
Karena itu, ketika sebuah pohon ditebang di tengah kota, persoalannya bukan hanya hilangnya satu batang dan tajuk. Ada fungsi ekologis yang ikut berkurang.
Pada 6 Agustus 2026, dua pohon di sisi utara Taman GOR ditebang dalam proses revitalisasi tahap II. Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu menyebut penebangan itu bagian dari peremajaan, sementara sejumlah pohon lainnya dipangkas karena dianggap tua atau memiliki bagian yang sakit.
Peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa pembangunan kota perlu berjalan bersama perlindungan ruang hijau.
Sebab, semakin sedikit pohon yang tumbuh di antara beton dan aspal, semakin besar pula tantangan kota menghadapi panas.
Ketika Udara Kerap Mengkhawatirkan
Panas bukan satu-satunya persoalan. Udara Kota Palu juga pernah menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan.
Pada 2 September 2026, pemantauan SPAG Lore Lindu Bariri mencatat konsentrasi PM2.5 mencapai 110 mikrogram per meter kubik, PM10 106 mikrogram, dan PM1 104 mikrogram. Angka tersebut menjadi salah satu catatan tertinggi dalam periode pemantauan tersebut. Beberapa hari sebelumnya, PM2.5 juga telah berada pada kisaran 70–79 mikrogram per meter kubik.
Musim kemarau, debu, titik panas, pembakaran, dan sejumlah aktivitas manusia menjadi bagian dari persoalan yang memengaruhi kualitas udara.
Pada 2025, pemantauan juga menunjukkan dinamika yang tajam. PM2.5 pernah mencapai 69 mikrogram per meter kubik, sedangkan PM10 mencapai 163 mikrogram per meter kubik. Pada periode hujan, kualitas udara dapat membaik karena hujan membantu mengendapkan partikel di atmosfer.
Artinya, udara bersih bukan sesuatu yang otomatis tersedia setiap hari.
Ia dipengaruhi oleh bagaimana kota mengelola ruang, kendaraan, debu, sampah, pembakaran hingga vegetasi.
Dari Rumah, Sampah Menuju Teluk
Di sisi lain, Kota Palu menghadapi persoalan yang terlihat setiap hari: sampah.
Data DIKPLHD Kota Palu 2024 mencatat timbulan sampah mencapai 526,97 meter kubik per hari atau sekitar 194,98 ton per hari. Dalam setahun, jumlahnya mencapai sekitar 71.167,52 ton.
Sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA Kawatuna.
Rata-rata sampah yang masuk ke TPA mencapai sekitar 143 ton per hari, dengan residu yang ditimbun sekitar 141 ton per hari.
Di permukiman, pasar, dan pusat aktivitas ekonomi, sampah terus diproduksi. Sebagian kemudian terbawa ke saluran air, sungai, hingga akhirnya menuju Teluk Palu.
Padahal, sebagian besar sampah rumah tangga merupakan sampah organik. Data DIKPLHD mencatat komposisinya mencapai sekitar 70,96 persen.
Angka itu menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan semata tentang kemampuan pemerintah mengangkut sampah.
Ada pekerjaan yang jauh lebih awal: mengurangi, memilah, dan mengolah sampah sejak dari rumah.
Kota yang Tumbuh, Alam yang Menopang
Empat puluh delapan tahun Kota Palu menjadi momentum untuk melihat kembali arah pertumbuhan kota.
Pembangunan tentu menjadi bagian dari kebutuhan warga. Jalan, ruang publik, fasilitas ekonomi, dan permukiman terus dibutuhkan. Namun, kota juga memiliki batas ekologis.
Pohon membutuhkan ruang untuk tumbuh. Sungai membutuhkan ruang untuk mengalir. Teluk membutuhkan perairan yang tidak dipenuhi sampah. Udara membutuhkan ruang agar polutan tidak terus terakumulasi.
Di tengah ancaman panas dan kualitas udara yang berubah, pohon di Kota Palu bukan lagi sekadar pelengkap lanskap. Begitu pula pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan.
Keduanya berkaitan langsung dengan kualitas hidup warga.
Maka, ketika Kota Palu memasuki usia ke-48, pertanyaan tentang masa depan kota bukan hanya seberapa banyak pembangunan yang telah dilakukan.
Tetapi juga: berapa banyak ruang teduh yang masih bisa diwariskan kepada anak-anak Palu?
Berapa banyak pohon yang masih berdiri ketika kota semakin padat?
Berapa banyak sampah yang berhasil dicegah sebelum sampai ke TPA dan Teluk Palu?
Dan apakah udara yang dihirup warga hari ini masih dapat menjadi udara yang sama sehatnya bagi generasi berikutnya?
Usia 48 tahun adalah perayaan. Tetapi bagi sebuah kota, ia juga kesempatan untuk bercermin.
Palu tidak hanya membutuhkan pembangunan yang membuat kota terlihat semakin maju. Palu membutuhkan kota yang tetap memberi ruang bagi manusia dan alam untuk hidup berdampingan.
Sebab kota yang nyaman bukan hanya kota yang memiliki banyak bangunan dan jalan.
Ia adalah kota yang masih menyediakan tempat untuk berteduh, udara untuk dihirup, air untuk mengalir, dan lingkungan yang layak diwariskan.



