Udara Kota Palu Kembali Memburuk, PM2.5 Capai 206 Mikrogram
Lonjakan partikulat tersebut menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Lonjakan partikulat tersebut menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Selain membantu menyediakan pupuk untuk kebun, pemanfaatan bahan organik menjadi kompos juga dapat mengurangi sampah sekaligus mendukung produksi pangan keluarga.
Tambak garam bukan semata tempat mencari penghasilan bagi Ebit. Di sana ada warisan turun-temurun yang harus dipertahankan.
Data PLN menunjukkan sekitar 51 persen bauran pasokan sistem Sulawesi Tengah berasal dari transfer sistem Sulbagsel. Sekitar separuh kapasitas transfer tersebut dipasok dari PLTA Poso.
Lonjakan paling signifikan terjadi pada Rabu (2/9). PM1 mencapai 104 µg/m³, PM2.5 110 µg/m³, dan PM10 106 µg/m³. PM2.5 dan PM10 sama-sama masuk kategori tidak sehat.
Konsentrasi partikulat halus PM2.5 di udara Kota Palu terpantau berada pada kategori tidak sehat dalam dua hari berturut-turut, 13–14 Agustus 2026.
Secara geografis, Kota Palu berada di lembah yang dikelilingi pegunungan. Kondisi ini menyebabkan panas dan debu lebih mudah terperangkap di kawasan perkotaan pada kondisi cuaca tertentu.
Penebangan pohon di kawasan Taman GOR menjadi sorotan karena lokasinya berada di pusat Kota Palu, di tengah tren peningkatan suhu yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir.
Dengan adanya staff gauge, masyarakat kini memiliki acuan visual untuk memantau kenaikan muka air. Informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan dapat diverifikasi dan segera disebarluaskan kepada warga lainnya sehingga proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi memasuki level berbahaya.
Kegiatan di Palu menjadi bagian dari upaya memperluas pendidikan kewargaan yang kontekstual dengan mengangkat persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar.