Seperti Banjir Nepal, Dolo Selatan Menyimpan Ancaman yang Sama di Hulu
Dolo Selatan memang tidak memiliki gletser seperti Nepal. Namun, gempa bumi 28 September 2018 telah mengubah kondisi pegunungan di kawasan ini.
Dolo Selatan memang tidak memiliki gletser seperti Nepal. Namun, gempa bumi 28 September 2018 telah mengubah kondisi pegunungan di kawasan ini.
Data tersebut menempatkan Sulawesi Tengah sebagai salah satu provinsi dengan tingkat risiko bencana tertinggi di Indonesia.
Selama ini perhatian publik banyak tertuju pada Sesar Palu-Koro, padahal gempa terbaru menunjukkan sesar lain seperti Sausu juga mampu menghasilkan guncangan kuat yang dirasakan hingga Palu dan Sigi.
Tradisi lisan, pengamatan terhadap alam, hingga penamaan wilayah terbukti menyimpan informasi krusial tentang ancaman bencana yang kerap luput dari pendekatan modern. Di tengah ancaman bencana di Sulawesi Tengah, pengetahuan lokal seperti itu terasa penting untuk diwariskan.
Baik Irma, Mutiara, maupun Rafli sama-sama yakin, sungai di Dolo Selatan mungkin tak pernah sepenuhnya jinak. Namun, di tangan generasi mudanya, harapan untuk hidup lebih siap berdampingan dengan risiko masih terus mengalir.
Laporan terbaru pada Kamis (5/2/2026) menyebut munculnya titik api baru di Desa Uevolo, yang berbatasan langsung dengan Desa Avolua. Kemunculan titik api tersebut menambah kekhawatiran akan meluasnya dampak karhutla ke wilayah lain.
Kebakaran tersebut umumnya bermula dari pembakaran rumput di kebun, pembakaran sampah, serta aktivitas lain yang memantik api di tengah kondisi cuaca kering.
PARIGI MOUTONG, rindang.ID | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sejak Minggu (31/1/2026), api muncul
Sungai dan pegunungan yang rapuh menjadi bagian dari lanskap Dolo Selatan. Bencana yang kerap terjadi memunculkan satu kesadaran bersama di tengah warga; banjir adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan.
Keberadaan situs ini memberi kesempatan bagi generasi yang tidak mengalami langsung tsunami untuk belajar dari ruang nyata, sehingga memupuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana alam di masa mendatang.