Tegaskan Ekonomi Hijau, Sigi Memulai Peta Jalan IAD Perhutanan Sosial
IAD sendiri adalah program pembangunan yang dirancang sebagai model pengembangan wilayah yang menempatkan perhutanan sosial sebagai fondasi.
IAD sendiri adalah program pembangunan yang dirancang sebagai model pengembangan wilayah yang menempatkan perhutanan sosial sebagai fondasi.
Baik Irma, Mutiara, maupun Rafli sama-sama yakin, sungai di Dolo Selatan mungkin tak pernah sepenuhnya jinak. Namun, di tangan generasi mudanya, harapan untuk hidup lebih siap berdampingan dengan risiko masih terus mengalir.
Katanya, saling berbagi cerita dapat membuat masalah yang tadinya kusut bisa jadi lebih terstruktur, perasaan lebih lega dan napas lebih longgar. Dan di momen Temu Wicara Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu berkelanjutan di Desa Pulu, semangat itu muncul.
Sungai dan pegunungan yang rapuh menjadi bagian dari lanskap Dolo Selatan. Bencana yang kerap terjadi memunculkan satu kesadaran bersama di tengah warga; banjir adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan.
Ina Tobani bukan seniman dalam pengertian panggung atau galeri. Ia adalah ibu rumah tangga di Desa Mataue, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, yang sejak usia 12 tahun telah bergelut dengan tradisi kuno; Kain Kulit Kayu.
Namun, kisah banjir Sungai Palu jauh lebih tua dari ingatan generasi hari ini. Jejaknya bahkan tercatat sejak zaman kolonial Belanda.
Sejumlah rekomendasi strategis mulai disusun. Salah satunya kata Zaiful adalah perlunya advokasi hukum untuk mempercepat proses IG sekaligus memperkuat perlindungan terhadap produk kopi lokal dari penggunaan nama yang tidak semestinya. Di sisi lain, pelestarian lingkungan dan budaya kopi dianggap mendesak, mengingat lanskap dan tradisi adalah elemen penting dalam nilai geografis sebuah produk.
Bagi masyarakat Palu, Donggala, dan Sigi, ancaman bencana bukan sekadar catatan sejarah tahun 2018. Ia masih menempel dalam ingatan dan pola gerak masyarakat hingga hari ini. Dari situ, Pokja Pesisir-DAS terbentuk pada 6 November 2025.
Penanaman jagung di Desa Matantimali ini merupakan bagian dari program nasional penanaman jagung kuartal IV tahun 2025 yang digelar serentak di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak 2021 produksi kopi di kabupaten ini relatif stabil, rata-rata mencapai 500 ribu ton per tahun, dengan luas lahan mencapai 3.106 hektare. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di lima kecamatan.