PALU, rindang.ID | Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026) kembali mengingatkan masyarakat bahwa wilayah ini berada di salah satu kawasan paling aktif secara tektonik di Indonesia.
Gempa yang berpusat sekitar 42 kilometer tenggara Palu dengan kedalaman 10 kilometer itu dirasakan kuat di Palu dan Sigi, memicu kepanikan warga meski tidak berpotensi tsunami.
BMKG menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu, dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault). Hingga beberapa jam setelah gempa utama, BMKG mencatat puluhan gempa susulan masih terjadi di sekitar wilayah Palu dan Sigi.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa ancaman gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro yang terkenal akibat bencana 2018, tetapi juga dari sejumlah sesar aktif lainnya yang tersebar di berbagai wilayah provinsi tersebut.
Sesar Palu-Koro, Ancaman Utama di Jantung Sulawesi Tengah
Sesar Palu-Koro merupakan sesar aktif paling dikenal di Sulawesi Tengah. Jalurnya membentang dari Teluk Bone hingga Selat Makassar, melintasi wilayah Sigi, Palu, Donggala, dan Parigi Moutong.
Sesar ini termasuk sesar geser mendatar dengan kecepatan pergerakan yang tergolong tinggi. Gempa besar 28 September 2018 yang memicu tsunami dan likuefaksi di Palu, Sigi, dan Donggala terjadi akibat aktivitas sesar ini.
Karena melintasi kawasan permukiman padat dan infrastruktur penting, Palu-Koro masih menjadi salah satu sumber ancaman gempa terbesar di Sulawesi Tengah.
Sesar Sausu, Pemicu Gempa M6,7 Hari Ini
Sesar Sausu menjadi perhatian baru setelah BMKG memastikan gempa M6,7 pada 16 Juni 2026 dipicu oleh aktivitas sesar ini. Episentrum gempa berada di kawasan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, yang berada pada jalur struktur geologi aktif tersebut.
Meski tidak sepopuler Palu-Koro, keberadaan Sesar Sausu menunjukkan bahwa sumber gempa di Sulawesi Tengah jauh lebih kompleks. Gempa hari ini menjadi bukti bahwa sesar-sesar lokal yang selama ini kurang dikenal juga mampu menghasilkan gempa kuat dan merusak.
Sesar Poso
Sesar Poso berada di kawasan Kabupaten Poso dan merupakan bagian dari sistem sesar aktif di Sulawesi bagian tengah.
Aktivitas sesar ini berpotensi menghasilkan gempa dangkal yang dapat dirasakan kuat di wilayah sekitar Danau Poso dan kawasan permukiman di sekitarnya.
Sesar Matano
Sesar Matano memanjang dari kawasan Danau Matano hingga ke bagian timur Sulawesi Tengah.
Sesar ini merupakan bagian dari jaringan struktur geologi besar yang berkaitan dengan dinamika tektonik Sulawesi. Aktivitasnya berpotensi memengaruhi wilayah Morowali dan kawasan industri yang berkembang pesat di pesisir timur Sulawesi Tengah.
Sesar Balantak dan Batui
Di wilayah timur Sulawesi Tengah terdapat Sesar Balantak dan Sesar Batui.
Kedua sesar ini berada di kawasan Banggai yang secara geologi dipengaruhi oleh interaksi berbagai blok mikro tektonik. Gempa yang bersumber dari kedua sesar tersebut berpotensi memengaruhi wilayah pesisir dan kawasan industri di Kabupaten Banggai.
Pelajaran dari Gempa Hari Ini
Gempa M6,7 yang terjadi hari ini memberikan pelajaran penting bahwa mitigasi bencana di Sulawesi Tengah tidak boleh hanya berfokus pada satu sumber bahaya. Selama ini perhatian publik banyak tertuju pada Sesar Palu-Koro, padahal gempa terbaru menunjukkan sesar lain seperti Sausu juga mampu menghasilkan guncangan kuat yang dirasakan hingga Palu dan Sigi.
Bagi kawasan lanskap Palu–Sigi–Donggala dan Parigi Moutong, pemetaan sesar aktif, penguatan bangunan tahan gempa, pendidikan kebencanaan, serta sistem peringatan dini menjadi kebutuhan mendesak.



