Pemantauan pasca karhutla di salah satu desa di Parigi Moutong. (Foto: BPBD Sulteng)

Daftar Wilayah Paling Rawan Karhutla di Sulteng, Banggai Kepulauan dan Banggai Laut Tertinggi

PALU, rindang.ID | Berdasarkan analisis Fire Danger Rating System (FDRS) Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, sejumlah kabupaten dan kota diprediksi berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi terjadinya karhutla selama periode tujuh hari ke depan.

Analisis FDRS menggunakan dua indikator utama, yakni Fine Fuel Moisture Code (FFMC) yang mengukur tingkat kemudahan bahan bakar alami terbakar, serta Fire Weather Index (FWI) yang menunjukkan potensi intensitas api apabila kebakaran terjadi.

Berdasarkan gabungan kedua indikator tersebut, berikut daerah dengan ancaman karhutla tertinggi di Sulawesi Tengah:

1. Banggai Kepulauan dan Banggai Laut

Dua daerah ini menjadi wilayah dengan ancaman paling serius karena secara konsisten mencatat nilai Fire Weather Index (FWI) pada kategori sangat tinggi sepanjang periode prakiraan. Nilai indeks berkisar 28 hingga 31, jauh di atas ambang kategori merah (>13), yang berarti apabila terjadi kebakaran, api diperkirakan akan sangat sulit dikendalikan.

2. Buol dan Poso

Kedua kabupaten ini memiliki tingkat kemudahan terbakar tertinggi berdasarkan indeks FFMC. Pada 10 Agustus 2026, nilai FFMC diperkirakan mencapai 91, menunjukkan alang-alang, rumput, dan dedaunan kering berada dalam kondisi sangat kering sehingga sangat mudah tersulut api.

3. Kota Palu dan Kabupaten Sigi

Palu dan Sigi diprediksi mengalami peningkatan risiko paling signifikan selama sepekan mendatang. Nilai FFMC diperkirakan mencapai 89 pada akhir periode, sementara indeks FWI meningkat dari kategori sedang menjadi sangat tinggi pada 9–10 Agustus. Kondisi tersebut menandakan potensi kebakaran semakin besar dan api akan lebih sulit dipadamkan.

Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayat, menjelaskan tingginya potensi karhutla dipicu oleh kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan udara yang rendah, serta angin kencang.

Suhu tinggi mempercepat pengeringan bahan bakar alami di permukaan tanah, sementara kelembapan yang rendah membuat alang-alang dan dedaunan menjadi sangat mudah terbakar. Di sisi lain, angin kencang berpotensi mempercepat penyebaran api apabila kebakaran terjadi.

“Secara teknis, kondisi ini tercermin dari tingginya nilai FFMC yang menunjukkan bahan bakar alami sangat kering, serta tingginya nilai FWI yang menandakan intensitas api akan sangat tinggi dan sulit dikendalikan,” jelas Taufiq.

BMKG mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, semak, maupun sampah selama musim kemarau, terutama saat cuaca panas dan berangin.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api kepada BPBD, TNI/Polri, perangkat desa, maupun instansi terkait agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.

Selain itu, pemerintah daerah diharapkan segera mengaktifkan posko siaga karhutla, meningkatkan patroli terpadu di wilayah rawan, memperkuat koordinasi lintas instansi, serta memastikan seluruh sarana pemadaman dalam kondisi siap digunakan.

Langkah-langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah meluasnya kebakaran yang dapat mengakibatkan kerugian terhadap lingkungan, ekonomi, dan keselamatan masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top