Saya kembali menapaki jalur Gunung Rore Kautimbu, Sabtu (9/8/2025). Perjalanan ini sebenarnya adalah bagian dari misi Komunitas Jurnalis Tanggal Merah Mendaki (Tameme) bersama Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu untuk memasang plang di tiga titik pendakian. Tapi ada sebuah pertemuan yang tak direncanakan, yang seakan membalas rasa penasaran saya.
Bagi saya pribadi, misi memasang plang ini juga pelunasan rindu. Kabut tipis, aroma humus tanah, harum edelweis, kantong semar yang seolah menghiasi jalan, hujan yang sesekali turun, dan riuh kicau burung semua kembali menyapa.
Di tengah rasa familiar itu, ada kejutan di luar dugaan. Saat perjalanan turun dari puncak, selepas memasang plang terakhir di Istana Lumut, 2.500 mdpl, mata saya menangkap sepasang satwa yang selama ini hanya saya dengar dari cerita. Ia adalah taktarau iblis, burung endemik Sulawesi yang penuh misteri.
Bagi masyarakat Napu, burung ini dikenal dengan sebutan Toroku. Namanya melekat pada banyak kisah lisan. Kadang dianggap pertanda, kadang dikaitkan dengan dunia gaib.
Namun di hadapan saya sore itu, yang terlihat hanyalah dua makhluk yang tersamarkan lantai hutan, yang bersiap menjemput malam. Matanya berkilat, tubuhnya menyatu dengan ranting dan bayangan pohon.
Rasa penasaran mendorong saya untuk mendekat. Kamera ponsel yang saya bawa jelas tidak mumpuni untuk memotret dari jarak jauh. Baru beberapa langkah, salah seekor burung tiba-tiba merentangkan sayapnya dan berteriak. Suaranya serak, agak mirip gagak. Saya menebak itu adalah sang jantan yang merasa terusik, mungkin juga sedang bermesraan. Getaran suaranya menegaskan batas: mereka adalah penguasa senja itu.
Tak ingin mengganggu lebih lama, saya memilih mundur perlahan. Membiarkan keduanya kembali menguasai ruang di bawah rimbun semak.
Sebagai satwa nokturnal, Taktarau Iblis baru aktif saat petang. Makanan utamanya adalah serangga malam: ngengat, kumbang, dan berbagai serangga terbang lain. Aktivitas berburu ini mungkin tampak sederhana, tetapi justru di sanalah letak peran ekologisnya.
Dengan memangsa herbivora kecil yang rakus pada pucuk muda, taktarau iblis membantu hutan beregenerasi. Anakan pohon bisa tumbuh lebih leluasa tanpa tekanan berlebih.
Dalam jejaring ekologi, Taktarau Iblis menempati posisi konsumen sekunder. Ia menghubungkan serangga (konsumen primer) dengan predator yang lebih besar, seperti burung hantu atau mamalia karnivora kecil. Ia adalah bagian dari sistem kontrol alami. Hilangnya satu komponen seperti ini dapat mengganggu keseimbangan seluruh jaringan kehidupan di hutan.
Keberadaannya bahkan sering dijadikan indikator kesehatan hutan. Bila burung ini masih ditemukan, berarti ekosistem pegunungan di sekitarnya relatif terjaga. Sebaliknya, absennya suara dan bayangan mereka dapat menjadi pertanda degradasi.
Uniknya, Taktarau Iblis tidak hanya hidup dalam narasi ekologi, tetapi juga dalam kebudayaan dan ekonomi lokal. Di Taman Nasional Lore Lindu, para pengamat burung dari berbagai negara rela menempuh perjalanan jauh demi sekilas melihatnya. Pemandu lokal seperti dari lembah Napu Poso dan Palolo Sigi kerap mendapat order mendampingi para pemerhati burung atau wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Daya tarik itu menghidupi ekowisata setempat. Warga menyediakan homestay, jasa pemandu, hingga kuliner khas untuk para tamu. Dengan demikian, Taktarau Iblis menjadi penghubung antara kearifan lokal, konservasi, dan ekonomi berkelanjutan.
Namun, status Rentan (Vulnerable) menurut IUCN menjadi pengingat keras. Deforestasi, perambahan, dan fragmentasi habitat terus menekan populasinya. Perubahan tata guna lahan di dataran tinggi Sulawesi perlahan mencabut ruang hidup mereka. Jika hutan rusak, maka hilang pula ruang bagi sang penjaga senyap.
Upaya konservasi yang komprehensif menjadi mendesak: mulai dari perlindungan kawasan hutan, edukasi masyarakat, hingga penguatan ekowisata berbasis warga.
Taktarau iblis memang jarang terlihat, lebih sering hanya terdengar dalam cerita. Namun perannya nyata; mengendalikan serangga, menjaga regenerasi pohon, sekaligus menghadirkan nilai budaya dan ekonomi.
Dan saya pun merasa, pertemuan singkat dengan toroku bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat: hutan yang sehat adalah rumah bagi semua manusia, satwa, dan kisah-kisah yang menyatukan keduanya.
Penulis: Heri Susanto



