SIGI, rindang.ID | Di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim dan degradasi lingkungan, Desa Beka, Kabupaten Sigi, menunjukkan bahwa ketahanan bencana dapat dibangun dari lanskap yang tetap terjaga.
Hutan Ranjuri, kawasan hutan seluas sekitar 9 hektare yang berada di tengah permukiman warga, menjadi contoh bagaimana ekosistem yang lestari mampu melindungi masyarakat sekaligus menopang kehidupan.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pembangunan ketahanan bencana berbasis lanskap yang kini didorong di kawasan Palu, Sigi, dan Donggala. Pendekatan tersebut memandang bahwa risiko bencana tidak mengenal batas administrasi.
Kondisi hutan di wilayah hulu akan menentukan keamanan masyarakat di bagian tengah hingga hilir daerah aliran sungai (DAS). Kerusakan hutan di Sigi, misalnya, dapat meningkatkan risiko banjir di Kota Palu, sementara degradasi kawasan pesisir memperbesar ancaman abrasi dan tsunami di Donggala.
Di Desa Beka, konsep tersebut telah dipraktikkan masyarakat jauh sebelum istilah mitigasi berbasis lanskap dikenal luas. Hutan Ranjuri dipertahankan sebagai kawasan penyangga alami yang menjaga keseimbangan ekosistem di sekitar desa.
“Yang paling teringat adalah banjir bandang tahun 2021. Ketika hujan deras mengguyur kawasan pegunungan, material batu, kayu, dan lumpur meluncur menuju permukiman. Tetapi sebelum mencapai rumah-rumah penduduk, sebagian besar material itu lebih dulu tertahan di kawasan Hutan Ranjuri,” Kepala Desa Beka, Mohamad Fitrah menjelaskan.
Area Manajer Sulawesi Tengah Yayasan SHEEP Indonesia, Masturido, mengatakan Desa Beka merupakan contoh kemampuan masyarakat menerapkan mitigasi bencana berbasis lanskap melalui pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.
“Desa Beka dengan Hutan Ranjurinya menjadi contoh kemampuan masyarakat memitigasi bencana berbasis lanskap dalam skala kecil dengan kekayaan pengetahuan dari masa lampau. Bagaimana hutan tetap terpelihara ratusan tahun oleh masyarakatnya. Ini merupakan pengetahuan yang penting untuk terus dilestarikan,” katanya.
Menurut dia, keberadaan Hutan Ranjuri telah terbukti mengurangi risiko bencana. Dalam sejarah desa, kawasan hutan itu pernah menjadi benteng alami yang menahan material saat banjir bandang menerjang kawasan tersebut.
Selain menjadi pelindung dari ancaman banjir, Hutan Ranjuri juga berfungsi menjaga sumber mata air yang hingga kini masih dimanfaatkan warga. Pohon-pohon besar yang telah berusia ratusan tahun membantu mempertahankan cadangan air, menjaga struktur tanah, serta mengurangi potensi erosi dan degradasi lahan.
Dalam pengembangan ekowisata, pemerintah desa bersama masyarakat menerapkan sistem zonasi dengan memisahkan kawasan inti konservasi seluas sekitar tiga hektare dari area wisata. Langkah ini dilakukan agar fungsi ekologis hutan tetap terjaga meskipun kawasan tersebut mulai dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alam.
Ke depan, pengelola juga merencanakan pengayaan vegetasi (enrichment planting) menggunakan tanaman endemik dan pembangunan arboretum. Upaya tersebut diharapkan semakin memperkuat fungsi Hutan Ranjuri sebagai penyerap karbon, penyimpan air, sekaligus benteng alami menghadapi dampak perubahan iklim.
Masturido menilai pengalaman Desa Beka menjadi bukti bahwa ketahanan bencana tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui tata kelola lanskap dan pelestarian pengetahuan masyarakat.
Hal ini sejalan dengan hasil kajian Yayasan SHEEP Indonesia bersama peneliti Universitas Tadulako yang menekankan pentingnya integrasi Adaptasi Perubahan Iklim (API) dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Kajian tersebut menyebut rehabilitasi hutan di kawasan hulu, perlindungan sempadan sungai, pemulihan ekosistem, serta penguatan kelembagaan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun resiliensi kawasan Palu, Sigi, dan Donggala.
Dalam kajian tersebut, Masturido juga menegaskan bahwa resiliensi bukan hanya persoalan membangun infrastruktur.
“Resiliensi itu bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal kesadaran dan tata kelola. Masyarakat harus dilibatkan sejak perencanaan, karena mereka yang paling tahu risiko di wilayahnya.” Kata Rido.
Nilai-nilai adat yang menghormati hutan menjadi alasan kawasan Ranjuri tetap lestari selama ratusan tahun di tengah tekanan krisis iklim, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan teknologi.



