PALU, rindang.ID | Kota Palu kini menghadapi dua ancaman lingkungan yang saling terkait. Dalam setahun terakhir, kualitas tutupan lahan turun drastis, sementara tren kenaikan suhu terus terjadi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang hijau bukan lagi pelengkap kota, melainkan penentu masa depan ekologisnya.
Berdasarkan data Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kota Palu tahun 2023 dan 2024, Indeks Kualitas Tutupan Lahan (IKTL) Palu turun dari 67,76 poin pada 2023 menjadi 58,53 poin pada 2024.
Komponen-komponen tutupan lahan yang dilaporkan mengalami penurunan di tahun 2024 di antaranya adalah Luasan Semak Belukar dalam Kawasan Hutan, yang secara numerik luasan pada tahun 2023 adalah 3.826,751 Ha, sementara luasan pada tahun 2024 adalah 3.748,237 Ha.
Lalu ada Luasan Areal Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), yang secara numerik pada tahun 2023 adalah 376 Ha menurun menjadi 227 Ha pada tahun 2024.
Optimalisasi vegetasi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) publik dan privat yang sudah ada juga masih menjadi pekerjaan rumah.
Meski masih dalam kategori “Sedang”, tren penurunan ini menjadi alarm ekologis. Setelah sempat membaik pada 2023, kondisi tutupan lahan kembali memburuk, menunjukkan tekanan pembangunan yang semakin kuat terhadap ruang hijau kota.
Dampaknya, kualitas lingkungan kota pun ikut menurun. Nilai Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Palu turun dari 76,50 pada 2023 menjadi 73,25 pada 2024. Dalam perhitungan nasional, komponen IKTL memberi bobot besar terhadap IKLH, artinya, setiap hektare lahan hijau yang hilang berpengaruh langsung pada penurunan daya dukung ekologis kota.
Kota yang Memanas
Krisis tutupan lahan ini berlangsung di saat Kota Palu mengalami tren kenaikan suhu yang signifikan.
Stasiun Pemantau Armosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri mencatat periode 1976 hingga 2023, suhu di Palu meningkat +0,45°C, dengan rekor suhu tertinggi mencapai 39,6°C.
Palu bahkan menjadi wilayah dengan kenaikan suhu tertinggi di Sulawesi Tengah. Urbanisasi pesat, dominasi permukaan beton, dan berkurangnya vegetasi menciptakan efek pulau panas perkotaan (urban heat island), di mana panas terperangkap dan sulit dilepaskan ke atmosfer.
“Semua pihak di Kota Palu harus menyusun langkah untuk memitigasi efek pulau panas (urban heat island) perkotaan,” kata Kepala SPAG Lore Lindu Bariri, Asep Firman Ilahi.
Hijau yang Menyusut, Lingkungan yang Melemah
Nilai Tutupan Lahan (TL) yang semula 0,49 kini turun menjadi 0,39, menandakan berkurangnya area vegetasi dalam kurun waktu singkat. Alih fungsi lahan di kawasan kota dan pinggiran, lemahnya pengawasan pembangunan, serta berkurangnya kegiatan rehabilitasi pasca-program restorasi 2023 menjadi penyebab utama.
Penurunan IKTL dari 67,76 menjadi 58,53 bukan sekadar statistik, melainkan potret perubahan wajah ekologis Kota Palu. Kota yang sedang bangkit pascabencana kini dihadapkan pada tantangan baru: menjaga keseimbangan alam di tengah pembangunan yang kian cepat.
Di saat suhu terus naik, tutupan hijau menjadi benteng terakhir untuk menahan panas dan menjaga kenyamanan hidup warga kota.



