SIGI, rindang.ID | Sebagai kabupaten yang mengandalkan sektor pertanian dan perkebunan, Sigi tak hanya harum dengan aroma sawah yang basah, durian, atau humus. Namun juga ada kopi yang tumbuh hingga lereng-lereng terpencil yang jadi sumber penghidupan.
Kopi salah satunya tumbuh di kebun-kebun di lereng hijau Kecamatan Marawola Barat. Di sana aroma kopi menguar. Desa Dombu dan Lewara yang berada di ketinggian sekitar 1.300 meter di atas permukaan laut, menjadi dua wilayah yang fokus dengan komoditi ini. Jenis arabika subur di sana.
Warga di sana bukan hanya menanam, tapi juga merawat dan mengelola kopi dengan cara baru, lebih terarah, lebih berkelanjutan dengan pendampingan banyak pihak. Peremajaan tanaman, pemangkasan cabang tidak produktif, pemetikan buah merah, penjemuran, hingga proses sortir kini menjadi bagian dari tahapan merawat kopi.
Hasilnya nyata, kopi dari daerah ketinggian ini yang dulunya hanya mencapai grade 4, kini sudah masuk grade 2.
“Sekarang harga kopi kami naik. Kalau dulu paling tinggi Rp25 ribu per kilo, sekarang bisa Rp100 ribu untuk grade 1-2,” ujar Tanda, salah satu petani kopi di Desa Lewara.
Kisah manis lain datang dari Desa Dombu. Produk Kopi Kamanuru dari Kelompok petani kopi di desa ini sejak tahun 2021 bahkan telah menjadi pemasok kopi ke negara di Timur Tengah.
Di masa lalu, kopi khususnya arabika sudah menjadi bagian dari budaya pertanian warga Marawola Barat bahkan sejak masa kolonial Belanda. Namun, seiring waktu, tanaman itu dibiarkan tumbuh tanpa perawatan khusus. Petani lebih fokus pada komoditas lain seperti kacang merah, yang dianggap lebih cepat menghasilkan.
Kini setelah tahu perawatan tanaman yang baik dan potensi ekonominya, kopi di Marawola Barat bukan hanya menjadi konsumsi rumah tangga, melainkan juga sumber ekonomi keluarga.
Kisah serupa hadir di Kecamatan Palolo. Dari upaya kecil di kebun-kebun keluarga, para petani di wilayah ini berhasil mengangkat nama Sigi ke peta kopi internasional.
Selama enam tahun terakhir, kelompok petani kopi dari Palolo dan sekitarnya membangun jaringan eksportir, sebagian dilakukan mandiri tanpa perantara atau intervensi pemerintah.
Hasil kerja keras dan kolaborasi mereka kini terbayar, kopi dari Palolo telah rutin diekspor ke Belanda.
“Pengiriman mencapai 3 hingga 5 ton setiap enam bulan,” kata Ari, petani kopi Palolo.
Menariknya, produk kopi mereka dijual dengan harga mengikuti standar internasional, berkisar antara 6 hingga 7 dolar AS per kilogram. Angka ini menunjukkan bahwa kualitas kopi Palolo telah diakui di pasar global, bersaing dengan daerah penghasil kopi unggulan lainnya di Indonesia.
Bukan tanpa alasan kopi kini menjadi salah satu fokus pengembangan di Kabupaten Sigi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak 2021 produksi kopi di kabupaten ini relatif stabil, rata-rata mencapai 500 ribu ton per tahun, dengan luas lahan mencapai 3.106 hektare. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di lima kecamatan.
Bahkan berdasarkan data Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) tahun 2024, potensi perkebunan kopi di Sigi bisa mencapai 25.000 ha dari Kecamatan Palolo, Marawola Barat, Lindu, dan Kulawi Selatan.
Potensi itu bisa menjadi sumber ekonomi utama bagi lebih dari 9.000 petani kopi di Sigi jika dikelola dengan baik.



