Kebun Toga di Kelurahan Besusu Barat, Kota Palu. (Foto: YSI)

Kebun TOGA Besusu Barat Jadi Ikhtiar Warga Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Bencana

PALU, rindang.ID | Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Besusu Barat, Kota Palu, bersama Yayasan SHEEP Indonesia mengembangkan kebun Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Kebun seluas sekitar 25 x 25 meter itu ditanami sedikitnya 21 jenis tanaman obat dan sayuran, di antaranya jahe, kencur, kunyit, cabai, tomat, kangkung, dan berbagai tanaman pangan lainnya yang dapat dimanfaatkan warga saat kondisi darurat.

Layaknya kebun produktif pada umumnya, warga mengolah lahan tersebut secara bergotong royong dengan membuat sejumlah bedeng tanam. Setiap bedeng ditanami jenis tanaman yang berbeda agar hasil panennya lebih beragam dan mampu memenuhi kebutuhan pangan maupun obat-obatan keluarga.

Ketua FPRB Kelurahan Besusu Barat, Irfan, mengatakan gagasan membangun kebun TOGA sebenarnya telah dimulai sejak Agustus 2025. Namun, pengelolaannya belum berjalan optimal karena keterbatasan pengetahuan masyarakat mengenai budidaya tanaman.

“Setelah mendapat pendampingan dari Yayasan SHEEP Indonesia, pengelolaan kebun menjadi lebih terarah. Warga memperoleh pelatihan dan peningkatan kapasitas sehingga kebun ini dapat digarap secara maksimal,” ujarnya.

Menurut Irfan, keberadaan kebun TOGA tidak hanya ditujukan sebagai kebun bersama, tetapi juga diharapkan menjadi inspirasi bagi setiap keluarga untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan dan tanaman obat.

“Ke depan kami ingin setiap rumah memiliki kebun pangan dan tanaman obat sendiri sehingga ketahanan keluarga semakin kuat ketika terjadi bencana,” katanya.

Kebun TOGA Besusu Barat dikelola secara partisipatif oleh warga. Mereka terlibat mulai dari menentukan jenis tanaman, menyiapkan lahan, hingga melakukan perawatan secara berkala. Menariknya, lahan yang kini menjadi kebun produktif tersebut sebelumnya merupakan lahan terbengkalai yang kerap dijadikan tempat pembuangan sampah sehingga terlihat kumuh.

Inisiatif ini dinilai penting mengingat Kelurahan Besusu Barat merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terdampak banjir di Kota Palu. Wilayah yang berada di sisi timur Sungai Palu itu kerap tergenang ketika debit sungai meningkat akibat hujan deras di wilayah hulu Kabupaten Sigi.

Irfan mengungkapkan, pengalaman saat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi 2018 maupun ketika banjir besar melanda kawasan tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan pangan menjadi persoalan utama pada masa tanggap darurat.

“Ketika bencana terjadi, kebutuhan pangan menjadi sangat penting. Selama ini masyarakat sering kali hanya menunggu bantuan dari luar. Padahal, jika memiliki sumber pangan sendiri, warga akan lebih siap menghadapi masa-masa krisis,” tuturnya.

Melalui pengembangan kebun TOGA, FPRB Besusu Barat bersama Yayasan SHEEP Indonesia berharap masyarakat tidak hanya semakin peduli terhadap lingkungan, tetapi juga memiliki kemandirian pangan yang dapat memperkuat ketangguhan keluarga dan komunitas ketika bencana terjadi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top