Peluncuran Program Membangun Kemandirian dan Ketangguhan Desa di Sektor Kakao di Aula Bappeda Sulteng. (Foto: Heri/ rindang.ID)

Bangun Desa Kakao Tangguh Iklim, Save the Children dan Mars Gandeng 54 Desa di Sulteng

PALU, rindang.ID | Save the Children Indonesia bersama Mars resmi meluncurkan Program Membangun Kemandirian dan Ketangguhan Desa di Sektor Kakao di Kota Palu, Kamis (18/6/2026).

Program ini bertujuan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga petani kakao sekaligus meningkatkan perlindungan anak di wilayah pedesaan.

Peluncuran program ini dilakukan di Aula Bappeda Sulteng dan dilatarbelakangi oleh berbagai tantangan yang masih dihadapi komunitas petani kakao di Indonesia. Rendahnya produktivitas pertanian, terbatasnya akses terhadap layanan keuangan, hingga lemahnya kapasitas kolektif masyarakat dalam merespons berbagai persoalan bersama masih menjadi hambatan utama bagi kesejahteraan petani.

Program yang akan berlangsung hingga Februari 2029 ini dirancang untuk membantu rumah tangga petani kakao meningkatkan ketahanan ekonomi, memperkuat stabilitas keuangan keluarga, serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung tumbuh kembang anak.

Selain di Sulawesi Tengah, program serupa juga dijalankan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, dan Aceh.

Secara nasional, program ini menargetkan 17.250 petani kakao sebagai peserta, dengan 60 persen di antaranya merupakan perempuan. Dampaknya diharapkan dapat dirasakan langsung oleh lebih dari 8.000 anak yang tinggal di 115 desa di lima provinsi tersebut.

Khusus di Sulawesi Tengah, program akan dilaksanakan di 54 desa yang tersebar di enam kabupaten, yakni Poso, Sigi, Parigi Moutong, Tolitoli, Morowali Utara, dan Banggai.

Melalui pendekatan berbasis komunitas, program ini mengintegrasikan aspek penguatan ekonomi, inklusi sosial, dan tata kelola desa melalui penguatan Kelompok Simpan Pinjam Desa atau Village Savings and Loan Association (VSLA). Platform ini dipandang sebagai instrumen penting untuk mengatasi persoalan ekonomi keluarga yang kerap berdampak pada kesejahteraan anak.

Senior Manager Agriculture Portfolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, mengatakan bahwa program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan ekonomi, tetapi juga pada perlindungan anak dan penguatan keluarga.

“Melalui Program Membangun Kemandirian dan Ketangguhan Desa di Sektor Kakao, kami fokus mempromosikan perlindungan anak, pola asuh positif, dan kesejahteraan keluarga langsung dari akar rumput. Penguatan VSLA menjadi ruang penting untuk memutus siklus kemiskinan antargenerasi, sekaligus mencegah strategi bertahan hidup keluarga yang berdampak buruk pada anak-anak, seperti pekerja anak,” ujarnya.

Menurut Ihwana, program ini juga dirancang untuk memastikan perempuan dan kaum muda memiliki ruang yang lebih besar dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan di tingkat komunitas.

Penguatan VSLA tidak hanya berfungsi sebagai wadah layanan keuangan, tetapi juga menjadi sarana pengembangan kepemimpinan, peningkatan literasi keuangan, diversifikasi sumber pendapatan, hingga mendorong adopsi praktik pertanian cerdas iklim yang lebih produktif dan ramah lingkungan.

Melalui program ini, masyarakat didorong menjadi penggerak utama perubahan melalui penyusunan Rencana Aksi Komunitas yang dipimpin secara lokal. Pendekatan tersebut menjadi dasar dukungan Mars dalam membangun kemandirian desa-desa penghasil kakao.

Program ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Pemerintah daerah menilai pendekatan yang menggabungkan penguatan ekonomi, perlindungan anak, dan adaptasi perubahan iklim sejalan dengan agenda pembangunan daerah.

Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah melalui Kepala Bidang Infrastruktur Kewilayahan, Doni Setiawan, mengatakan peluncuran program ini berlangsung pada momentum yang tepat di tengah upaya daerah memperkuat pembangunan manusia dan ketahanan masyarakat desa.

Menurutnya, perlindungan anak harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sektor pertanian dan perkebunan, terutama di wilayah-wilayah penghasil kakao.

“Program ini hadir pada momen yang sangat baik. Pembangunan manusia dan perlindungan anak menjadi hal yang sangat penting karena mustahil memajukan daerah jika anak-anak tidak terlindungi, termasuk anak-anak yang tumbuh di keluarga petani,” kata Doni.

Ia menambahkan, tantangan perubahan iklim yang semakin nyata menuntut adanya penguatan ketangguhan iklim dan tata kelola yang inklusif di sektor pertanian dan perkebunan. Karena itu, pemerintah daerah berharap seluruh kabupaten dan desa yang menjadi lokasi program dapat menyelaraskan kegiatan ini dengan agenda pembangunan daerah masing-masing.

“Ketangguhan iklim dan tata kelola inklusif di sektor pertanian dan perkebunan adalah sebuah keharusan. Tata kelola di tingkat lokal juga harus dipastikan responsif gender. Kami berharap pemerintah daerah di setiap wilayah yang dijangkau program ini dapat melakukan sinkronisasi dengan program-program yang sudah ada. Jangan biarkan program ini berjalan sendiri,” ujarnya.

Doni menegaskan, kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan masyarakat desa menjadi kunci untuk melahirkan desa-desa yang mandiri dan berkelanjutan.

“Kita harus menghasilkan desa-desa graduasi atau desa mandiri yang dapat menjadi model ketangguhan masyarakat. Melalui koordinasi yang solid dari semua pihak, kita sedang meletakkan fondasi untuk menjadikan Sulawesi Tengah sebagai pusat kakao yang tangguh terhadap tantangan lingkungan dan perubahan iklim,” katanya.

Sementara itu, Community Development Specialist Mars, Mutmainnah, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung terciptanya komunitas petani kakao yang berdaya secara ekonomi, memiliki kohesi sosial yang kuat, serta mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim.

“Kami berkomitmen mendukung terciptanya komunitas petani kakao yang berdaya secara ekonomi, memiliki kohesi sosial, dan ketahanan iklim yang kuat. Melalui kolaborasi multipihak ini, kami berharap sistem tata kelola lokal dan kemitraan terpadu dapat melahirkan model desa mandiri yang berkelanjutan bagi masa depan generasi mendatang,” ujarnya.

Program Membangun Kemandirian dan Ketangguhan Desa di Sektor Kakao menempatkan kemandirian komunitas sebagai inti dari seluruh proses pendampingan. Melalui penguatan kapasitas masyarakat, tata kelola yang inklusif, perlindungan anak, serta peningkatan ketahanan iklim, inisiatif ini diharapkan mampu mentransformasi desa-desa penghasil kakao menjadi lebih terorganisir, saling terhubung, dan memiliki kemampuan lebih kuat dalam memperjuangkan prioritas pembangunan mereka sendiri.

Pada akhirnya, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani kakao, tetapi juga membangun fondasi bagi lahirnya desa-desa yang tangguh, inklusif, aman bagi anak, dan berkelanjutan di Sulawesi Tengah maupun empat provinsi lainnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top