PALU, rindang.ID | Berangkat dari pengalaman panjang berdampingan dengan ancaman banjir, Yayasan SHEEP Indonesia (YSI) bersama Pemerintah Kecamatan Palu Timur, Pemerintah Kelurahan Besusu Barat, dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Besusu Barat menginisiasi instrumen peringatan dini banjir di Kelurahan tersebut, Jumat (10/7/2026).
Instrumen itu berupa alat pengukur ketinggian muka air (Peil Scale atau Staff Gauge). Prosesi serah terima berlangsung di lokasi pemasangan instrumen dan dihadiri Camat Palu Timur, jajaran Pemerintah Kelurahan Besusu Barat, pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Besusu Barat, tokoh masyarakat, relawan, serta perwakilan Yayasan SHEEP Indonesia.
Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi kemanusiaan dalam membangun sistem mitigasi bencana yang efektif dan berkelanjutan.
“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Yayasan SHEEP Indonesia atas dukungan yang diberikan kepada masyarakat Kelurahan Besusu Barat. Instrumen ini merupakan bagian penting dari sistem peringatan dini yang dapat membantu masyarakat dan pemerintah mengambil tindakan lebih cepat ketika terjadi peningkatan debit air,” Camat Palu Timur, Gunawan, mengatakan.
Bagi Yayasan SHEEP Indonesia, alat pengukur tinggi muka air ini merupakan salah satu komponen penting dalam sistem peringatan dini banjir berbasis masyarakat. Data yang dihasilkan dari instrumen tersebut akan menjadi dasar pengamatan kondisi sungai secara berkala sehingga masyarakat memperoleh informasi lebih cepat ketika terjadi kenaikan muka air yang berpotensi membahayakan.
Sistem peringatan dini yang efektif tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam melakukan pemantauan, pelaporan, serta penyebarluasan informasi kepada warga lainnya.
“Ketika terjadi peningkatan yang signifikan, masyarakat dapat lebih cepat melakukan langkah antisipasi sehingga risiko terhadap jiwa maupun kerugian harta benda dapat diminimalkan. Peringatan dini akan berjalan efektif apabila didukung oleh masyarakat yang memahami fungsi alat, memiliki prosedur yang jelas, dan mampu bertindak cepat saat menerima informasi,” jelas Bambang, mewakili Yayasan Sheep Indonesia pada kesempatan itu.
Ia menambahkan, keberhasilan sistem peringatan dini sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, FPRB, relawan, hingga masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi bencana.
Sementara itu, Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Besusu Barat, Irfan, mengatakan pemasangan alat dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat sejak tahap penentuan lokasi.
“Warga dilibatkan untuk menentukan titik-titik yang paling rawan banjir. Hasilnya, ada tujuh titik yang dipasangi alat pengukur tinggi muka air,” kata Irfan.
Menurutnya, keberadaan alat tersebut sangat penting mengingat masyarakat Besusu Barat memiliki pengalaman panjang menghadapi banjir akibat luapan Sungai Palu. Selama ini warga kesulitan menentukan kapan kondisi air telah memasuki batas aman maupun berbahaya karena tidak tersedia alat ukur yang mudah dipantau.
Dengan adanya staff gauge, masyarakat kini memiliki acuan visual untuk memantau kenaikan muka air. Informasi yang diperoleh dari hasil pengamatan dapat diverifikasi dan segera disebarluaskan kepada warga lainnya sehingga proses evakuasi dapat dilakukan lebih cepat apabila kondisi memasuki level berbahaya.
Kelurahan Besusu Barat merupakan salah satu wilayah yang paling rentan terhadap banjir di Kota Palu karena berada di sisi timur Sungai Palu. Ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu di Kabupaten Sigi, debit Sungai Palu meningkat dan kerap meluap hingga menggenangi permukiman warga di bantaran sungai.
Dalam beberapa tahun terakhir, banjir besar kembali terjadi pada 2019, 2024, dan awal 2026. Peristiwa-peristiwa tersebut menyebabkan rumah-rumah warga terendam, aktivitas masyarakat terganggu, serta memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Belajar dari pengalaman tersebut, keberadaan alat pengukur tinggi muka air diharapkan menjadi “mata” masyarakat dalam memantau kondisi sungai secara terus-menerus. Melalui pengamatan rutin oleh anggota FPRB bersama warga, setiap kenaikan muka air dapat segera dilaporkan dan disebarluaskan kepada masyarakat sehingga mereka memiliki waktu yang cukup untuk mengamankan barang berharga maupun melakukan evakuasi sebelum banjir mencapai permukiman.
Melalui penguatan sistem peringatan dini yang sederhana, mudah dipahami, dan dapat dioperasikan secara mandiri oleh masyarakat, diharapkan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat banjir dapat terus ditekan, sekaligus membangun masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di masa mendatang.



