Pelatihan Pengawasan Perairan: Nelayan Banggai Laut Didorong Jadi Garda Depan Konservasi
Kegiatan ini menjadi jembatan kerja sama multi pihak demi keberlanjutan pesisir.
Kegiatan ini menjadi jembatan kerja sama multi pihak demi keberlanjutan pesisir.
Senja Senin mulai merayap ketika puluhan anak muda berkumpul di Ruang Terbuka Hijau Kalikoa. Kawasan kuliner bantaran Sungai Palu itu ramai seperti biasa, tapi kelompok ini punya agenda berbeda. Mereka bukan datang untuk menikmati gorengan dan kopi sore. Sepatu kets terikat rapat, botol minum siap di tangan, dan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Ini adalah walking tour—sebuah pelayaran kaki menyusuri jejak sejarah Kota Palu yang hampir terlupakan.
Kabut tipis masih menyelimuti Teluk Palu yang dulu dikenal sebagai salah satu teluk terindah. Namun kini pemandangan yang menyambut mata bukan lagi hamparan biru yang menenangkan. Suara alat berat membelah ketenangan, dan deretan truk pengangkut material hilir mudik sepanjang pesisir yang dulunya menjadi kebanggaan Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.
Mosinggani dan Duyu Bangkit adalah dua kisah kecil dari ribuan cerita pascabencana Palu. Namun kisah mereka menegaskan satu hal: dari reruntuhan bisa tumbuh kekuatan baru, bahkan dari puing-puing yang paling hancur sekalipun.
Pendekatan berbasis lanskap lahir dari kesadaran bahwa risiko bencana dan perubahan iklim tidak mengenal batas administratif. Hulu, tengah, dan hilir sebuah Daerah Aliran Sungai (DAS) saling terhubung. Begitu pula wilayah darat dan pesisir.
Pagi itu, kabut tipis masih menyelimuti hamparan sawah di Desa Bobo, Kecamatan Palolo. Pak Salim, seorang petani berusia 58 tahun, mulai memeriksa tanaman vanili organiknya yang menghijau di antara pohon-pohon pelindung. “Dulu saya tidak percaya, vanili bisa jadi emas hijau,” katanya sambil meraba kulit vanili yang mulai menguning. “Tapi sekarang, satu kilogram vanili kering bisa seharga motor bekas.”
Momentum Hari Tani tahun 2025 menjadi momen petani di Sulawesi Tengah menyuarakan protes mereka yang terus terancam kebijakan negara, mulai dari kebijakan Taman Nasional, Kawasan Ekonomi Khusus, investasi, hingga Bank Tanah.
Membicarakan Kota Palu yang akan berulang tahun pada 27 September, pada dasarnya adalah membicarakan lanskap yang membentuknya; Sungai dan sesar, dua elemen besar yang menentukan eksistensi kota ini tak bisa dipisahkan dari sejarah, budaya, dan bahkan identitas masyarakatnya.
Di bawah air jernih Kelurahan Taipa, struktur mini-fishdom kini mulai beradaptasi dengan lingkungan laut. Mengundang ikan-ikan kecil mendekat, menjelajahi rongga-rongga buatan yang suatu hari nanti akan dipenuhi karang berwarna.
Langit Sulawesi Tengah masih tetap biru dan bahkan tampak tenang, tapi menyimpan dinamika atmosfer yang tak biasa. Tahun ini, BMKG Stasiun Pemantauan Atmosfer Global Lore Lindu Bariri bersuara, memperingatkan: ada yang berbeda dengan cuaca di wilayah ini, dan semua pihak diminta bersiap.