PALU, rindang.ID | Dari pesisir Mamboro, Palu Utara hingga perbukitan Duyu di ujung barat Palu ada dua kisah kebangkitan pascabencana 2018 lalu. Di tepi laut, perempuan-perempuan Mosinggani menabung dari sisa penghasilan ikan asin untuk membeli kembali tanah dan membangun rumah tangguh. Di perbukitan, enam orang pengungsi menggadaikan motor demi menanam anggur di tanah bekas pembuangan sampah.
Keduanya sama-sama lahir dari reruntuhan, menegaskan bahwa solidaritas dan kolektifitas bisa melahirkan kehidupan baru.
28 September 2025, sudah tujuh tahun sejak bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi melanda Kota Palu pada 2018 silam. Selain narasi kesedihan yang tetap muncul di setiap peringatannya, kisah komunitas-komunitas yang justru menemukan kesadaran dan titik balik untuk bangkit dan berdaya menjadi cerita lain.
Kisah itu datang dari dua komunitas yakni Mosinggani di Mamboro, pesisir utara Kota Palu dan Kelompok Petani Anggur Duyu Bangkit di perbukitan di ujung barat Kota Palu.
Kisah keduanya bukan sekadar cerita tentang warga bertahan hidup, melainkan cermin komunitas yang mampu mengubah luka menjadi kekuatan kolektif.
Di Mamboro perempuan menabung untuk membangun kembali rumah tangguh, sementara di Duyu, mereka yang pernah menjadi pengungsi mengolah tanah gersang menjadi kebun anggur dan agrowisata.
Kedua komunitas ini menunjukkan bahwa pondasi pemulihan pascabencana justru dari solidaritas, pengetahuan lokal, dan keberanian untuk merumuskan jalan sendiri hingga lahir kemandirian ekonomi yang membuat mereka lebih tangguh menghadapi masa depan.
Luka dan Titik Balik
Bencana 28 September 2018 mengubah wajah Palu seketika. Gempa besar disusul tsunami dan likuefaksi. Jejak kehilangan masih tertinggal hingga kini.
Di pesisir utara Palu, komunitas nelayan dan penjemur ikan di Mamboro Barat menyaksikan ombak besar menyapu perahu dan perkampungan. Banyak rumah hilang, dan dengan itu hilang pula ruang hidup yang sudah puluhan tahun mereka jaga.
Di sisi lain, di perbukitan Duyu, ratusan orang yang kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan, mengungsi berbulan-bulan di tenda darurat. Rumah mereka retak, tanah yang mereka pijak porak-poranda.
Namun justru dari kondisi paling genting inilah muncul dua inisiatif, dua komunitas yang berbeda lanskap, tetapi disatukan oleh semangat: bangkit dari reruntuhan dengan cara mereka sendiri.
Mosinggani yang Menolak Tercerabut dari Laut
Nama “Mosinggani” dipilih bukan tanpa alasan. Bahasa Suku Kaili itu dimaknai penyintas Mamboro Barat sebagai bangkit kembali.
Setelah tsunami, 39 keluarga di Mamboro Barat atau permukiman Mamboro Perikanan dihadapkan pada pilihan sulit: pindah ke hunian tetap (huntap) jauh dari laut atau bertahan di pesisir yang dianggap berisiko. Bagi mereka, laut bukan sekadar bentang air, melainkan sumber hidup dan identitas.
“Kalau jauh dari laut, bagaimana kami menjemur ikan? Bagaimana kami melaut?” ungkap Nursia.
Karena itu, mereka menolak relokasi jauh ke daratan.
Dengan fasilitasi dari Arkom Indonesia, warga mulai membangun rumah dengan sistem RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat) di lahan sekitar 250 meter dari laut, tahan gempa, tapi dengan sentuhan arsitektur lokal: rumah panggung khas pesisir dengan warna yang mereka pilih sendiri. Permukiman mereka yang porak poranda kini hanya menjadi lokasi penjemuran ikan. Jarak hunian baru mereka masih tetap dekat laut.
Yang menarik, perempuan menjadi motor utama gerakan ini. Mereka membentuk kelompok tabungan: setiap kali menjual ikan asin atau beras, sebagian uang disisihkan. Dari tabungan itulah lahir usaha kecil bersama, depot air isi ulang, warung beras, hingga koperasi simpan pinjam.
“Kami sendiri yang merencanakan hunian tetap ini, sesuai dengan kebutuhan kami di pesisir,” kata Emilia.
Pengakuan dunia pun datang. Pada 2021, hunian tetap Mosinggani meraih World Habitat Awards, sebuah penghargaan internasional bergengsi untuk inovasi perumahan berbasis komunitas.
Tetapi bagi mereka, penghargaan hanyalah bonus. Yang lebih penting adalah mereka bisa membuktikan bahwa warga pesisir bisa membangun kembali kehidupan tanpa tercerabut dari laut.
Kini, deretan rumah-rumah kayu yang ditopang panel-panel RISHA berdiri rapi di Mamboro. Mosinggani bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga ruang untuk merawat identitas pesisir yang hampir hilang ditelan tsunami.
Duyu Bangkit: Dari Lahan Gersang Menjadi Kebun Anggur
Kisah berbeda lahir di Kelurahan Duyu, puluhan kilometer dari Mamboro. Sekelompok pengungsi yang kehilangan pekerjaan mencoba peruntungan dengan hal yang tak pernah mereka bayangkan: menanam anggur.
Berawal dari enam orang, mereka belajar secara otodidak dari YouTube. Modal awal didapat dari menggadaikan motor demi Rp25 juta pembiayaan pertama. Hasilnya? Panen pertama gagal total.
Namun kegagalan itu justru melahirkan tekad lebih besar. Mereka membentuk kelompok tani bernama Duyu Bangkit pada 2019. Nama ini dipilih untuk menandai semangat bahwa kebun anggur adalah simbol kebangkitan dari reruntuhan.
Pelan-pelan, dengan percobaan berulang, mereka menemukan cara merawat anggur di tanah perbukitan Palu.
Dukungan lalu datang dari berbagai pihak yang melihat potensi unik ini. Fasilitas rambatan, pelatihan, hingga promosi wisata dibantu. Perlahan, kebun-kebun anggur di Duyu berubah wajah: dari lahan kosong penuh semak menjadi deretan hijau rapi dengan buah bergelantungan.
Kini, ada 13 kebun anggur dengan luas lebih dari 2 hektar. Selain menjual buah segar, mereka juga mengembangkan agrowisata. Warga bisa datang memetik anggur langsung dari pohon, sebuah pengalaman baru bagi masyarakat Palu yang sebelumnya lebih akrab dengan sawah dan kebun kelapa.
Penghasilan dari berkebun anggur dirasakan kelompok ini jauh melampaui pendapatan dari pekerjaan sebelumnya. Satu kebun bisa menghasilkan Rp25 juta sampai Rp50 juta sekali panen.
Kelompok Duyu Bangkit pun menjadi pionir teknik budidaya anggur di Palu. Mereka tak hanya berhasil membuat anggur berbuah dua kali setahun, hal yang langka, tapi juga mampu mengatur masa pembuahan di tiap lokasi agar panen bisa terjadi setiap bulan.
“Sekarang malah hampir setiap rumah di Kelurahan Duyu tanam anggur di halaman,” kata Sayfudin, Ketua Kelompok Anggur Duyu Bangkit.
Lebih dari sekadar ekonomi, Sayfudin bilang, kebun anggur menjadi ruang kebersamaan. Para petani berbagi hasil panen dengan tetangga lansia, membantu sesama yang kesulitan. Dari yang awalnya buruh bangunan dan pekerja serabutan, kini mereka punya identitas baru: petani anggur.
“Anggur ini bukan hanya buah, tapi lambang bahwa kami bisa bangkit dengan cara kami sendiri,” katanya.
Ekonomi Kolektif dan Identitas
Jika Mosinggani memilih bertahan di pesisir untuk merawat tradisi laut, Duyu Bangkit justru menanam identitas baru di perbukitan. Dua komunitas ini berbeda jalan, tapi punya benang merah yang sama: solidaritas dan ekonomi kolektif.
Di Mosinggani, perempuan menjadi motor penggerak dengan tabungan dan usaha kecil. Di Duyu, laki-laki muda dan kepala keluarga membangun kebun dengan kerja gotong royong. Sama-sama dimulai dari nol, sama-sama menolak menyerah pada keadaan.
Keduanya juga menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar soal rumah baru atau bantuan tunai. Yang lebih penting adalah bagaimana warga diberi ruang untuk menentukan arah hidup mereka sendiri, menjaga identitas, mengembangkan ekonomi lokal, dan membangun solidaritas yang kuat.
Meski telah meraih banyak capaian, jalan ke depan diakui kedua komunitas itu tidak selalu mulus.
Bagi Mosinggani, ancaman terbesar adalah perubahan iklim. Kenaikan muka air laut dan abrasi pesisir bisa kembali mengancam. Karena itu, mereka mulai berdiskusi tentang bagaimana menata ulang zona pesisir agar tetap aman.
Sementara itu, Duyu Bangkit menghadapi tantangan keterbatasan lahan. Semakin banyak warga ingin ikut menanam anggur, tetapi ruang yang tersedia tidak sebanding. Selain itu, tekanan alih fungsi lahan untuk pembangunan kota juga mulai terasa.
Kedua komunitas berharap pemerintah tidak sekadar melihat mereka sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai mitra pembangunan. Mereka ingin dukungan yang memperkuat inisiatif warga, bukan menggantikannya.
Mosinggani dan Duyu Bangkit adalah dua kisah kecil dari ribuan cerita pascabencana Palu. Namun kisah mereka menegaskan satu hal: dari reruntuhan bisa tumbuh kekuatan baru, bahkan dari puing-puing yang paling hancur sekalipun.



