SIGI, rindang.ID | Setelah enam tahun mendampingi warga Kabupaten Sigi sejak bencana gempa dan likuefaksi 2018, Adventist Development and Relief Agency (ADRA) resmi menutup fase kedua program Recovery of Agriculture and Food Security Affected by Earthquake (REAF II).
Penutupan ini menjadi momen reflektif atas berbagai capaian dalam upaya pemulihan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat, hasil kolaborasi antara ADRA Indonesia, Pemerintah Daerah Sigi, para petani, peternak, dan pelaku UMKM dalam membangun kembali masa depan pascabencana.
Program REAF II dijalankan oleh ADRA Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Canadian Foodgrains Bank (CFGB) melalui ADRA Canada. Program ini hadir merupakan wujud komitmen bersama untuk memperkuat ketahanan pangan, penghidupan berkelanjutan, dan pemberdayaan kelompok rentan di wilayah terdampak bencana.
Seremoni penutupan digelar di Kota Palu dan dihadiri oleh Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, perwakilan pemerintah daerah, petani, pelaku UMKM, serta mitra pelaksana.
Suasana acara terasa semakin semarak dengan hadirnya stan-stan pameran yang menampilkan beragam capaian program, mulai dari hasil pertanian, perkebunan kakao, peternakan, produk olahan UMKM, hingga dokumentasi kegiatan champion gender dan berbagai praktik baik lainnya.
Stan kakao menjadi salah satu yang menonjol, dengan tampilan bibit unggul hasil pembibitan di nurseri, buah dan biji kakao berkualitas hasil penerapan praktik sekolah lapang seperti pemangkasan dan sambung pucuk (grafting).
Wakil Bupati Sigi menyampaikan apresiasi atas semangat petani kakao dalam memperbaiki kualitas produksi secara mandiri dan konsisten. Ia menyebut hasil yang ditampilkan bukan hanya membanggakan, tetapi juga membuktikan bahwa petani lokal memiliki potensi besar jika didampingi secara tepat.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus meningkatkan dukungan yang sudah berjalan baik selama ini, agar pembinaan petani dan pengelolaan nurseri di Sigi semakin terarah, profesional, dan sesuai standar. Pemerintah berharap wilayah Sigi ke depan dapat menjadi pusat pembibitan kakao yang dikelola secara berkelanjutan dan menjadi rujukan bagi daerah lain.
Menanggapi pertanyaan petani saat kunjungan ke stan kakao, Wakil Bupati menegaskan bahwa dukungan dari pemerintah akan terus berlanjut. Ia menyampaikan bahwa apa yang telah diberikan selama ini akan ditingkatkan melalui pendampingan lebih terarah oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), khususnya Dinas Perkebunan.
“Kami akan terus tingkatkan dukungan yang sudah ada. Apa yang sudah kami mulai, akan kami lanjutkan dan perkuat melalui Dinas Perkebunan agar pengelolaan nurseri dan kualitas kakao kita semakin baik,” ujar Wakil Bupati saat berdialog dengan petani di lokasi pameran.
Dukungan yang berkelanjutan dari pemerintah menjadi harapan besar bagi para petani, agar upaya mereka dalam menjaga mutu dan keberlanjutan perkebunan kakao terus berkembang. Kolaborasi yang telah terjalin diharapkan menjadi fondasi kuat untuk memperkuat kemandirian masyarakat dan memperluas manfaat bagi lebih banyak petani di masa depan.
Dalam sambutannya, Mildred Pantouw, Sekretaris Eksekutif ADRA Indonesia, menegaskan pentingnya peran perempuan dalam proses pembangunan.
“Kami percaya perempuan adalah kunci perubahan. Lewat program ini, mereka bukan hanya penerima manfaat, tapi aktor pembangunan,” ujarnya.
Ketahanan yang Tumbuh Bersama
Program REAF II dimulai pada 2022 dan menjangkau empat desa terdampak, yaitu desa Jono Oge, Bangga, Omu, dan Tuva dengan menyasar lebih dari 750 keluarga. Fokus utama program adalah pada dua aspek: peningkatan ketersediaan pangan rumah tangga dan pemberdayaan perempuan sebagai agen perubahan.
Sebanyak 24 kelompok tani dengan 751 petani menerima pendampingan organisasi dan pelatihan teknis. Delapan kelompok diperkuat melalui pelatihan keuangan dan simpan-pinjam. Sebanyak 593 petani kini menerapkan praktik pertanian dan peternakan ramah iklim, sementara 53 agen pertanian dan 28 agen peternakan aktif berbagi pengetahuan ke komunitas mereka.
ADRA juga memberikan dukungan kepada 150 rumah tangga rentan melalui distribusi ternak dan pelatihan kewirausahaan kepada 80 calon pelaku usaha UMKM. Sebanyak 47 tokoh lokal telah dibina sebagai champion gender. Salah satu capaian penting lainnya adalah fasilitasi penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim (RAD API), menjadikan Sigi sebagai kabupaten pertama di Sulawesi Tengah yang memiliki dokumen ini secara kolaboratif.
Kisah Perubahan: Kakao dari Omu
Di Desa Omu, seorang petani bernama Hatta merasakan dampak signifikan dari program REAF II. Sebelumnya, kebun kakaonya terbengkalai. Situasi itu berubah setelah ia mengikuti sekolah lapang yang diselenggarakan ADRA melalui program REAF II, dimana ia belajar teknik pemangkasan, pengendalian hama, dan manajemen kebun.
“Dulu saya hanya panen 7 kilogram. Sekarang bisa 30 kilogram sekali panen, dua sampai tiga minggu sekali,” tuturnya.
Kini, Hatta tak hanya mengelola kebunnya sendiri, tetapi juga menjadi fasilitator desa yang membagikan ilmunya kepada petani lain—sebuah wujud nyata dari warisan pengetahuan berkelanjutan yang ditanamkan ADRA.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Sigi menyampaikan apresiasi atas kontribusi ADRA yang dinilai strategis dalam pemulihan pascabencana dan pembangunan berkelanjutan.
“ADRA hadir bukan hanya dengan bantuan, tetapi dengan ilmu dan semangat kolaborasi. Mereka adalah mitra strategis kami,” ujar Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ADRA sejalan dengan prioritas nasional dan misi daerah dalam membangun ekonomi inklusif dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Pemerintah bahkan mencatat kontribusi ADRA secara resmi dalam laporan keuangan daerah, dan pertanggungjawaban kepada DPRD dan publik.



