Novita menjahit pesanan di rumahnya di Jalan Merpati, Kota Palu. (Foto: Heri/rindang.ID)

Mesin Jahit dan Semangat Kartini yang Hidup dalam Perjuangan Perempuan Disabilitas di Palu

PALU, rindang.ID | Gang sempit di Jalan Merpati, Kota Palu dan mesin jahit menjadi saksi ketekunan Novita Yusuf (45 th), seorang perempuan disabilitas yang menapaki jalan panjang menuju kemandirian.

Di momen peringatan Hari Kartini, kisahnya Novita adalah cerminan semangat Kartini yang masih hidup salam ragam perjuangan perempuan masa kini.

Sebagai anggota Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Novita sebelumnya hanya mengandalkan jasa permak pakaian. Ia memperbaiki baju sekolah atau celana dengan penghasilan yang tidak menentu, bahkan sering kali tidak ada pelanggan dalam sehari.

“Dulu kami hanya menunggu orang datang. Kalau tidak ada, ya tidak ada pemasukan,” begitu dia menggambarkan kondisinya dulu.

Perubahan mulai terjadi ketika PT Citra Palu Minerals (CPM) mendatangi sekretariat HWDI dan menawarkan kerja sama. Melalui program tersebut, Novita bersama tiga penjahit lainnya mulai mengerjakan pesanan kantung sampel dalam jumlah besar, bahkan bisa mencapai ratusan hingga 500 picis dalam satu kali produksi.

Pekerjaan ini dilakukan secara kolektif di bawah koordinasi organisasi, membuka ruang kerja yang lebih terstruktur sekaligus menghadirkan kepastian penghasilan.

Dampaknya terasa signifikan. Dari pekerjaan borongan tersebut, Novita mampu memperoleh pendapatan yang lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Bahkan, ia pernah menabung hingga hampir Rp2 juta dari hasil pesanan yang belum diambil, karena kebutuhan sehari-hari masih bisa ditopang dari pekerjaan permak.

Tak hanya itu, dukungan tambahan berupa modal usaha sebesar Rp2 juta turut memperkuat usaha mereka. Bantuan ini menjadi pijakan penting untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperluas peluang usaha.

“Sekarang kami tidak hanya bekerja, tapi juga merasa lebih mandiri dan dihargai,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Meski demikian, tantangan masih ada. Keterbatasan bahan baku di Palu membuat mereka harus memesan kain dari Makassar agar lebih terjangkau. Selain itu, mereka berharap adanya keberlanjutan pesanan serta pelatihan keterampilan lain seperti tata boga untuk membuka peluang usaha baru.

Menanggapi hal tersebut, Superintendent Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM-CSR) PT Citra Palu Minerals, Rahyunita Handayani, menjelaskan bahwa perusahaan berupaya membangun pendekatan pemberdayaan yang berkelanjutan bagi kelompok disabilitas.

Menurutnya, CPM tidak sekadar memberikan bantuan, tetapi juga mengintegrasikan para penjahit disabilitas ke dalam rantai pasok perusahaan sebagai penyedia kantung sampel untuk kebutuhan operasional.

“Dengan cara ini, mereka memiliki peran strategis sebagai mitra kerja profesional, bukan sekadar penerima bantuan,” jelas Rahyunita.

Ia menambahkan, proyek borongan dalam jumlah besar sengaja dirancang untuk memberikan stabilitas penghasilan yang lebih baik. Selain itu, dukungan modal usaha juga diberikan untuk memperkuat kapasitas ekonomi mandiri para penjahit di luar pekerjaan dari perusahaan.

Lebih jauh, CPM menempatkan pemberdayaan ini sebagai bagian dari upaya mendorong inklusi sosial, agar kelompok disabilitas dapat berdaya dan memiliki ruang produktif di masyarakat.

Berkat dukungan itu, Novita dan perempuan HWDI Sulteng kini merasa tidak sendiri menghadapi keterbatasan yang ada. Bahkan mereka menjadi lebih kuat membangun komunitasnya melalui kolaborasi pemberdayaan ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top