Utama

Sebelum 2018, Teluk Palu adalah ruang hidup yang dinamis—permukiman berpadu dengan pantai, anak-anak bermain di pasir, dan aroma jagung bakar menyambut siapa saja yang datang. Kini, banyak dari pemandangan ini telah hilang, digantikan oleh zona kosong dan infrastruktur baru. (©rindang.ID/bmz)
Serampai, Utama

Teluk yang Berubah: Menakar Kondisi Pesisir Palu Pascatsunami

Enam tahun setelah gelombang besar melanda, Teluk Palu tidak lagi sama. Air laut makin keruh, garis pantai bergeser, dan bau limbah kerap tercium di pagi hari. Di beberapa titik, tumpukan sampah plastik mengambang di antara ombak kecil. Revitalisasi pesisir memang berjalan, tapi di sisi lain, kerusakan lingkungan seperti tumbuh diam-diam di balik tembok proyek.

, , , , ,
Foto udara bentangan bantaran sungai yang terus melebar akibat abrasi di antara Kelurahan Pengawu Palu dan Desa Balane Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (23/8/2025). (rindang.ID/bmz)
Serampai, Utama

Degradasi DAS Palu: Ketika Hutan Berganti Ladang, Banjir Pun Datang

Hujan deras yang mengguyur Kota Palu selama lima jam pada 25 April 2025 silam memicu banjir bandang di enam titik sekaligus. Air Sungai Palu meluap, menyeret dua rumah dan merusak empat kos-kosan di wilayah Mantikulore, Palu Barat, dan Ulujadi. Ratusan warga terdampak. Bahkan, Rumah Sakit Undata sempat terendam.

, , , , , , ,
Inspirasi, Komunitas, Utama

Kisah Kelompok Perempuan Talise Melawan 15 Ton Timbulan Sampah Plastik Sehari di Palu

Kesadaran kolektif ini muncul di tengah situasi yang mendesak. Timbulan sampah plastik sekali pakai di Kota Palu berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Palu terbilang besar bahkan mencapai 10 persen dari total timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 150 ton.

, , , , , ,
Sekkot Palu Irmayanti menanam pohon di Huntap Tondo. Foto: rindang.ID/bmz
Serampai, Utama

Kota Palu di Persimpangan Kritis: Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Masyarakat

Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sudah dirasakan masyarakat Kota Palu saat ini. Peningkatan suhu udara, fluktuasi curah hujan ekstrem, dan tekanan terhadap kualitas lingkungan menciptakan risiko kesehatan yang semakin nyata, terutama bagi masyarakat di pemukiman padat dan kawasan industri.

, , , , , , , , ,
Ketua Kemunitas Historia Sulteng, Anto Herianto (kiri) memandu peserta walking tour di bantaran SUngai Palu, Senin (29/9/2025). (© rindang.ID/bmz)
Inspirasi, Komunitas, Utama

Menyusuri Jejak Sejarah: Walking Tour di Bantaran Sungai Palu

Senja Senin mulai merayap ketika puluhan anak muda berkumpul di Ruang Terbuka Hijau Kalikoa. Kawasan kuliner bantaran Sungai Palu itu ramai seperti biasa, tapi kelompok ini punya agenda berbeda. Mereka bukan datang untuk menikmati gorengan dan kopi sore. Sepatu kets terikat rapat, botol minum siap di tangan, dan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Ini adalah walking tour—sebuah pelayaran kaki menyusuri jejak sejarah Kota Palu yang hampir terlupakan.

, , , ,
Foto udara bentangan pesisir Palu-Donggala, 25 Mei 2010. (© bmzIMAGES/basri marzuki)
Serampai, Utama

Luka Menganga Bentangan Pesisir Palu-Donggala: Eksploitasi Galian C yang Mengancam Teluk Palu

Kabut tipis masih menyelimuti Teluk Palu yang dulu dikenal sebagai salah satu teluk terindah. Namun kini pemandangan yang menyambut mata bukan lagi hamparan biru yang menenangkan. Suara alat berat membelah ketenangan, dan deretan truk pengangkut material hilir mudik sepanjang pesisir yang dulunya menjadi kebanggaan Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.

, , , ,
Scroll to Top