Sulteng dalam Kaleidoskop Cuaca-Iklim 2025: Panas Membakar Palu, Hujan Tak Beranjak dari Gimpu
Ini juga menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana global yang jauh, melainkan realitas yang hadir di halaman rumah kita.
Ini juga menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi wacana global yang jauh, melainkan realitas yang hadir di halaman rumah kita.
Kerusakan habitat di Teluk Palu tidak hanya berdampak lokal. Berbagai studi menunjukkan bahwa hilangnya lokasi singgah (stopover) berkorelasi langsung dengan penurunan populasi burung migran secara global. Tekanan yang terjadi di satu titik jalur terbang dapat memicu efek berantai di sepanjang flyway.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah mata air Uwentumbu, yang menurut Arman berada di bawah tekanan langsung dari aktivitas tambang di sekitarnya.
Sepanjang tahun 2025, kualitas udara di Kota Palu mengalami dinamika yang cukup tajam. Pemantauan partikel polutan di udara yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri menunjukkan adanya periode udara sangat tercemar, namun juga hari-hari dengan kualitas udara yang sangat bersih
Terhadap IUP yang telah ada, pemerintah berencana melakukan penciutan luasan hingga 40 persen. Bahkan, kemungkinan besar tidak akan ada lagi penerbitan IUP baru di Kota Palu, khususnya di sepanjang poros Palu–Banawa.
Angka 4 persen menjadi gambaran ironis dari ketimpangan pengelolaan hutan di Indonesia. Dari total 120,4 juta hektare kawasan hutan, masyarakat hanya mengelola sekitar 4 persen, sementara pemerintah menguasai 65 persen dan swasta mengelola 25 persen.
Puluhan anak muda, mayoritas Generasi Z, berkumpul, bukan sekadar bersua, tetapi membicarakan masa depan kota yang mereka tinggali.
Penebangan pohon di Jalan M. Yamin Palu memantik duka dan protes warga. Sejumlah pegiat lingkungan bahkan menyebut, ini bukan sekadar hilangnya pohon, tetapi “pembunuhan” terhadap saksi bisu kota yang telah memberikan kehidupan
Di tengah hiruk pikuk pembangunan yang terus bergulir di Sulawesi Tengah, sekelompok pegiat lingkungan hidup memilih untuk berdiri bersama. Mereka mendeklarasikan Aliansi Pegiat Lingkungan Hidup (AHLI) Sulawesi Tengah, sebuah wadah kolaborasi yang lahir dari keprihatinan mendalam akan nasib alam dan masyarakat yang kian terancam.
Di SMP Negeri 9 Palu, momen penerimaan rapor kali ini terasa berbeda. Melalui Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), para ayah diajak terlibat langsung dalam proses pendidikan anak.