Sulawesi Tengah Siapkan REDD+ yang Inklusif untuk Dukung Target NDC Nasional
GEDSI menjadi instrumen penting dalam menganalisis berbagai tantangan maupun peluang pengelolaan hutan dan lahan di Sulawesi Tengah.
GEDSI menjadi instrumen penting dalam menganalisis berbagai tantangan maupun peluang pengelolaan hutan dan lahan di Sulawesi Tengah.
Dengan dorongan menuju kawasan ekowisata, Hutan Ranjuri diharapkan tetap menjadi paru-paru Desa Beka, laboratorium alam bagi ilmu pengetahuan, benteng mitigasi bencana, dan sumber kesejahteraan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kenaikan emisi tersebut beriringan dengan tren peningkatan suhu udara. Berdasarkan catatan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, data historis 1976–2020 di Kota Palu, suhu rata-rata meningkat sekitar 0,0252 derajat Celsius setiap tahun.
Dalam beberapa tahun terakhir, wajah kejahatan kehutanan semakin rumit dengan melibatkan pertambangan emas tanpa izin (PETI), perambahan kawasan, perdagangan satwa liar, hingga praktik pemalsuan dokumen dan dugaan pencucian uang.
Hak anak juga berarti memastikan laut tetap menghasilkan ikan yang aman dikonsumsi, tanah tetap subur untuk ditanami, udara tetap bersih untuk dihirup, dan anak-anak masih memiliki ruang untuk mengenal alamnya sendiri.
Menariknya, lahan yang kini menjadi kebun produktif tersebut sebelumnya merupakan lahan terbengkalai yang kerap dijadikan tempat pembuangan sampah sehingga terlihat kumuh.
Sulawesi Tengah kini bahkan dikategorikan sebagai salah satu provinsi dengan pola kerawanan karhutla baru.
Melalui forum ini, para peserta sepakat bahwa penguatan kapasitas masyarakat dan aparatur, serta kolaborasi lintas daerah dan lintas sektor, menjadi kunci dalam membangun ketangguhan bencana dan adaptasi perubahan iklim di lanskap Palu, Sigi, dan Donggala.
Menjaga hutan seluas lebih dari 4,2 juta hektare di Sulawesi Tengah tidak mungkin hanya dibebankan kepada satu lembaga. Kompleksitas ancaman membuat perlindungan hutan membutuhkan kerja bersama berbagai pihak.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menyambut peringatan Hari Bhayangkara ke-80 tahun 2026 sekaligus upaya mendukung pelestarian ekosistem pesisir di Teluk Palu.