Karhutla Parimo Tak Hanya Karena Cuaca, Enam Titik Api Dipicu Manusia
Kebakaran tersebut umumnya bermula dari pembakaran rumput di kebun, pembakaran sampah, serta aktivitas lain yang memantik api di tengah kondisi cuaca kering.
Kebakaran tersebut umumnya bermula dari pembakaran rumput di kebun, pembakaran sampah, serta aktivitas lain yang memantik api di tengah kondisi cuaca kering.
PARIGI MOUTONG, rindang.ID | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sejak Minggu (31/1/2026), api muncul
Katanya, saling berbagi cerita dapat membuat masalah yang tadinya kusut bisa jadi lebih terstruktur, perasaan lebih lega dan napas lebih longgar. Dan di momen Temu Wicara Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Palu berkelanjutan di Desa Pulu, semangat itu muncul.
Sejumlah kemasan makanan dan minuman bertuliskan huruf asing yang diduga berasal dari China ikut terkumpul. Di antaranya botol minuman susu kalsium, plastik kemasan air mineral, hingga bungkus makanan instan.
Sungai dan pegunungan yang rapuh menjadi bagian dari lanskap Dolo Selatan. Bencana yang kerap terjadi memunculkan satu kesadaran bersama di tengah warga; banjir adalah keniscayaan yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan.
Keberadaan situs ini memberi kesempatan bagi generasi yang tidak mengalami langsung tsunami untuk belajar dari ruang nyata, sehingga memupuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana alam di masa mendatang.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari diskusi sebelumnya antara Pemerintah Kota Palu dan Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) KLH RI. Salah satu topik yang kembali mengemuka ialah rencana kerja sama pengolahan sampah dengan investor asal Jepang, yang digadang-gadang membawa pendekatan teknologi dan sistem yang lebih berkelanjutan.
Memahami dinamika cuaca dan iklim yang memengaruhi Teluk Palu menjadi modal penting untuk merumuskan kebijakan penanganan sampah pesisir. Pembersihan mungkin akan terus menjadi rutinitas, tetapi pengurangan volume, itulah pekerjaan yang seharusnya dimulai dari hulu, dari darat, dan dari kita sendiri.
Sore itu, beberapa pemancing duduk santai di atas tanggul batu gajah, melempar kailnya ke arah teluk. Di belakangnya, tumpukan sampah plastik berwarna-warni memenuhi celah-celah bebatuan besar. Botol minuman, styrofoam bekas wadah makanan, hingga potongan kayu berserakan tanpa tersisa ruang kosong. Pemandangan ini bukan lagi hal asing di muara Sungai Palu, dekat oprit bekas Jembatan Palu IV, yang kini menjadi saksi bisu persoalan lingkungan yang terus menggunung.
Di Kelurahan Lere, oprit itu masih berdiri. Ia tak lagi berfungsi, tapi justru karena itulah keberadaannya kini berada di persimpangan nasib; dipertahankan atau dibongkar.