Lahan kebun warga terbakar di Parigi Moutong. (Foto: BPBD Sulteng)

Karhutla Parimo Tak Hanya Karena Cuaca, Enam Titik Api Dipicu Manusia

PARIGI MOUTONG, rindang.ID | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terus meluas sejak terjadi pada 31 Januari 2026.

Hingga Selasa (3/2/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah mencatat 17 titik api tersebar di tujuh kecamatan, dengan sebagian di antaranya dipicu oleh aktivitas manusia.

Tujuh kecamatan tersebut meliputi Parigi Barat, Parigi Tengah, Parigi, Parigi Utara, Parigi Selatan, Tinombo, dan Sidoan. Setiap titik kebakaran rata-rata berdampak pada lahan seluas sekitar satu hektare.

Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Asbudianto, mengatakan total luas lahan yang terdampak karhutla di wilayah Parigi Moutong saat ini mencapai sekitar 20 hektare.

“Sampai sekarang ada sekitar 20 hektare yang terdampak karhutla di Parimo,” kata Asbudianto, Selasa (3/2/2026).

Hasil asesmen BPBD Sulawesi Tengah menunjukkan, dari 17 titik kebakaran yang teridentifikasi, enam di antaranya dipicu atau diawali oleh aktivitas warga. Kebakaran tersebut umumnya bermula dari pembakaran rumput di kebun, pembakaran sampah, serta aktivitas lain yang memantik api di tengah kondisi cuaca kering.

“Dalam kondisi cuaca panas, api cepat membesar dan sulit dikendalikan,” ujar Asbudianto.

Ia menjelaskan, cuaca panas yang terjadi selama hampir satu bulan terakhir turut memperparah situasi.

Dalam kondisi tersebut, api yang awalnya kecil kerap berkembang menjadi kebakaran berskala lebih luas.

“Api sering kali tidak terkendali karena didukung cuaca kering dan angin, sehingga meluas ke area lain,” jelasnya.

BPBD Sulawesi Tengah bersama pemerintah daerah saat ini terus melakukan upaya penanganan, termasuk meningkatkan sosialisasi dan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran, baik di kebun maupun di sekitar permukiman, karena risikonya sangat besar,” kata Asbudianto.

Menurutnya, partisipasi masyarakat menjadi kunci penting dalam mencegah meluasnya karhutla, terutama di tengah ancaman kekeringan yang masih berlangsung.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top