Seruan Hijau di Tengah Suhu Panas Kota Palu, Kebijakan hingga Tindakan
Di tengah udara yang kering dan terik, pertanyaan besar muncul, ke mana arah kota ini akan bertumbuh; semakin panas, atau semakin hijau?
Di tengah udara yang kering dan terik, pertanyaan besar muncul, ke mana arah kota ini akan bertumbuh; semakin panas, atau semakin hijau?
Laporan Global Forest Resources Assessment 2025 (FRA 2025) yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dalam forum Global Forest Observations Initiative (GFOI) Plenary di Bali mengungkap bahwa laju deforestasi global telah menurun signifikan dalam dekade terakhir. Namun, tekanan terhadap ekosistem hutan tetap tinggi, terutama di negara-negara tropis seperti Indonesia.
Membangun resiliensi Kota Palu tak hanya soal memperkuat infrastruktur atau menata kembali ruang kota. Lebih dari itu, ketangguhan juga tumbuh dari bagaimana warga, terutama generasi muda menjadi bagian dari perubahan; berani bersuara, menulis, dan merekam kisah mereka sendiri.
Sikap pemerintah daerah itu dinilai sebagai bentuk penghalangan terhadap kerja jurnalistik dan pembatasan hak publik untuk memperoleh informasi.
Kota Palu kini menghadapi dua ancaman lingkungan yang saling terkait. Dalam setahun terakhir, kualitas tutupan lahan turun drastis, sementara tren kenaikan suhu terus terjadi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa ruang hijau bukan lagi pelengkap kota, melainkan penentu masa depan ekologisnya.
Hingga tahun 2023 tercatat terdapat empat daerah di Sulawesi Tengah yang pernah mengalami rekor kenaikan suhu. Perubahan iklim yang menuju krisis, nyata.
“Mosangulara Mombangu Ngapa.” Kalimat dalam Bahasa Kaili itu bergema di malam pembukaan Festival 1000 Baki Salama Talise Valangguni, Kamis (16/10/2025) malam. Artinya sederhana namun dalam: menyatu dalam hamparan baki. Inilah filosofi yang mendasari tradisi unik ini—sebuah pesta rakyat yang telah menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Talise Valangguni.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sejak 2021 produksi kopi di kabupaten ini relatif stabil, rata-rata mencapai 500 ribu ton per tahun, dengan luas lahan mencapai 3.106 hektare. Sebagian besar merupakan perkebunan rakyat yang tersebar di lima kecamatan.
Enam tahun setelah gelombang besar melanda, Teluk Palu tidak lagi sama. Air laut makin keruh, garis pantai bergeser, dan bau limbah kerap tercium di pagi hari. Di beberapa titik, tumpukan sampah plastik mengambang di antara ombak kecil. Revitalisasi pesisir memang berjalan, tapi di sisi lain, kerusakan lingkungan seperti tumbuh diam-diam di balik tembok proyek.
Pengukuran kualitas udara yang dilakukan Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri pada Sabtu (11/10/2025) mencatat, kadar PM10 sebesar 65 µg/m³ atau dalam kategori “Sedang”, sedangkan nilai PM2.5 tercatat mencapai 67 µg/m³ atau masuk kategori “Tidak Sehat”.