SIGI, rindang.ID | Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, mendukung pelaksanaan Program Kemitraan Wallacea III yang mendorong pengelolaan hutan desa secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
Dukungan tersebut disampaikan saat peluncuran program oleh Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah bersama Burung Indonesia di Aula Kantor Bupati Sigi, Senin (12/10/2026).
Program ini berfokus pada penguatan tata kelola dan ekonomi di Hutan Desa Tangkulowi seluas 3.000 hektare dan Hutan Desa Lonca seluas 685 hektare, Kecamatan Kulawi. Program tersebut akan berlangsung selama 18 bulan.
“Perhutanan sosial ini bukan soal pengembangan dan pengelolaan lingkungan, namun juga harus mempertimbangkan faktor manfaat berupa nilai ekonomi melalui skema bisnis,” ujar Rizal.
Ia mendorong peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu mengembangkan usaha berbasis potensi hutan. Salah satu peluang yang disorot ialah madu di Desa Lonca yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Rizal juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan dan mengembangkan sektor pertanian. Ia menyatakan, kebijakan pembangunan Sigi tetap diarahkan pada keberlanjutan sumber daya alam, termasuk melalui pembaruan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Direktur Perkumpulan Imunitas Sulawesi Tengah, Shadiq Maumbu, mengatakan program ini sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Sigi, khususnya pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, dan peningkatan kesejahteraan.
“Dukungan pemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah diperlukan agar potensi hutan desa dapat dikembangkan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” kata Shadiq.
Sementara itu Koordinator Program, Afdal Randalembah, menjelaskan Wallacea III dijalankan melalui empat pilar, yakni tata kelola kawasan, penguatan kelembagaan pengelola hutan desa dan kelompok usaha perhutanan sosial, pengembangan hasil hutan bukan kayu serta jasa lingkungan, dan konservasi berbasis masyarakat.
Sejumlah komoditas yang berpotensi dikembangkan meliputi madu hutan, damar, rotan, aren, bambu, kemiri, dan pandan hutan. Program menargetkan pengembangan dua produk hasil hutan bukan kayu yang terhubung dengan pasar serta perlindungan habitat prioritas seluas 300 hektare.
“Konservasi juga diarahkan pada perlindungan habitat satwa, antara lain perkici forsten, babirusa, yaki, rangkong, anoa, dan tarsius Lariang,” Afdal menjelaskan.
Dalam jangka panjang, Wallacea III menargetkan Hutan Desa Tangkulowi–Lonca menjadi kawasan yang lestari, dikelola secara adil dan berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekologis, ekonomi, dan sosial bagi masyarakat menuju 2030.



