Pelatihan master trainer budidaya agroforestri kakao-durian di Kecamatan Lindu yang digelar Karsa Institute bersama SNV, Rabu (14/10/2026). (Foto: rindang.ID)

Hadapi Perubahan Iklim, Petani Kakao Lindu Disiapkan Terapkan Agroforestri

SIGI, rindang.ID | Perubahan iklim menjadi tantangan bagi petani kakao di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Untuk membantu petani beradaptasi, Karsa Institute bersama SNV melalui Program SOLUSI melatih calon master trainer budidaya agroforestri kakao-durian berketahanan iklim.

Kegiatan yang berlangsung pada 13–14 Oktober 2026 di Gedung Serbaguna Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Lindu ini, bertujuan menyiapkan tenaga pelatih lokal yang nantinya mendampingi petani menerapkan praktik pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Pelatihan ini dirancang untuk membekali para master trainer dengan pengetahuan dan keterampilan sebelum mereka melatih petani kakao di wilayah Lindu.

“Para master trainer nantinya akan melatih petani kakao di Kecamatan Lindu agar dapat menerapkan pertanian berketahanan iklim dengan model agroforestri kakao-durian,” jelas Nirwan Sahiri, Trainer Karsa Institute.

Melalui model agroforestri, petani didorong mengembangkan kakao bersama tanaman durian dalam satu sistem kebun. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong praktik budidaya yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kemampuan petani menghadapi risiko perubahan iklim.

Kepala BPP Kecamatan Lindu, Marham, mengapresiasi inisiatif Program SOLUSI yang dilaksanakan Karsa Institute bersama SNV. Menurutnya, kegiatan ini penting bagi petani karena perubahan iklim telah memberikan dampak terhadap sektor pertanian, terutama komoditas kakao.

“Kami berharap pelatihan ini dapat membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengelola kebun di tengah perubahan kondisi iklim,” kata Marham.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan perubahan iklim, prinsip agroforestri kakao-durian, persiapan lahan, pembibitan dan penanaman, manajemen pemupukan, pengelolaan hama dan penyakit, hingga pemanenan dan pengolahan hasil.

Metode pembelajaran memadukan presentasi interaktif, diskusi partisipatif, praktik lapangan, simulasi fasilitasi, dan praktik mengajar. Pendekatan ini ditujukan agar peserta tidak hanya memahami teknik budidaya, tetapi juga mampu menyampaikan pengetahuan kepada petani secara efektif.

Setelah mengikuti pelatihan, para master trainer diharapkan melaksanakan pelatihan lanjutan dan memberikan pendampingan teknis kepada kelompok tani di wilayah masing-masing.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan perkebunan rakyat agar tetap produktif dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top